Padahal sudah masuk istirahat, tetapi Nethan belum melihat Nada sampai sekarang ini.
Dimana Nada?.
Pertanyaan itu selalu melayang dipikiran Nethan. Pasalnya dia merasa begitu cemas kalau Nada tidak ada bersamanya. Seperti ada sesuatu yang akan menimpa cewek itu.
Nethan mendengus untuk kesekian kalinya ketika menatap bangku Nada yang kosong. Nethan sudah menelepon cewek itu tetapi tidak di angkat berbeda dengan kejadian beberapa yang lalu dimana handphone Nada tidak aktif. Mengirim pesanpun Nethan sudah melakukannya, tetapi belum kunjung dibalas. Begiru juga tadi pagi, Nethan sudah menjemput Nada dirumahnya tetapi cewek itu tidak ada.
Padahal ini hari ulang tahun Nethan, harusnya dia merasakan kebahagiaan bukan kecemasan.
Nethan mengusap kepalanya frustasi. Lo kemana sih. Gumamnya dalam hati.
Vino yang tampaknya sudah menyadari kegelisahan yang dirasakan Nethan akhirnya menepuk pundak temannya itu. "Jangan senyum mulu lo, muka lo sekarang lebih jelek daripada foto monyet yang pernah lo kirim digrup." Ucap Vino sengaja menyindir Nethan dengan kata senyum karena Nethan yang sedari tadi hanya memasang muka datar.
Aji yang sebelumnya sedang menggoda Oliv, kali ini datang pada Nethan dan duduk dimeja cowok itu. "Ini kan hari ulang tahun lo, ya lo mikir yang positif-positif aja, misalnya nih, Nada lagi sibuk ngurusin suprise buat lo bentar." ucap Aji yang sebenarnya masuk akal juga.
"Tumben lo pinter Ji," Vino menimpali.
Tetapi tetap saja, selama Nethan belum mendengar suara Nada atau balasan sms dari cewek tersebut, Nethan belum bisa tenang.
"Gue gitu loh. Nah gimana kalo kita ke kantin aja, Than?. Gue yakin banyak cewek-cewek yang nunggu lo disana buat kasih kado." Ucap Aji lagi.
Bagi Aji, waktu istirahat berlaku jam berapa saja. Seperti saat ini, padahal jam istirahat sudah lewat. Tetapi Aji masih saja memanggil Nethan dan Vino untuk ke kantin. Anehnya walau Aji doyan makan tetapi badannya tetap kurus kering seperti cicak yang mati karena terjepit di pintu.
Nethan mendengus, dia sedang tidak ingin kemana-mana.
"Ayolah abang, kita ke kantin." Goda Aji sambil memukul lengan Nethan manja.
Nethan mengeluarkan uang seratus ribu dan menyodorkannya pada Aji dan Vino. "Lo berdua aja." Ucapnya datar.
Nethan lalu keluar dari kelasnya. Ada beberapa cewek yang menghalangi jalannya, memberinya ucapan dan ingin bersalaman, tetapi Nethan hanya tersenyum seadanya dan tidak merespon mereka dengan perkataan. Cowok itu hanya berjalan gontai menelusuri koridor.
Tatapannya terarah pada gerbang sekolah. Berharap dia akan melihat cewek yang berpakaian seragam serba ketat itu.
Disekolah, Nethan terkenal tidak pernah bicara dengan orang yang tidak dia kenal. Walaupun seantero sekolah tentu saja mengenalnya. Contohnya cewek-cewek yang menghadangnya tadi, dia tidak berbicara kepada mereka karena Nethan tidak mengenal satupun dari mereka.
"Kak Nethan,"
Panggil seseorang membuat Nethan spontan menoleh. Walau dia tau itu bukanlah Nada. Karena jelas sekali bahwa Nada tidak pernah memanggilnya seperti itu. Jika seseorang yang memanggilnya saat ini dengan penuh kelembutan, lain dengan Nada yang memanggilnya seakan ingin berkelahi. Tetapi itulah yang membuat Nada beda. Nada apa adanya, lucu, dan lincahnya kebangetan kadang sampai suka bikin malu. Tetapi berhasil membuat Nethan jatuh cinta. Berhasil membuat Nethan gelisah tak jelas, berhasil membuat Nethan, cowok pabrik cabe mengalah ketika melihat Nada mengerucutkan bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nethanada (Selesai)
Teen FictionNethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar. Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
