Rea menghembuskan napas nya kasar, terpaksa ia pergi kekantin seorang diri, karna insiden tadi, lia dan gesya meninggalkan nya. Rea berjalan menuju kantin seorang diri, memang wajah datar nya. Banyak tatapan tak bisa diartikan dari para murid.
Ketika rea ingin berjalan menuju kantin, tangan nya dicekal oleh seseorang dari arah belakang, dan rea dibawa ke taman belakang secara paksa.
"lepasin gue!" re memberontak ketika fire dan putri mencekal nya.
"ngapain bawa gue kesini?" tanya rea sinis.
"gue pengen loh jauhin devan! Dia gak pantes sama cabe kayak loh!" bentak fire melepaskan cekalan tangan nya kasar.
Rea meringis, cekalan fire berbekas merah di tangan putih dan mulus nya.
"atas dasar apa loh larang larang gue deket sama devan? Loh pacar nya? bukan! Dan jangan harap devan mau sama loh!" re menunjuk sinis ke arah fire, menatap nya tajam, kemudian meninggal kan mereka berdua.
"loh tuh gak punya hati Reani! Semua loh deketin! Loh egois!" teriak fire meluapkan semua emosinya.
Rea terus berjalan tanpa mendengar kan ocehan receh fire, ia memasang kan earphone ditelinga nya.
Rea celingak celinguk mencari meja kosong, ia sungguh butuh tenaga untuk menghadapi hari menyebalkan ini. Rea melihat ke arah gesya dan lia yang sedang fokus mengobrol, rea sempat menatap mereka, namun mereka mengalihkan pandang nya, tak mau menatap rea. Bisa rea tebak jika mereka masih marah padanya.
Rea pun berjalan memesang makanan dan minuman. "bu nasi goreng satu! Es teh manis satu" pesan kia pada bu kantin.
Tak lama kemudian pesanan nya selesai, rea membayar dan berjalan menuju meja kosong tadi, memakan makanan nya tanpa memperdulikan sekeliling, earphone masih setia melantunkan musik barat. Rea suka musik barat maka dari itu ia lebih senang mendengar kan musik dari pada ocehan receh para murid.
Pandangan melihat ke sekeliling kantin, mengapa hari ini rasanya sepi? Apa karna gesya dan lia? Sastra? Devan? Kemana mereka? Biasanya mereka mengganggu rea.
Rea merasa seorang diri, padahal keadaan kantin sangat ramai, lia dan gesya tak memperdulikan nya lagi, mereka terlihat lebih bahagia tidak bersama nya. Rea tersenyum simpul setidaknya nya ia masih bisa melihat sahabatnya tersenyum.
Bel pun berbunyi nyaring, semua murid berhamburan menuju kelas mereka, begitu pun dengan rea ia berjalan cepat menuju kelas, takut nya terlambat.
Saat ia berjalan dengan sengaja gesya dan lia menyenggol nya. Bukan nya minta maaf mereka malah menatap rea sekilas lalu berjalan meninggalkan nya. Rea tak habis pikir dengan mereka berdua.
Tanpa ia sadari dompet nya diambil gesya.
Kegiatan belajar mengajar pun berjalan dengan lancar, rea mengikuti pelajaran dengan semestinya, walau dia harus duduk sendiri, krna gesya pindah duduk dengan lia, dengan terpaksa rea duduk seorang diri di belakang. Rasanya benar benar hampa tanpa seorang sahabat, memang banyak teman rea dikelas, tapi yang paling mengerti hanyalah gesya dan lia. Tapi sekarang? Mereka menjauhi rea dengan alasan yang konyol.
Rea pun berjalan menuju gerbang sekolah dengan lunglai, ponsel nya pun berdering.
"bu diah? Tumben nelpon?" tanya rea aneh ketika melihat bu diah yang menelepon nya.
"hallo bu?" tanya rea
"reani, kali ini kalian tidak usah latian. Ibu ada acara"
Bu duah kemudian menutup telpon tersebut, rea mengangkat alis nya sebelah. "hanya itu?" tanya rea pada diri sendiri.
Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju gerbang sekolah, ketika sampai di depan gerbang sekolah ia pun merogoh saku mengambil ponsel nya untuk menelpon pak toro.
KAMU SEDANG MEMBACA
-PLUTO-
Teen FictionIni bukan cerita bad boy dan bad girl yang bertemu lalu jatuh cinta, ini hanyalah cerita anak SMA yang berusaha mencari kembali kepingan hati yang hilang ditelan waktu.
