22

109 4 0
                                        

"selamat pagi Dav"
Sapa teman kelas Dava ketika ia memasuki ruang kelasnya.
Dava yang mendapat sapaan manis temannya membalas dengan senyum hangat.
"hai broo.
Pa kabar lu? " sapa maliq pada Dava.
"ohhh.... Lebay lu.
Pa kabar pala lu? "
Teriak Angga dan diikuti tawa mengejek milik teman-temannya.
Dava hanya tersenyum melihat sahabatnya yang sedang mengganggu Maliq.
Maliq yang diejek Angga mengomel banyak-banyak dengan bibirnya yang maju bersenti senti.
"abwang Angga jahad deh sama dede.  Dede ngambek ni. "
Ucap maliq, alay.
"anjer.  Enek gw lihat muka sok polos lo itu.
Udah kumisan juga loh"
Teriak kevin.
Angga mengangguk, menyetujui kata-kata Kevin.
Dava tidak mau ikut campur urusan gila temannya.
Ia duduk pojok sambil melipat tangannya diatas meja lalu membantali kepalanya dengan lipatan tangannya.

Tengah asik menenangkan otaknya yang masih terngiang-terngiang memikirkan si adik kelasnya.
Siapa lagi kalau bukan Rain.
"Dav, ada yang perlu tuh"
Ucap Angga pelan.
Dava mengangkat kepalanya dan terlihat ada adik kelas yang sedang berdiri menunduk didepan kelasnya.

Dava menghampiri adik kelasnya,
"ada apa? " tanya Dava.
Adik kelas yang beberapa minggu lalu memberitahukan soal pembullyan terhadap Rain itu tersenyum, lalu memberikan sebuah amplop biru.
"itu dari Rain kak, 
Dia gak datang sekolah.  Kata papanya,  dia sakit. "
Ucap gadis itu lalu pergi.
Dava melihat amplop itu.
Mendengar Rain sakit,  Niat belajar Dava langsung hilang.  Dava masuk kekelasnya lagi,  mengambil hpnya lalu keluar menuju rooftop sekolah.

Hallo kak,  saya cuman mau bilang makasih,  makasih buat makanan dari tante sandra kemarin.
Maaf gak bisa langsung kasih tau.
Lagi gak ke sekolah.
Lagi pengen istirahat.
Oh iya, nanti kita ke makam adik kaka boleh kan?
Kalau boleh chat ya,

Hujan.

Dava menghela nafasnya lelah.
Kenapa lagi gadis itu.
Ada apa?
Kenapa rasanya, sepi kalau ia tidak ada disisinya.
Ia menarik kursi yang sengaja di simpan di atap,  lalu duduk sambil mengelamun.
Memikirkan si gadis hujan,  yang sekarang menjadi orang pertama dalam pikirannya.

••••

"hai Dav,  buru-buru banget.
Mau kemana? "
Pertanyaan dari seseorang terpaksa membuat Dava berhenti sebentar.
Syifa?
"mau pulang aja.
Kenapa? "
Tanya Dava.
"ohh..  Gak kenapa-kenapa kok.  Cuman tanya.
Oh iya,  kita rumahnya searahkan?
Bisa numpang gak? "
Pinta Syifa.  Berharap Dava mau memberinya tumpangan.
"sorry sif,  gw beneran buru-buru. Mau ke kantor Papa dulu. "
Ucap Dava.
Lalu berbalik menjauh dari syifa.
Syifa hanya bisa menerima penolakan Dava dengan tarikan nafas sesak.

RAINATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang