Nethanada➡23

5.2K 255 0
                                        

You can cry but the sad is not the reason to broken

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


You can cry but the sad is not the reason to broken.

***

Duduk dengan perasaan gelisah, Nethan sesekali mendengus menatap ke arah bangku Nada yang kosong. Perasaanya tidak tenang semenjak pagi tadi. Pasalnya cewek yang biasa melengket dengannya itu tidak datang ke sekolah.

Berbagai cara telah Nethan lakukan untuk menemukan cewek itu, tadi pagi Nethan datang dirumah Nada untuk menjemput cewek itu, tetapi tidak ada. Nethan juga sudah menelepon dan mengirim pesan kepada Nada tetapi nomornya tidak aktif dan pesannya belum kunjung dibalas.

Ada perasaan tidak tenang yang memenuhi hantinya sekarang. entah, dia mengkhawatirkan cewek itu.

Nethan mendengus untuk kesekian kalinya, membuat Vino yang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi menepuk pundak temannya itu. "Tenang, Nada tuh nggak kemana-mana, palingan ke salon." Ucap Vino mencoba menghibur.

Nethan tak merespon ucapan Vino, dia hanya menatap ke depan dengan tatapan datar, tak bergairah.

"Gue setuju sama Vino. lagian Nada nggak bakal kenapa-napa, dia tuh kuat, nggak inget dia pernah nonjok hidung lo?" Celetuk Aji kali ini.

"Gimana kalo ke kantin aja, gue laper." Ucap Aji lagi.

"Nggak!" Ketus Nethan.

Dia tidak lapar saat ini. Yang dia inginkan saat ini adalah bertemu dengan Nada.

Vino dan Aji menghela nafas, mereka tau Nethan sedang tidak ingin diganggu saat ini.

Aji menepuk pundak Nethan, "ya udah kita duluan. Dan muka lo, senyum dikit kali." Ucap Aji sembari menaruh jarinya di ujung bibir Nethan.

"Apaan." Protes Nethan sinis.

"Dihh yang lagi PMS aja kalah judes sama lo." Ucap lalu berlari keluar kelas, takut jika Nethan mengamuk.

"Gue ke kantin." Pamit Vino sebelum menghilang dari hadapan Nethan.

Nethan menghela nafas, dia lalu keluar dari kelasnya.

***

diam kamu akan melindungi opa kamu.

Ucapan Sarah masih terus tergiang dikepala Nada bahlam ketika cewek itu akan masuk ke rumahnya.

Baru saja dia ingin membuka pintu rumahnya, kini Veni sudah muncul dengan tatapan benci. Nada menghela nafas berat, "awas ma, Nada mau masuk." Ucap Nada kalem. Karena jujur saja dia sudah lelah saat ini. Dia lapar, dia ingin mandi dan ingin bertemu dengan Nethan.

Veni melipat kedua tangannya didepan dada.
"Masih berani kamu datang disini?, kemana aja kamu dari kemarin?, kamu mau jual diri kamu?." Lembut tapi menusuk.

"Aku baru abis ngurus nyawa seseorang!" Ucap Nada lantang. Membuat mata Veni melebar. Baru kali ini Nada berbicara kasar padanya.

"Begitu cara ngomong kamu kepada saya?! saya sekolahin kamu supaya jadi anak haram yang bermartabat!."

Nada menelan ludahnya dengan susah payah, terasa pahit ditenggorokan. Matanya mulai berkaca-kaca, kalau tidak ditahan mungkin air matanya sudah jatuh sejak tadi.

Tetapi Nada mengangkat kepalanya, memilih untuk tegar dengan semua ini.

"Aku anak haram! Kenapa mama mau nyekolahin aku segala?"

"Karena opa kamu yang maksa! Sejak kamu lahir, saya sudah membenci kamu! kelahiran kamu merusak masa depan saya. Gara-gara kamu lahir didunia ini, masa depan saya hancur, hilang, dan semua gara-gara kamu. dari dulu saya tidak sudi melihat wajah kamu yang selalu mengingatkan saya pada iblis itu."

Nada mendengus, "kalo begitu kenapa mama nggak bunuh aku aja."

"Opa kamu yang melarang!"

Nada memejamkam matanya, dia menghela nafas, berbicara tentang opa nya, Nada sama sekali tidak bisa memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang terjadi jika Nada masih menginginkan opa nya hidup.

"Kamu itu pembawa sial!"

Airmata Nada seketika jatuh, tetapi dia langsung menyekanya. "Kalo begitu bunuh aku, supaya mama nggak akan liat muka aku lagi!"

Nada segera menerobos Veni yang menghalangi jalannya. Baru saja dia ingin naik ke tangga, langkahnya terhenti karena melihat Frans yang sedang menatapnya teduh.

Nada kembali menyeka airmatanya dengan kasar, lalu berlari masuk ke kamarnya.

Nada membanting pintu kamarnya, dia melempar ranselnya didepan cermin, membuat cermin itu pecah. Nada menyandarkan punggungnya dipintu. Dia meramas kepalanya yang terasa akan pecah. Terlalu kepedihan yang dia tahan.

Dadanya naik turun, menciptakan bunyi nafas yang tidak teratur. Nada mengepal tangannya, memukul-mukul lantai yang sama sekali tidak bersalah. Setelah itu dia menarik kakinya, dia menunduk, menyandarkan dahinya disana. Tak sadar air matanya mulai berjatuhan, membasahi rok abu-abunya yang tidak dia ganti sejak kemarin.

Dia menangis tanpa isakan. Seluruh tubuhnya bergetar, dia memeluk dirinya sendiri. Dia hancur. Layaknya piring yang dipecahkan menjadi beberapa bagian.

"Kenpa gue di lahirin di dunia ini kalo cuma buat dibenci," ucap Nada lirih.

Nada tidak dapat merasakan tubuhnya lagi. Tubuhnya masih sakit karena dorongan Sarah kemarin, kakinya terasa pegal karena menendang-nendang pintu kemarin, dan tangannya terasa lemah karena memukul-mukul lantai.

Tidak ada alasan baginya untuk tersenyum saat ini, mungkin kalau Nethan ada dia bisa berpura-pura tersenyum.

***

Jumat, 03 agustus 2018

Nethanada (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang