Bagian. 42

50 4 4
                                        

"anjirttt gue seneng banget!" teriak rea ketika sudah sampai di kamarnya. Ia langsung melempar kan tas nya, dan berteriak teriak tak jelas.

"malu banget gue sama si sastra! Aduh bodoh reani bodoh! Pake salting segela!" rea menyalahkan dirinya sendiri, menepuk jidatnya sendiri.

"ah bodo amat tapi gue seneng banget tadi!" teriak rea jingkrak jingkrak tak jelas. "eh tapi kenapa tadi jantung gue berasa mau copot ya pas si sastra pegang tangan gue?" tanya nya pada diri sendiri.

Rea merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, senyum seyum tak jelas, membayangkan kejadian tadi bersama sastra, membuat nya bahagia. "gue harap akan terus seperti ini" ucapnya dalam hati.

Rea melakukan aktifitas nya seperti biasa, mandi, ngemil, belajar dll.
"REANI turun cepat! Kita makan malam dulu!" teriak siska dilantai bawah.

Rea yang sedang bermain ponsel pun berhenti, menyimpan ponsel nya di kasur nya, berjalan menuju meja makan.

"mamah ih gak perlu teriak teriak juga kali! Kebiasaan banget!" gerutu rea duduk di samping reyhand.

"mamah kamu ini memang selalu seperti itu! Hobinya teriak teriak!" tambah rudi.

"enak aja nyalahin mamah! Heh rea kalau mamah gak teriak kamu gak bakal denger!" pekik siska tak terima, melotot tajam ke arah rea.

Bukannya takut, justru rea malah memutar bola matanya malas. "itumah alibi mamah aja! Pake nyalahin rea segela! Mamah ku sayang ini rumah bukan hutan! Lain kali mamah ketuk aja pintu kamar rea ya mah!" ucap rea lembut dengan senyuman manisnya.

"geli senyum senyum!" sewot reyhand menyenggol rea.

"nah bener kata anak kamu mah! Ini rumah bukan hutan!" rudi membela rea.

"iya pah! Nanti mamah ketuk pintu kamar rea deh! Tapi awas aja kalau gak nyaut nyaut mamah dobrak pintu nya!"

Rea terkekeh geli. "kayak yang bisa aja pake acara ngedobrak pintu segala!" ucap rea dengan tawa nya.

"udah dong ah kapan makannya ini! Cepetan napa rey udah laper!" tanpa basa basi reyhand mengambil nasi dan lauk pauk mendahului semuanya.

"yey sama makanan aja loh gercep banget bang!" gerutu rea menyenggol reyhand.

Inilah keharmonisan keluarga Rezzalan. Selalu ada hal sepele yang menjadi lelucon dikeluarga ini, dan selalu ada yang menjadi bahan pembullyan. Setelah selesai makan malam rea pergi ke kamarnya, mulai belajar matematika, agar mendapat kan juara 1 lomba matematika.

"pokoknya sekarang gue harus juara 1 gak boleh kalah lagi!" pekik rea sangat bersemangat.

Ia pun mulai membuka buku, membaca nya, menghapal kan setiap rumus, hingga tak sadae waktu sudah larut malam. Hingga akhirnya rea tertidur di meja belajar nya dengan tangan yang menumpu wajahnya.

Jam weker berbunyi nyaring membuat rea membuka matanya malas, pantas saja rea bangun, karna jam weker tepat di depan wajahnya.
Rea melirik jarum jam ternyata sudah jam 5:20 pagi rea segera berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah gontai nya, mata yang masih setengah terbuka, dan rambut yang acak acakan.

Setelah mandi rea segera berdandan untuk pergi kesekolah, baju seragam yang sudah rapi, rambut nya ia biarkan tergerai sempurna, sepatu yang sudah terpakai di kaki minimalis nya.

Rea berjalan ke meja makan, ia melihat mamah nya yang sedang sibuk mengolesi roti dengan selai. Sebuah ide muncul di otak rea, ia barencana akan mengagetkan siska.

Rea melangkah pelan menuju siska, berusaha agar langkah nya tak bersuara. "satu... Dua.... Tiga.... DORR!!" rea menepuk pundak siska dari belakang.

-PLUTO-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang