Flashback

5.5K 188 0
                                        

17 tahun lalu...

Seorang perempuan sedang meremas kuat kain putih yang membaluti kasur dimana dia berbaring.

"Ayo, bu, lebih kuat lagi" ucap bidan di sampingnya yang sedang menuntunnya untuk mengeluarkan seorang bayi yang sudah di kandungnya selama sembilan bulan.

"Hu..huh..saya gak kuat lagi.." ucap perempuan yang sudah di guyur dengan keringat itu.

Bidan berpakaian putih bersih itu berpindah ke kaki bawah perempuan yang tengah lemah itu, tangan satunya memegang lutut perempuan di depannya ini, sedangkan tangan satunya lagi bersiap menyambut bayi nan cantik.

"Ibu Veni pasti bisa, jangan menyerah, kepalanya sudah keluar bu. Ingat baik-baik, tekad ibu akan menyelamatkan bayi cantik ini." Ucap bidan itu membuat perempuan yang bernama Veni itu kembali bersemangat walaupun rasanya dia ingin mati saat ini.

Veni memejamkan matanya, dia menundukkan kepalanya, mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Bersamaan dengan itu, dia mengeluarkan seluruh tenanganya, tubuhnya langsung lemah dan lesuh ketika buah hati yang dia kandung selama sembilan bulan akhirnya lahir ke dunia dengan selamat.

Bidan yang menuntun Veni melahirkan pun tersenyum bahagia, dia mengangkat bayi itu pelan-pelan. "Ibu Veni, selamat untuk bayi cantiknya." Ucapnya antusias.

Samar-sama Veni juga ikut tersenyum, dia melihat bayi yang ada di tangan bidan itu. Veni tersenyum, rasa sakitnya seakan hilang ketika melihat anak pertamanya itu. Ya, tentu saja, itu adalah anak pertamanya dengan Fery. Fery, laki-laki yang dia cintai. Tetapi bodohnya Veni melakukan hal yang belum seharusnya dia lakukan.

Veni termenung di ranjangnya, Fery adalah laki-laki yang baik, tetapi mengapa Denail tidak merestui hubungan mereka.

Veni melirik jam di dinding, sudah jam sembilan pagi. Sebenarnya dilubuk hati paling dalam, Veni berharap kalau Fery akan datang menjenguknya, melihat buah hati mereka.

"Oh iya bu, anak ini mau kasih nama apa?" Tanya bidan membuat Veni terbangun dari lamunannya.

Veni sempat terdiam, dia memikirkan nama yang bagus untuk putrinya. Yang seharusnya Fery juga harus ikut untuk memberikan nama putri mereka.

"Nada Felicya" ucap Veni mantap.

"Wah bagus, cocok sama anaknya yang cantik. Matanya warna cokelat mudah. Pasti ikut papanya ya?" Ucap bidan yang justru menohok hati Veni.

Tetapi Veni mengangguk ramah, "iya"

***

Denail menatap laki-laki di depannya ini dengan geram. Sudah dari tadi dia mengusir laki-laki tersebut tetapi dia tetap saja berdiri di situ. Membuat Denail semakin murka.

"Saya bilang pergi kamu dari sini! Apa kamu tidak mendengar perkataan saya?!"

"Om, tolong beri saya kesempatan untuk bertemu dengan anak saya." Ucap laki-laki didepan Denail.

Denail tersenyum kecut. "Fery, dengarkan saya. Selama saya masih hidup, saya tidak akan pernah membiarkan kamu untuk bertemu dengan anak dan cucu saya! Jangankan itu, bahkan saya tidak akan membiarkan kamu menyebut cucu saya anak kamu! Camkan itu!" Bentak Denail pada laki-laki bernama Fery itu.

Fery berlutut di depan Denail. "Saya mohon, saya minta maaf karena telah berbuat kesalahan pada putri om, tetapi saya sangat mencintai putri om dan anak kami."

"Beraninya kamu mengatakan dia anak kamu?!"

"Saya akan bertanggung jawab, om. Tolong pertemukan saya dengan mereka."

Denail mengalihkan pandangannya dari Fery. "Tanggung jawab katamu?! Saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Karena kamu tau kenapa? Karena ayah kamu sudah menipu saya hingga perusahan saya hampir bangkrut! Sudah tau kamu?. Karena itu saya juga tidak bisa mempercayakan kamu untuk menjaga dan melindungi putri dan cucu saya. Jangan pernah berharap." Ucap Denail lalu masuk ke rumahnya, meninggalkan Fery yang masih termenung.

***

11 Agustus 2018


Jadi bingung mau bikin gimana endingnya..

Nethanada (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang