Nethanada➡11

5.5K 249 0
                                        

Hari sudah malam, Nada tak menyangka kalau pada akhirnya menemani Nethan membeli natesh ternyata bisa memakan waktu lama. Bukan karena mereka singgah ke tempat lain setelah keluar dari mall, tetapi karena mereka berdebat dan saling menolak untuk membayar di kasir. Alhasil Nada juga dibuat Nethan tambah kesal karena cowok itu lupa membawa dompet. Uang dua ratus ribu Nada melayang karena Nethan bukan hanya membeli natesh tetapi juga membeli cemilan. Yang akhirnya cemilan itu Nethan berikan pada Nada, katanya biar Nada betah menjadi babu Nethan. Padahal dibeli dengan uang Nada sendiri. Sama saja bohong.

Nada menghela nafas ketika melihat pintu depan rumahnya sudah tertutup. Tangannya memegang ganggang pintu dan mencoba membukanya, namun nihil karena pintu sudah dikunci dari dalam.

"Maa.." panggil Nada berharap mamanya akan datang membukakan pintu.

"Mama, Nada diluar. Bukain pintunya" seru Nada lagi.

"Ma-" ucapan Nada terhenti ketika Veni sudah membuka pintu. "Masih ingat pulang kamu?" nada Veni terdengar kasar, membuat Nada menatapnya nanar, selalu seperti ini.

"Nada abis dari rumah temen, bikin tugas." Ucap Nada berbohong.

"Pergi sekolah dengan penampilan pelacur begitu, masih ingat bikin tugas kamu?" Pertanyaan Veni terdengar seperti hinaan.

Nada menelan ludah, terasa pahit ketika dikerongkongan. Ya, Nada akui bahwa penampilannya bukan seperti siswa yang biasanya. Rok ketat yang berukuran empat jari diatas lutut dan kameja yang dapat dikatakan kecil ditubuhnya serta kancing bagian atas yang sengaja tidak dikunci olehnya, selain itu make up tipis yang terkesan natural yang Nada gunakan ke sekolah. Semua itu melanggar peraturan di sekolah. Tetapi senakal-nakalnya Nada, dia sama sekali tidak berniat menjadi pelacur yang memamerkan tubuhnya kepada orang-orang yang haus akan birahi.

"Nada bukan pelacur ma," suara Nada masih terdengar biasa, ya, dia tidak ingin kasar pada mamanya walaupun emosinya sudah memuncak.

"Iya tapi diri kamu bikin saya ingat sama iblis-iblis itu!" Nada suara Veni mulai meninggi.

"Ma!" Dada Nada mulai naik turun, emosinya tampak tak terkendalikan, darahnya serasa berhenti mengalir. Dia muak dengan semua ini.

"Pokoknya kamu jangan masuk. Kamu tidur di luar!" Veni kemudian menutup pintu.

Nada menyandarkan punggungnya dipintu, tangannya memukul dadanya yang terasa sesak. Jangan nangis Nad, lo kuat. Nada memperingatkan dirinya sendiri untuk bertahan, dia tidak tau sampai kapan ini akan terjadi. Sebenarnya Nada sudah terbiasa dengan semua ini, perlakuan tak adil yang diperlakukan oleh ibu kandungnya sendiri.

Nada menghela nafas berat, tidur diteras rumah bukanlah kali pertama baginya. Menatap benda-benda sekelilingnya, dilihatnya taplak meja yang berukuran cukup besar untuk menutupi tubuhnya agar tak kedinginan.

"Gue pinjam bentar dulu ya." ucapnya pada meja seakan-akan meja itu hidup.

Nada duduk dilantai, seingatnya Veni selalu menyapu rumah mereka tiga kali sehari. Layaknya memberi makan pada manusia. Jadi dia tidak perlu khawatir tentang kebersihan lantai yang akan dia jadikan tempat tidur malam ini. Baru saja dia ingin merebahkan dirinya di 'kasur' barunya itu, kini perutnya berbunyi, dia lupa kalau dirinya belum makan apa-apa sejak siang tadi.

