Aroma buah yang menguar secara samar menjadi penyambut kala aku membuka mata. Sedikit demi sedikit menuju puncak kesadaran akibat rasa perih yang agaknya membuat tangan sebelah kananku berkedut tak karuan.
"Sudah bangun?"
Sontak aku tertegun sebab suara serupa baru saja masuk kedalam telingaku sejak beberapa jam yang lalu. Tidak. Aku tidak pingsan dan sebagainya.
Aku masih ingat saat Jimin dengan sedikit tergopoh menuntunku masuk kedalam apartmentnya dan tak berapa lama kemudian seorang dokter datang dan melakukan pertolongan pada luka ditanganku. Sang dokter menyuruhku untuk menunggak dua pil pula dan menyuruhku untuk istirahat. Jimin yang menyadari pakaianku cukup basah malah memutuskan untuk meminjamkan kaus dan celana tidurnya hingga aku terpaksa susah payah menggantinya dikamar mandi dalam kamar pribadi milik Jimin sendiri.
Kulirik jam kecil yang terpampang di meja kecilnya dan mendadak khawatir akan hari yang ternyata sudah mulai malam.
"Kak, aku harus pulang," kugeser selimut yang menutupi tubuh. Sontak Jimin malah duduk disisiku dan mencegahku untuk benar-benar bangkit.
"Keadaanmu belum benar-benar membaik. Tak apa kalau kau mau istirahat dulu." Ia kembali membenarkan selimut itu, membuatku sedikit gugup.
"Tapi aku harus menyiapkan makan malamー"
Mendadak aku terdiam, mengunci mulut sembari merapalkan rutukan kecil dimana aku tak harusnya mengatakan sesuatu seperti itu.
"Bahkan kau memasak untuk makan malam, apakah kau yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, termasuk memasak?"
Aku mengangguk pelan dibarengi kalimat yang tak boleh membuat Jimin semakin curiga. "Ana dan Kakak Ipar sama-sama sibuk, aku merasa perlu membantu mereka. Aku cukup membebani mereka secara materi dan kupikir ini salah satu cara yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan mereka."
Jimin terdiam. Ia masih terus memandangi aku seolah ia sedang berusaha membaca pikiran. Dan itu membuatku semakin khawatir.
"Apa itu semua benar, Ara?" Ia seolah terus menyelidiki hingga itu membuat bulu kudukku meremat. Aku yang merasa tak nyaman mulai menggeser diri dan untungnya ia segera menyadari itu hingga ikut menarik dirinya kembali.
"Maaf jika membuatmu tak nyaman, tapi entah mengapa rasanya kau menyimpan banyak hal dan aku terus berspekulasi didalam kepalaku. Seperti yang pernah kubilang waktu itu, aku merasa bahwa pernikahan Taehyung sedang tak baik-baik saja karena ia terlihat berbeda dan aku hampir tak pernah menemui kehadiran Kakakmu, Ana. Kau yakin mereka tidak bertengkar atau bagaimana, astaga aku sendiri terus menebak danー" Jimin mendadak diam. Ia terlihat frustasi dan aku menjadi sedikit tidak tega.
"Semua baik-baik saja, Kak." Ungkapku begitu tulus. Salut akan pertemanan dua anak manusia dengan kepribadian yang begitu bertolak belakang. Kujamin wanita manapun akan berbahagia mendapatkan sosok sempurna seperti Park Jimin.
Satu tangannya lekas menggenggam tanganku yang tak terluka, menggenggam beserta tangannya yang lain dan terus memberiku kehangatan. "Aku sudah hubungi Taehyung saat kau masih tidur."
Jantungku seolah segera meloncat ke udara. Rasa nyaman itu mendadak hilang dan aku tak bisa menganggap semua akan baik-baik saja.
"Aku bilang kau akan menginap karena kau terlihat kurang sehat. Aku bilang aku punya dokter pribadi yang bisa mengontrolmu setiap saat ketika dibutuhkan, sedangkan Taehyung tidak. Ya, meski Taehyung sepertinya sedikit keberatan tapi ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan sahabatnya."
Senyum Jimin kembali merekah, genggamannya semakin mengerat dan aku hampir tidak bisa menyembunyikan rasa panikku sendiri. Bahkan aku bisa membayangkan raut murka Taehyung yang lebih menyeramkan dari siapapun di muka bumi ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUNISHMENT✔
Fanfiction[COMPLETED] "Aku tidak akan menggugat, kau tak perlu kembali pada kehidupan lamamu yang melarat. Satu syaratnya, gantikan peran kakakmu." - Kim Taehyung ©️msvante • 2019
