10

4.4K 190 4
                                        

Cerita ini hanya fiksi belaka,
hanya karangan yang tercipta dari hayalan tinggi yang mengada-ngada. Harap bagi pembaca dapat mengerti dan memaklumi. Dan cerita ini hanya untuk manusia yang sudah seharusnya memiliki KTP.
...

Suara tawa cekikikan yang terdengar mengelikan dengan bumbu-bumbu malu-malu khas orang sedang jatuh cinta terdengar jelas oleh Jun yang baru saja menginjakan kaki keluar dari lift.

Dia baru saja sampai dikantornya, setelah menghabiskan waktu bercanda gurau dengan Bagas disepanjang perjalanan.

Jun melihat adiknya yang sedang tertawa dengan ponsel yang ia jepit dikupingnya dan tangannya sibuk mengecat kuku-kuku kakinya. Pemandangan pagi yang tidak biasa.

"woy" teriak Jun berhasil mengejutkan Anjeli, hingga ponsel yang ia apit diantara bahu dan telinganya terjatuh.

Jun tertawa ngakak, sungguh lucu melihat adiknya terkejut, Anjeli selalu memiliki ekspresi yang lucu saat dia terkejut.

Anjeli mendengus sembari meraih ponselnya yang terjatuh. "gue masih marah" ucapnya tanpa menoleh.

Iya, tentu saja Anjeli masih marah. Jun segera berlari kecil dan memeluk adik nya erat dari belakang. "mau eskrim?" bisik Jun lembut.

"gue bukan adek lo yang masih umur lima tahun" gerutu Anjeli.

"gimana kalau eskrim tambah coklat?" tawar Jun. Anjeli hanya menjawab dengan gelengan singkat.

"okay, kalau eskrim, coklat dan makan siang sepuasnya?" tawarnya lagi, pantang menyerah.

Anjeli segera melepaskan pelukan kakanya dan menatap kakak nya dengan wajah datar. "lo mau bikin gue gendut?"

Jun menyengir "iya deh, gue salah" Jun kembali memeluk adiknya kali ini dari depan. "gue minta maaf ya"

Anjeli pun mebalas pelukan kakaknya lalu berdehem pelan. "gue tunggu ya eskrim, coklat dan makan siangnya"

Jun mendengus "katanya gak mau"

"gue gak pernah bilang gak mau" Anjeli menjulurkan lidah mengejek.

"Dasar"

Dan mereka pun tertawa.

"Jadi tadi lo lagi telfonan sama siapa?" Jun menatap adiknya penasaran.

Anjeli menepuk jidat dan buru-buru mengambil ponselnya. Senyum Anjeli mengembang lebar saat melihat layar ponselnya masih menyala. "dia menunggu" ia pun memperlihatkan layar ponselnya pada Jun. "sweet banget gak sih?" Lalu Anjeli buru-buru menempelkan ponselnya kembali ke telinganya.

Jun hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh melihat kelakuan adiknya. "Pacar baru lagi?" tanyanya dengan suara rendah.

Anjeli hanya menyengir dan mengibas-ngibaskan tanganya, mengisyaratkan Jun untuk segera pergi.

Jun pun beranjak dari posisinya dan pergi keruangannya. Membiarkan adiknya bertelfon ria dengan mainan barunya.

Tapi Jun sedikit ragu, melihat kelakuan baru yang ditunjukan adiknya, membuat dia berfikir kalau yang ini bukanlah sekedar mainan.

#

Ringtone ponsel Jul berdering, ia menghentikan kegiatannya mengetik dan melihat layar ponselnya.

Mama.

Jun bergeming, gak mungkin dia terus mengabaikan telfon dari ibunya hanya karna takut ibunya tau apa yang ia rahasiakan. Dengan gerakan perlahan Jun megeser layar ponselnya dan meletakan ponselnya ketelinganya. Tapi sambungan terputus.

Mamahnya ngambek.

Jun tersenyum, ibunya secara tidak langsung meminta Jun menelfonya balik. Bukan karna tidak punya pulsa, tapi agar Jun tau jika ibunya sedang kesal padanya.

Jun pun segera menelfon ibunya, namun tidak ada jawaban. Bukan hanya kesal berati ibunya marah. Berati Jun harus pulang ke rumahnya menemui ibunya.

Rasa bersalah pun menyelimuti hati Jun. Tidak mengangkat pangilan ibunya adalah kesalahan, apalagi mengabaikan telfon ibunya selama seminggu, itu adalah dosa besar. Dia paling tidak bisa kalau mamahnya marah padanya, itu bisa membuat pikiranya kacau balau seperti sekarang.

Tok... tok

Kepala Anjeli menyembul dari balik pintu. Dia memerhatikan kakaknya yang sedang menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu.

Tanpa menunggu ucapan kakaknya untuk mepersilahkan masuk, Anjeli langsung saja masuk. "lo kelihatan..." Anjeli memerhatikan tampilan kakaknya hari ini. Hanya menggunakan kaos hitam polos dan celana jins hitam dengan robek tipis di bagian lutut dengan rambut dicepol berantakan. "gue heran kenapa lo bisa ngediriin perusahaan fasion"

Jun tak bergeming. Perasaanya jadi campur aduk. Ibunya marah padanya. Tentu saja marah, dia telah melakukan kesalahan besar.

Satu pertanyaan yang belum ia temukan dikepalanya adalah apa yang akan ia katakan nantinya pada ibunya. Tidak mungkin dia berkata jujur, dia telah melakukan dosa besar. Itu bisa aja membuat ibunya pingsan atau malah mencoreng namanya dari kartu keluarga.

Apa yang sedang dipikirkan oleh Jun tentu saja tidak diketahui oleh Anjeli. Anjeli sibuk memikirkan pakaian kakaknya yang tidak pantas untuk menyambut client penting. Pakaian itu terlalu santai untuk ukuran bos yang menyambut kolega besar.

Anjeli segera melepas outer pink yang ia kenakan, menyisakan kemeja putih polos dan rok pink yang senada.

Dia mengenakan pada Jun dengan paksa, saat Jun bahkan baru menyadari keberadaanya.

Jun mengelus dadanya saat merasakan tanganya tiba-tiba saja disentuh oleh mahluk halus yang ternyata adalah adiknya.

"lo apa-apaan sih?" omel Jun menatap adiknya yang sibuk mengenakan outer padanya secara paksa.

Anjeli tidak menjawab dan masih sibuk memperbaiki penampilan Jun.

Jun hanya bisa pasrah saat adiknya mulai mencepol rapih rambutnya.

"gini lo jadi keliatan lebih dewasa" ucap Anjeli kagum melihat karya seninya.

Jun melihat adiknya bingung "emang ada apa sih?"

Baru saja Anjeli mau menjawab namun sebuah ketukan dipintu membuatnya buru-buru berlari membukakan pintu.

dan saat pintu benar-benar terbuka sempurna, saat itu juga jantung Jun berhenti berdetak.

#

Not Out of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang