Nethanada➡08

6.3K 263 0
                                        

Kalo si kampret belum dapet motornya, dia bakal terus nyuruh gue jemput dia.
Setiap pagi gue bakal liat muka dia.
Dia bakal pake motor gue. Omaygat bisa lecet.
nggak nggak gue nggak bisa biarin ini terjadi!

Nada mengumpat dalam hatinya sambil memukul-mukuli pulpen ke meja.

"Nad?" Panggil Vania, "Nad!" Kini Vania memanggil dengan suara kencang.

"Ya?" Tanya Nada dengan Nada polos. Membuat Vania benar-bemar ingin menjewer temannya ini.

"Lo tadi kayak orang kesurupan tau nggak, bicara-bicara sendiri tapi nggak ada suara. Lo tuh kenapa sih?"

Nada menggeleng cepat, lalu tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya. "Nggak papa. Yuk ke kantin, gue laper."

Mereka pun berjalan keluar dari kelas. Dari koridor, Nada tak sengaja melihat mobil yang sudah tak asing lagi dimatanya. Mobil milik ketua yayasan sekolah ini. Alias mama Nethan. Ngomong-ngomong dimana Nethan?. Eh?

"Nad..oi..oi" panggil seseorang yang suaranya sangat Nada kenal. Nada teringat sesuatu, duhhh gue nyuri motor!. umpatnya dalam hati karena merasa telah berbuat sesuatu yang salah. Walaupun Nada kelakuannya suka sembarangan, tetapi Nada masih tau diri. Dia merasa tidak enak karena memakai motor Dafri tadi pagi tanpa ijin. Dan sekali lagi semua karena Nethan. Kalau saja Nethan tak menuyuruhnya untuk menjemput cowok kampret itu, Nada pasti sudah naik angkot seperti biasanya.

Bagi Nada tak apa-apa naik angkot, yang penting bisa sampai disekolah. Jika pada umumnya cewek yang berpenampilan obrak abrik seperti Nada menggunakan mobil pribadi ke sekolah, maka tidak dengan Nada.

"Nihh" Nada memberikan satu lembar seratus ribu pada Dafri yang kini sudah menghampirinya.

"Eh?" Vania bingung apa yang terjadi.

"Buat apa?" Dafri sendiri bingung melihat kakaknya yang tiba-tiba saja menyorkan uang kepadanya. Apa Nada lagi menang undian.

Nada menghela nafas, "tadi pagi gue pake motor lo tanpa ijin dan gue yakin lo datang sekolah pake grab, gojek or angkot. Gue nggak tau, ini anggap aja buat ganti ongkos lo tadi pagi." Cerocos Nada tapi tulus.

"Oh itu?, nggak sih biasa aja. Gue nggak marah dan gue tadi di antar sama papa." Dafri menatap uang yang masih dipegang Nada, "btw thanks." Dafri mengambil uang itu berjalan meninggalkan Nada dan Vania.

Nada menggeleng pelan, dasar mata duitan.

"Lucu juga ya adek lo itu." Ucap Vania dan sama sekali tidak disetujui oleh Nada.

"Lucu mananya."

"Iya lucu, katanya nggak papa lo pake motor punya dia, tapi duitnya malah di ambil. Wkwk sayang gue nggak punya adik ya."

"Bagusan nggak punya adik tau."

"Tapi sepi"

"Iya sih."

Vania dan Nada kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Sesampainya dikantin Nada menepuk jidatnya karena sadar akan satu hal. Kalau dia sudah tidak punya uang sebab sudah dia berikan tadi kepada Dafri. Vania sempat menertawai kepikunan yang dimiliki teman baiknya ini. Tetapi kemudian Nada dibuatnya tersenyum lebar karena mengatakan kalau dia akan mentraktir Nada. sesuatu yang gratis memang menyenangkan.

"Mba, gue pesen ketoprak." Ujar Vania pada mba yang dikantin. "Lo pesen apa Nad?"

"Sama"

"Emang ada menu sama?"

"Maksud gue sama kayak yang lo pesen."

"Oh. Ya udah ketoprak dua mba."

Nada memutar kedua bola matanya, kadang-kadang Vania tulalit. Tapi tetep sayang.
Mereka memilih tempat duduk yang tidak jauh dari pintu. Alasannya satu, karena hanya itu tempat duduk yang kosong.

Nethanada (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang