Di satu hari pada musim dingin, aku pernah melihat seseorang telanjang dan masuk ke dalam satu kubangan es yang mencair. Seperti mandi di sana. Aku memandang dari balik jendela di dekat perapian, saat tengah menikmati Pie buatan Bibi Belgia-Korea yang pernah kuceritakan.
"Bibi, siapa itu disana? Lihat, dia mandi di udara sedingin ini."
Bibi yang sedang menyulam seperti kebiasaannya, menggeser kursinya, melepas kacamata bulatnya, berjalan ke arahku, lalu menghapus sisa embun di kaca untuk memperjelas pandangannya di atas kepalaku.
"Bukankah itu Alexandra?"
"Alexandra, yang baru pindah dari Belanda?"
Aku teringat tentang gadis yang baru datang di kompleks kumuh kami sekitar tiga hari lalu. Ia segera terkenal karena mata biru dan rambut ikalnya. Sebenarnya tidak terlalu aneh mengingat banyaknya imigran miskin di area kami. Hanya saja, Alexandra terlihat lebih menonjol dari kami semua. Terlampau cantik dengan hidung bangir sempurna, bibir tipis memerah, kakinya panjang dengan tubuhnya yang ramping. Alexandra seperti barbie hidup.
Bibi menghela nafas panjang sekali. "Kasihan sekali dia, Ra. Dia bukan pindah, dia sedang dibuang."
"Dibuang, kenapa dia dibuang, Bi?"
Aku mengunyah Pie ku, menjilati Caramel lumernya yang bahkan tercecer ke tanganku dan aku tak ingin menyia-nyiakan itu. Lidahku menyapu habis cairan manis itu.
"Bibi dengar, dia dibuang setelah hancur. Ayahnya bangkrut dan membunuh ibunya. Ayahnya dipenjara. Kemudian ia tinggal bersama pamannya dan diperkosa disana."
"Kasihan sekali, Bi. Padahal dia sangat cantik."
"Itulah ketakutan terbesar orang yang disebut 'cantik' itu, Ra. Orang-orang pikir hidup mereka enak dan mudah. Mereka tidak tahu bahwa beban yang terpikul terlampau berat dan tidak bisa dipindah kepada siapapun."
Aku terdiam. Sesungguhnya aku pernah mendengar desas desus tentang Bibi yang juga lari dari kampung halamannya karena satu kasus. Ada yang bilang ia diperkosa, ia bermain ilmu hitam bahkan membunuh. Tetapi di area imigran kumuh ini, semua terlalu bias, tidak ada yang bisa dipercaya. Semua abu-abu.
Meski aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi satu-satunya anak, bahkan orang yang bisa dekat dengan Bibi.
"Bi, mana Alexandra?"
"Apa dia sudah selesai?"
"Sepertinya belum. Bibi lihat, bajunya masih di sana."
Tak ada yang menyahut ucapanku sejak aku tersadar bahwa Bibi sudah membuka pintu dengan tergopoh-gopoh berlari ke arah dimana aku kehilangan pandangan dari Alexandra.
Menurutku cukup aneh karena sejak beberapa saat berbicara dengan Bibi, Alexandra tidak lagi muncul ke permukaan.
Bibi kembali, dengan bibir membiru dan gigi gemeretak. Bajunya basah secara penuh, pasti sangat dingin dari luar sana. Ia tidak mengatakan apapun kecuali segera berjalan ke arah telefon.
"Polisi, bisa datang ke—" Bibi menyebut nama daerah kami.
"Ya. Seseorang tenggelam dalam kubangan air es. Tolong segera datang."
Bibi menutup telefon. Aku menghampirinya dan belum sempat menanyakan sesuatu.
"Alexandra bunuh diri."
KAMU SEDANG MEMBACA
PUNISHMENT✔
Fiksi Penggemar[COMPLETED] "Aku tidak akan menggugat, kau tak perlu kembali pada kehidupan lamamu yang melarat. Satu syaratnya, gantikan peran kakakmu." - Kim Taehyung ©️msvante • 2019
