Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanya karena aku diam bukan berarti aku tidak mencintaimu.
***
Langkah mereka terhenti di ambang pintu kantin. Nethan masih merangkul pundak Nada, membuat Nada tentu saja bahagia. Senyumannya tidak pernah pudar dari tadi. Sedangkan Nethan celingak-celinguk ditempatnya karena memandangi seisi kantin yang tampak begitu ramai. Tidak juga sih, faktanya kantin memang ramai apalagi pada saat jam istirahat.
"Woii!" Panggil seseorang membuat Nethan dan Nada celingak-celinguk karena mencari asal suara tersebut.
"Woiii Nethanada!" Panggil orang itu lagi.
Nethan mengendus ketika melihat Aji dan Vino yang duduk di pojok kantin sambil melambai-lambaikan tangannya. Ternyata mereka tersangkanya.
Nethan segera berjalan menuju meja pojok kantin tentu saja masih dengan merangkul Nada disampingnya.
"Weitsss pamer nih!" Ucap Aji seakan tidak terima, "yang dulunya benci-bencian, sekarang cinta-cintaan." Seru Aji lagi seakan meledek.
Nada berkacak pinggang, "emang kenapa? lo sirik?" Baru saja Nada ingin melempar sepatunya pada Aji, Nethan sudah menahan Nada. "Ini dikantin." Nethan memperingatkan.
"Emang. Terus kenapa? lo maunya dikamar?." Tanya Nada ketus.
"Yahh gimana sih pak bos sama mak bos, gue tuhhh becanda doang, lo berdua jangan marah-marahan ah, nggak seru. Tapi kalo dikamar gue ikut ya." Ucap Aji menggoda.
Vino menggeleng pelan, "pikiran lo Ji, lebih kotor dari tong sampah."
Aji menyengir, "Hehe, abege labil."
Nada menghela nafas, "gue nggak marah kok."
Nethan mengedikkan bahunya acuh, "ya udah pake lagi sepatunya, bau."
Nada berkacak pinggang, mulut Nethan memang tidak pernah berubah dari dulu. Dari mereka musuhan sampai sekarang ini, Nethan tidak bisa membedakan berbicara dengan musuh dan berbicara dengan pacar sendiri.
"Nyebelin!" Nada lalu mencubit lengan Nethan.
"Apa sih." Ketus Nethan sambil mengelus bekas cubitan Nada yang terasa pedis.
Vino melempar Nethan dengan sendok sehingga mengenai ujung jari cowok itu. Nethan memandang ke arah Vino. "Kan bisa manggil. Nggak perlu aniaya gue." Protes Nethan pada Vino. Sedangkan Vino hanya menyengir ditempatnya.
Nethan mengambil sendok yang Vino lempar tadi, lalu melemparkannya kembali pada Vino. "Dapat." Ucap Vino ketika berhasil menangkap sendok tersebut.