Gue laper. Nada menatap kembali sekelilingnya, tidak ada yang dapat dia makan. Tidak mungkin jika Nada memakan bunga. Sama sekali tidak masuk akal. Nada memegang perutnya layaknya ibu hamil yang akan melahirkan karena sudah pecah air ketuban.

Otaknya terus berpikir, dia tidak ingin mati konyol seperti ini. Sama sekali tidak terhormat. Ah, dia ingat sesuatu.

Nada segera mengeluarkan satu plastik cemilan yang merupakan satu-satunya 'harapan untuk bertahan hidup'. Sepertinya dia tidak akan mati menahan lapar.

Ujung bibirnya terangkat keatas, membentuk senyuman. Berkat anak soleha memang tidak kemana-mana.

Nada menghamburkan makanan yang ada dalam plastik ke lantai. Matanya berbinar ketika melihat ada roti cokelat dan susu vanila disana. Kalau dipikir-pikir Nada harus berterima kasih kepada Nethan karena sudah membelikannya semua ini, walau logikanya Nada yang membeli semua itu, karena menggunakan uangnya sendiri. Tetapi tetap saja thankyou, kampret!. Eh, Nethan.

Cewek itu segera melahap rotinya, sesekali dia meneguk susu melalui sedotan. Nikmatnya. Dia tidak perlu bersusah-susah mencari makan dalam keadaan susah begini. Nada menatap pintu rumahnya, raut wajahnya yang gembira kini kembali menjadi datar. Ada beberapa hal yang membuatnya tidak menysukuri hidup ini, mengapa dia harus terlahir dikeluarga ini, misalnya.

Dari semua keluarga yang ada didunia, mengapa Tuhan tidak membiarkan dia terlahir dikeluarga seperti Taylor swift agar supaya dia bisa berbangga karena memiliki kakak terkenal. Atau Justin bieber, tetapi lebih baik jangan, karena Nada bisa saja berdosa karena menggebet kakanya sendiri. Nada melempar sampah susu dengan sembarang, sedangkan rotinya kini sudah ludes karena perutnya yang benar-benar kerocongan tadi.

Gue kenyang. Nada tersenyum bahagia, ada satu hal yang masih Nada syukuri, yaitu Tuhan masih membiarkannya hidup walau dia tidak pernah mendapatkan keadilan.

Nada megubah posisinya, yang tadinya sedikit berbaring, kini duduk tegap menatap ke arah langit. Tatapannya seakan menerawang bintang-bintang yang ada disana. Sangat banyak bintang. "bisa gak sih gue kayak lo, lo, semua?" Nada berbicara sendiri sambil menunjuk beberapa bintang yang dianggapnya paling terang.

Kemudian dia menghembuskan nafas, "yang bisa jadi terang walau ada kegelapan disekitar."

Kegiatan melihat bintang Nada terhenti ketika hanphonenya bergetar. Bukan tepelon tetapi pesan masuk. Nada segera merogoh ponselnya di saku rok dan membuka pesan tersebut.

Si kampret : lo mau nggak jadi pacar gue?

What?, apa dunia sudah kiamat sampai Nethan bisa kualat begini. Atau Nethan baru saja kecelakaan dan menderita amnesia. Atau, Nethan kesambet?, atau salah makan?. Segala pertanyaan dan dugaan sudah berkeliaran dipikiran Nada.

Nada mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian mengucek matanya, lalu menampar pipi kanan da kirinya secara bersamaan, aww sakit. Dia memastikan kalau ini bukan mimpi.
Setelah mengetahui itu bukan mimpi, Nada bergedik ngeri ditempatnya, amit-amit jadian dengan perusak mood itu.

Tetapi, tungguuuuu!

Bukankah ini adalah waktu yang tepat menjalankan misi?!.

***

Happy monday <3

Nethanada (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang