Nethanada➡03

7.9K 325 4
                                        

Nenek gombrengnya Nethan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nenek gombrengnya Nethan

***

Kringgg kringgg

Pagi yang indah bagi Nada yang masih menikmati tidurnya dibalik selimut tebal berwarna putih. Tangannya menjulur mencari alarm sial yang berhasil membangunkannya pagi ini. Merasa tak kunjung mendapat alarm yang terus berbunyi, Nada sedikit menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat dengan meja belajarnya. Hahh dapat!.

Bukkk!

"Aduhh, sakit!" Keluh Nada ketika tubuhnya baru saja jatuh dari kasurnya yang lumayan tinggi.

Semar-semar Nada membuka selimut yang masih menutupi wajahnya. "Jam bera--hahhh jam tujuh?!" Pekik Nada lalu segera melompat dari tempatnya.

Tissue basah, parfum, dan sedikit polesan bedak my baby. Sippp dia siap pergi ke sekolah. Nada menuruni tangga dengan tergesa-gesa, menimbulkan bunyi yang tidak enak didengar.

"Ma, pa aku berangkat dulu!" Pamit Nada yang masih sedang menuruni anak tangga terakhir.

"Kenapa bisa kesiangan?, semalam kamu bedagang?" Tanya Frans--papa Nada ketika Nada akan mengambil roti bakar.

Nada melotot, "enggak."

"Bilang saja kalo mau berhenti sekolah, biar kami tidak repot-repot keluarin uang" sambung Veni--mama Nada.

Tangan Nada yang tadinya ingin mengambil roti bakar untuk sarapan kini sebaliknya menarik tangannya kembali. Dia menatap Veni dengan tatapan senduh, "apa mama sebenci ini sama aku?"

"Saya tidak perlu jelaskan" Veni tidak menatap Nada sama sekali, Frans memegang tangan Nada membuat Nada beralih menatap Frans, "mendingan kamu pergi ke sekolah," ucap Frans lembut.

Dalam perjalanan Nada ke sekolah, Nada masih mengingat akan kalimat yang dilontarkan Veni padanya. Hati Nada sakit ketika mendengar perkataan itu. Tetapi Nada tau bahwa dia memang pantas untuk menerimanya. Ya, walau sakit.

"Ini mas, makasih" ucap Nada sambil memberikan selembar 20 ribu pada go-jek yang dia tumpangi.

Nada berjalan santai memasuki gerbang sekolah, sengaja dia berjalan santai karena Nada yakin dia sudah terlambat. Jadi buat apa dia harus buru-buru untuk sampai dikelas.

"Muka lo kayak baru dikencingin ayam tau nggak," cibir seseorang membuat Nada menatap orang tersebut. Nethan. Ya, Nethan kampret yang selalu merusak mood Nada.

Nada kembali mengalihkan tatapannya kedepan dan berjalan dengan raut wajah tanpa gairah. Nethan tentu saja baru pertama kali melihat pemandangan ini. "Lo kenapa sih?" Nethan kini berjalan berdampingan disamping Nada.

"Gue lagi nggak pengen berantem sama lo" ucap Nada datar.

Nethan mengedikkan bahunya tak peduli, "terserah. Gue juga mau cari adek lo."

Nada berhenti, kepalanya mendongkak, "kenapa adek gue?"

"Mau minta maaf" Nethan mengucapkan kalimat itu tak ikhlas.

"Kesambet apa lo tiba-tiba mau minta maaf?"

"Motor gue ditahan sama mami gue"

Nada kembali melangkahkan kakinya sambil tersenyum mengejek.

"Seneng kan lo motor gue ditahan" ketus Nethan.

"Itu tau." Ucap Nada sebelum akhirnya tiba didepan ruangan kelas mereka.

Nada mengetuk pintu kelas karena melihat pak Raka sudah sedang mengajar, pak Raka menoleh menatap Nada dan Nethan dari atas sampai di bawah. Kemudian pak Raka menggeleng pelan, "pakai seragam tidak ada yang bener, kerjanya berantem, datang sekolah terlambat. Kalian niat sekolah atau tidak?, mau langsung nikah saja?"

Nada menyergit ditempatnya, "eh pak, kok nikah?"

"Iya kalian cocok, sama-sama susah di atur."

"Saya sama dia?" Nada menatap Nethan lalu menggeleng cepat, "nggak pak, makasih." Bukan tentang tampang Nethan atau fisiknya yang membuat Nada amit-amit dengan Nethan. Tapi kelakuan Nethan yang selalu membuat tensi Nada bisa sampai 200. Kalau bicara tampang, Nethan sama sekali tidak diragukan lagi.

"Jangan baperan lo, siapa juga yang mau nikah sama lo. Ogah, mendingan gue sama monyet." Cibir Nethan.

Nada mendesis, "bacot lo!"

"Bacotan elo!"

"DIAMMM!" Tukas pak Raka sebelum semuanya berlanjut. "kalian saya hukum" ucap pak Raka lagi.

"Loh kok di hukum?"

"Kenapa?, mentang-mentang mama kamu kepala yayasan terus saya tidak berhak hukum kamu. Begitu?"

"Nah itu tau"

Pak Raka melotot, "apa?" Baru saja pak Raka ingin memukul Nethan dengan rotan tetapi Nethan sudah terlanjur berlari dengan menarik tangan Nada. "Woii! Lo apaan narik-narik gue?"

"Emang lo pengen dipukul ama rotan?"

Nada menengok ke belakang, disana ada pak raka yang masih mengejar mereka dengan rotan ditengah koridor.

"Tapi..gue capek" keluh Nada karena sedari tadi mereka tak berhenti berlari.

Nethan menatap kiri dan kanan, akhirnya Nethan menarik Nada masuk ke dalam gudang. Nethan menyandarkan punggung Nada di dinding dan dadanya kini berada tepat didepan kepala Nada. Mereka berdiri saling berhadapan. Gudang mini yang mereka masuki sangatlah tak mendukung untuk mereka berdua, ditambah barang-barang yang di taruh sembarang.

Nethan menaruh jari telunjuknya didepan mulut Nada dengan maksud diam. Nada tidak bisa bernafas. Sungguh. Bagaimana dia bisa bernafas dengan posisi seperti sekarang ini. Dengan jarak sedekat ini bahkan Nada rasanya dapat mendengar detak jantung Nethan.

Diluar terdengar suara pak Raka yang ngos-ngosan sepertinya dia kewalahan mencari Nethan dan Nada. Tak selang dua menit kemudian mereka tidak mendengar suara pak Raka lagi. Artinya pak Raka sudah pergi.
Nada menghembuskan nafasnya lega, akhirnya.

Nada mendongkak, mendapatkan Nethan yang kini tengah menatapnya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Bukkk!

"Aduhhh, setan lo!, nenek gombreng, sakit tau!" Nethan meringis ketika Nada sengaja menginjak kaki kanannya.

"Siapa suruh cari kesempatan dalam kesempitan!"

"Eh gombreng, jangan kepedean lo, bagian mana gue ambil kesempatan. Terima kasih juga enggak, fitnah gue iya." Ucap Nethan yang masih mengusap jari-jari kakinya.

"Tau ah!" Nada segera berlari meninggalkan Nethan. Pusing amat dengan kaki Nethan yang di injaknya tadi. Tetapi yang Nethan katakan tadi benar, seharusnya Nada berterima kasih karena setidaknya Nethan tidak membiarkan Nada ikut dipukuli oleh pak Raka.

***

Jumat, 27 juli 2018

Nethanada (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang