Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading!
***
Xxxxx : simpen nomer gue.
Kening Nada berkerut ketika melihat pesan yang baru saja masuk di hanphonenya. Kenal juga kagak malah sembarang nyuruh.
"Kenapa Nad?" Tanya Vania ketika melihat kerutan di dahi Nada. "Nggak tau nih nomer nyasar. Orang-orang jaman sekarang kurang kerjaan, heran gue."
Vania mengangguk paham, kemudian dia teringat sesuatu. "Oh iya Nad, tadi Nethan minta nomer lo."
Mata Nada melotot, "terus lo kasih?"
"Iya"
"Kenapa di kasih?"
"Kata dia demi kepentingan."
Nada mengendus, kemudian mengetik sesuatu di handphonenya.
Me : heh kampret! Siapa yang ngijinin lo buat ambil nomer gue? Emang nomer gue mau di apain?
Xxxxx: mau gue jual. Yah mau di save biar gue nggak susah-susah buat manggil lo. Nggak lupa kan kalo mulai sekarang gue itu majikan lo ;)
Me: lo pikir gue anjing? Sekalipun gue anjing gue nggak sudi punya majikan kayak lo. Camkan itu!
Xxxxx : gue nggak peduli ya gombreng, tapi lo adalah babu gue sampe kaki gue sembuh.
Me : lo itu kayak tai tau nggak!
Xxxxx : serah lu. 10 menit lagi gue mau latihan basket mendingan lo datang kemari dan bawain gue minuman yang seger-seger.
Me : kagak mau!
Xxxxx : gue lapor ke kepala sekolah ah.
Me : OTW BANGSAT
Nafas Nada memburu, beradu mulut dengan Nethan benar-benar akan membuat Nada hipertensi. Nada segera meninggalkan kelas dan menuju ke lapangan basket. Tak lupa dia singgah dikantin dan membeli floridina dingin. Setelah itu dia segera melanjutkan perjalananya. Dilihatnya Nethan yang sedang duduk sambil memutar bola basket dengan ujung jari telunjuk. Kebiasan.
"Nih!" Ketus Nada ketika menaruh sebotol floridina disamping Nethan dengan kasar.
Tangan Nada terkepal kuat tapi kemudian dia mengambil botol floridina itu dan berbalik meninggalkan Nethan yang sedang tertawa renyah. Lucu juga tuh cewek.
Tidak sampai sepuluh menit kini Nada kembali dengan membawa sebotol mizone. "Last!" Sergah Nada dengan gertakan botol yang dia taruh disamping Nethan.
Nethan menatap botol mizone itu, kemudian beralih memandangi Nada, "apa?" Protes Nada.
"Sayangnya gue pengen yang warna hijau bukan yang merah. Ganti!"
Rahang Nada mengeras. Menahan emosi yang sudah dia tahan dari tadi. "Kenapa nggak bilang kampret?!"
"Kenapa nggak nanya?" Timpal Nethan. "Itu kuku lo kenapa? Baru kelar ngupas wortel?"
"Gue pake kuteks warna kuning bego!" Omel Nada. Cakar muka orang dosa gak sih?
"Murahan."
Oke, kini Nada ingin menedang Nethan ke laut dan membiarkan hiu memakan tubuh Nethan.
"Apaan murahan?"
"Semua yang lo pake." Nethan menunjuk seragam Nada dari atas sampai bawah, "belum kelar di jahit udah dipake."
Mata Nada melotot ketika Nethan berkata begitu, "belum pernah liat mens di idung lo?"
Nethan menaikkan alisnya, "maksud lo?"
Bukkkk!
Nada tersenyum kemenangan. Tetapi Nethan terlihat biasa saja. Nethan justru malah menarik Nada menuju ke suatu tempat. Nada tentu saja panik, mau dibawa kemana dia sekarang ini.
"Woii gue mau dibawa kemana?, gue laporin lo ke polisi kalo macem-macem!." Nethan tidak mempedulikan aksi protes Nada, dia terus menarik tangan cewek itu dan menarik masuk ke UKS.
"Duduk disitu." Nada menatap Nethan heran, oh ternyata Nethan tidak membawa Nada kemana-mana. Syukurlah.
Nethan mengambil kotak P3K dan meletakkan kotak tersebut diatas paha Nada. "Berani berbuat, berani bertanggung jawab." Ucap Nethan yang kini sudah mengambil kursi dan duduk didepan Nada.
"Nggak mau! Lagian lo yang cari gara-gara duluan."
"Lo sekali aja mengalah dan akuin kesalahan bisa gak sih?" Jebbbb ajeeeb, tepat sasaran. Sebenarnya Nada sedikit tersanjung. Eh. Tersinggung. Nyatanya Nada salah karena telah membuat hidung Nethan bardarah walaupun semua itu karena Nada dibuat keaal oleh Nethan.
Nada berdeham pelan, oke dia salah tetapi Nethan juga salah!.
"Udah nyadar kan?" Tebak Nethan, "makanya ada hati dipake bukan cuma dipajang." Oke, makin hari mulut Nethan makin pedas.
"Lo ngomong sekali lagi nggak gue lanjutin nih." Ucap Nada ketika dia sudah mulai membersikan darah dihidung Nethan dengan kapas dan alkohol.
"Pelan-pelan" protes Nethan sekaligus saran.
"Ya udah diem aja bego." Ucap Nada sambil menekan lubang hidung Nethan, "aww sakit gombreng! makanya pake perasaan, baru juga di bilang." Nada mendesis risih, kalau bukan karena adanya sedikit rasa bersalah, Nada tak mungkin akan semenurut ini.