Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penampilan Nada pas jalan-jalan sama Nethan :)
***
Kini mereka sudah tiba di mall, sedari tadi Nada bertanya pada Nethan kemana mereka akan pergi tetapi Nethan tidak menjawab. Membuat Nada kesal saja. Nada bahkan heran, memangnya tidak ada tempat lain untuk mereka kunjungi selain mall?. Nada bosan, beberapa hari yang lalu juga mereka datang ke mall hanya karena ingin beli natesh.
Alis Nada bertaut ketika melihat Nethan yang menatap sinis ke arahnya.
"Kenapa liat-liat?, gue cantik kan?"
"Nggak. Gue heran kenapa lo hobi banget pake baju kekurangan kain."
Nada mengembuskan nafas dengan kasar, kemarin-kemarin Nethan mengatakan bahwa seragamnya belum kelar di jahit, lalu sekarang Nethan mengatakan kalau bajunya kekurangan kain. Masih ada lagi yang ingin dikomentar Nethan?
"Ohiya, kalung lo, kayak milik anjing tetangga sebelah." Komentar Nethan lagi.
Nada mengepal tangannya, rasanya kesabarannya ini sudah sampai di ambang batas. Bagaikan meteor yang sudah siap untuk jatuh ke bumi. Nada mencoba mengingatkan dirinya untuk tidak lagi membentak Nethan, siapa tau dengan begitu Nethan bisa jatuh hati padanya. Oke tunggu saat yang tepat Nada pasti akan membalas semua ini.
"Mau gue pake apa aja, lo nggak bisa pungkiri kalo gue itu emang cantik." Ucap Nada tersenyum bangga. Padahal Nethan bergidik ngeri ditempatnya.
"Idihhh, yang ada kayak ondel-ondel berjalan." Setelah mengatakan hal itu, Nethan segera berjalan masuk ke dalam mall.
Nada sempat berkacak pinggang, tetapi kemudian dia berjalan memeluk tangan Nethan.
"Lepas, dihh!" Protes Nethan, tetapi Nada hanya mengerucutkan bibirnya, "gue harum kok."
Emang siapa yang bilang lo gak harum?. Nethan berucap dalam hatinya.
Akhirnya Nethan membiarkan Nada memeluk tangannya. Mereka berjalan menuju rak dimana ada barang-barang untuk menulis dan menggambar terpampang disana.
"Emang lo mau beli apa?" Tanya Nada pada Nethan.
"Kepo lo."
Nada menghela nafas lesu, "nanya doang."
"Pensil warna." Jawab Nethan.
"Buat apa?"
"Di pake makan." nada bicara Nethan sedikit ketus. Nada menggembungkan pipinya, seakan mengespresikan kebosanan. "Mau di pake menggambar, sayang." Ucap Nethan sambil mengusap-ngusap pucuk kepala Nada.