Mata Nada menatap aneh layar handphone nya karena melihat panggilan telepon dari kontak seseorang yang sengaja dia tulis 'Si kampret'. Untuk apa Nethan meneleponnya pagi-pagi begini.
Nada mematikan panggilan telepon dari Nethan. Merasa tak penting. Tetapi tidak lama kemudian handphone nya kembali berbunyi. Nada meghela nafas sebelum akhirnya dia menempelkan handphone nya itu ke telinga.
"What?"
"Morning. Woi, jemput gue."
Dahi Nada berkerut. Apa dia tidak salah dengar?, apa telinganya memliki gangguan?, tetapi seingatnya dia baru membersihkan telinganya kemarin.
"Maksud elo?"
"Budek ya?, gue. bilang. jemput. gue. Sekarang." Ucap Nethan dari seberang telepon dengan penuh penekanan.
"Gue nggak bisa dan gue nggak mau!" Tolak Nada. Memang Nethan pikir dia siapa bisa seenaknya disuruh ini dan itu.
"Ini perintah dari majikan, inget kan?. Jadi babu itu yang nurut."
Nada mendengus, "nyebelin banget tau nggak sih lo!"
"Iya tau." Ujar Nethan diseberang telepon terdengar tanpa dosa.
"ngak bisa gitu lo pake gojek, grab, angkot, bus, atau pesawat jet gitu? Mama lo kan kepala yayasan, kok lo melarat gini?"
Nada dapat mendengar Nethan sedang tertawa renyah. Dan setelah itu, "GUE GINI KARENA ADEK LO GOMBRENG!" Nethan berteriak sehingga membuat Nada menjauhkan handphone nya dari telinga. Wat de fa---tiiiitttt. Nada menutupi mulutnya karena sadar bahwa dia hampir saja berucap kotor. Bebicara dengan Nethan membuat Nada berdosa saja. Sekasarnya-kasarnya Nada, dia sama sekali tidak pernah dan tidak ingin mengucapkan hal itu. Dia juga masih punya harga diri.
"Hallo? Woiii!" Teriak Nethan dari seberang telepon.
Nada kembali menempelkan handphone nya ke telinga.
"Ehh, lo saraf kali ya! Nggak usah pake teriak gue juga denger lo bicara."
"Serah lu. Gue kirim lokasinya."
Tlettttt.
Nada berdecak sebal. Merasa dipermainkan. Awas saja Nada akan balas dendam!.
***
Nada tiba dilokasi yang dikirimkan Nethan padanya. Rumahnya bagus, menurut Nada. Perpaduan warna abu-abu dan putih membuat mata Nada tak lepas memandangi rumah besar dan elegan itu.
"Woi" panggil Nethan.
"Gue punya nama" tukas Nada.
"Sini gue bawa motornya."
"Loh? Ini motor gue."
"Lo mau kemana? Ke sekolah kan? Ya udah sama aja."
"Ya nggak bisa gitu dong."
"Di bisain"
"Kampret ya emang"
"Bacot lo gombreng."
Nada menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian turun dari motornya dan membiarkan Nethan menaiki motor tersebut. Nada menaruh kedua tangannya didepan dada, menatap kepala Nethan yang membelakanginya, rambut Nethan sedikit basah, apa Nethan baru saja mandi?. Lupakan, lagian apa hubungannya dengan Nada.
"Lo mau tinggal disitu?"
"Ya enggak lah."
"Ya udah buruan naik." Ujar Nethan tak sabaran.
"Iya sabar kali."
Setelah Nada naik, Nethan segera melajukan motor melewati jalan raya. Mata Nada memandangi pinggiran jalan, terlihat seorang anak SD yang bersalam dengan ibunya. Sebuah senyum kecil terbentuk, Nada iri tapi dia harus belajar bersyukur.
Dalam perjalanan, mereka sama sekali tidak bicara. Keduanya masa bodoh yang penting sampai disekolah.
15 menit berada dalam keheningan menurut Nada cukup membuat dirinya tambah kesal pada Nethan. Nyatanya sekarang ini Nada dikerumuni siswa cewek yang kepo mengapa dirinya dan Nethan bisa datang ke sekolah bersama.
Ada yang bertanya 'lo berdua tinggal sama-sama?'
'Gimana ceritanya lo bisa sama Nethan?'
'Nethan lo kasih pelet ya?'
'Benci jadi cinta nih'
'Lo berdua pacaran?'
Kira-kira begitu pertanyaan yang dilontarkan pada Nada. Membuat telinga dada panas.
Untungnya Nada bertenaga kuda, jadi dengan gampang dia menerobos kerumunan itu dan berlari ke kelasnya.
Nada diduduk di bangkunya. Murid-murid sekelas menatapnya aneh dan ada yang tertawa.
Tawa Aji paling menonjol. "Rambut lo kenapa Nad? baru abis perang lo?" Tanya Aji yang sudah tau apa yang baru saja menimpa Nada. Dia hanya bohong. Hanya ingin memojokkan Nada.
Nethan menatap Nada tetapi kembali membuang muka. Aneh. Umpat Nada dalam hati.
Nada tidak mengambil pusing dengan tatapan teman-teman kelasnya. Dia mengambil kaca yang memang selalu dibawahnya ke sekolah dan mengatur rambutnya kembali. Rambut Nada yang panjangnya melewati dada membuat Nada sedikit rumit untuk mengaturnya. Untungnya ada Vania teman sebangku Nada yang sudah Nada anggap saudara sendiri.
"Tkank you" seru Nada ketika Vania sudah selesai mengatur rambut cewek itu. Nada berucap tulus, tersenyum, beda dengan Nada yang biasanya. Dan Nethan melihat semua itu, tanpa Nada sadari. Aneh, sikap dan raut wajah Nada berbeda dengan saat Nada berbicara dengan Nethan. Apa Nada berkepribadian ganda?.
Terlepas dari situ kini Nada berjalan ke meja Kanya, "nih" ucapnya sambil memberi selembar kertas. "Seharusnya ini bukan tanggung jawab gue" ujar Nada lagi lalu menyengir, "tapi boleh juga, gue yakin kalo lo yang ngatur lo bakal bikin gue satu kelompok sama dia."
Kanya tersenyum jail, dia tau siapa 'dia' yang Nada maksud. "Ya sekali-kali biar lo berdua nggak berantem mulu." Ucap Kanya lalu menerima kertas yang diberikan oleh Nada. Ya kertas dimana tercantum nama-nama anggota kelompok.
Nada berkedik ngeri membayangkan jika dia kembali disatu kelompokkan dengan Nethan, terakhir dia ingat, buku cetak IPS terbagi menjadi beberapa bagian. Bisa bangkrut sekolah kalau Nethan dan Nada satu kelompok lagi.
"Ya udah gue balik dulu" ucap Nada lalu di respon anggukan oleh Kanya. Kanya juga termasuk teman baik Nada, itu karena Kanya sekertaris kelas sedangkan Nada ketua kelas. Tak heran jika Nada dan Kanya juga kompak dalam mengatur kelas mereka. Walau Nada kadang suka 'bengkok-bengkok'.
***
Just writing, don't thinking about the other.
Jangan lupa vote ya guys :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Nethanada (Selesai)
Novela JuvenilNethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar. Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
