Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku jatuh padanya, pada setiap goresan luka yang mengundang perih.
***
Nethan berjalan dengan langkah kaki panjang. Tujuannya saat ini adalah kelas 10 ips 1. Tangannya benar-benar gatal untuk memukul cowok itu.
Belum sempat sepuluh menit dia berjalan kini dia sudah sampai dikelas tersebut. Kebetulan kelas dua belas dan kelas sepuluh hanya berjarak dekat.
Tangan Nethan terkepal, nafasnya memburu ketika melihat cowok yang ingin diterkamnya sedang berbincang dengan teman-temannya. Tanpa menunggu lama, Nethan segera masuk ke kelas itu dan menarik seragam cowok itu sehingga dasinya tercabut.
"BANGSAT LO!" Ucap Nethan lalu meninju pipi cowok itu.
Cowok itu tidak lain adalah Dafri.
Semua siswa didalam kelas langsung lari ketakutan, ada beberapa yang mengambil foto dan video.
"NGGAK ADA YANG PEGANG HAPE! KELUAR LO SEMUA!" Ancam Nethan sontak membuat kelas benar-benar kosong. Bukan hanya karena Nethan kakak kelas tetapi karena dia juga anak seorang kepala yayasan.
Dafri menyeka sedikit darah diujung bibirnya. "Apa maksud lo hah?!" Ujar Dafri tidak terima. Datang-datang langsung main pukul, memang dia pikir ini lomba tinju.
Nethan memasang raut wajah muak. "Halah nggak usah pura-pura lo! Semalam lo juga ikut nyiksa Nada kan?! Ngaku lo! Bangsat keluarga kayak gini!"
Alis Dafri terangkat, semalam Nada di siksa mamanya?. Pantas saja Dafri tidak melihat Nada tadi pagi ketika dia hendak berangkat ke sekolah.
Dafri menghela nafasnya dengan berat. "Kita gak bisa bicara disini." Ucap Dafri lalu melirik luar kelas dimana banyak siswa yang tengah mengintip mereka melalui jendela kelas.
Nethan mendengus. "Ikut gue." Ucapnya lalu berjalan keluar dari kelas dengan Dafri yang mengekor di belakangnya.
Mereka berjalan sampai ke lapangan basket indoor. Dafri duduknya di kursi penonton sedangkan Nethan duduk dengan jarak dua kursi dari Dafri. Sempat terjadi keheningan. Sampai akhirnya Dafri memilih untuk membuka mulut.
"Jadi lo udah tau kelakuan mama ke kak Nada?" Tanya Dafri tanpa menengok pada Nethan.
"Semalam gue datang ke rumah lo. Dan gue nemuin Nada terkapar di anak tangga paling bawah. Mama lo kurang asupan gizi? Atau dia ke bentur dinding?. Kelakuannya abnormal." Cibir Nethan.
Dafri tertawa kecut, "dia emang gitu dari dulu."
"Lo nggak marah gue bilang bilang mama lo abnormal?" Tanya Nethan ketika melihat respon Dafri yang dapat dikatakan biasa-biasa saja.