Hiduplah seperti apa yang kau mau. Jadilah kuat!
***
Pertama kali yang terlihat sejak aku membuka mata adalah langit langit kamar yang tak asing lagi di hadapanku. Kulihat sisi ranjang yang sudah kosong, menyisakan perih yang terus gerogoti hati yang tak terbilang lagi jumlah lukanya.
Jadi ini semua benar-benar nyata ya. Bukan hanya mimpi buruk yang hinggap untuk beri tangis di alam bawah sadarku.
Kubiarkan diriku berdiam selama beberapa detik, lalu bangkit dan memandang ke sekitar.
Jendelaku membuka, namun cahaya matahari yang masuk menandakan bahwa ini sepertinya tak lagi terbilang pagi. Kulirik jam digital yang terpampang di nakas. Astaga, benar. Ini bahkan sudah hampir setengah jam dua belas siang. Tidak ada yang membangunkanku?
Perutku mulai berbunyi, menandakan perlu diisi sebab seingatku, kemarin aku hanya sarapan pagi dan tak lagi terpikirkan untuk makan sebab ... ah sudahlah, aku memilih turun dari ranjang. Memilih berjalan ke dapur namun memandangi sekitar terlebih dulu.
Sunyi, sepi sekali seperti tidak ada orang di sana.
Kakiku mulai menapaki tangga. "Ana ..." panggilku, namun tak ada jawaban. "Ana." Sekali lagi aku memanggil namun tetap tak ada yang menjawab.
Apa Ana sudah pergi bekerja? Apa mereka sudah benar-benar kembali seperti pada kehidupan semula?
Hatiku kembali getir. Tidak. Aku tidak boleh menangisi itu lagi. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk benar-benar melupakan semua itu dan hanya fokus untuk melanjutkan hidup.
Saat aku tiba di dapur, lagi lagi hanya hening dan sepi yang menjadi kawan. Namun sesuatu mencuri perhatianku sebab di atas kompor terdapat panci dengan sticky notes di atasnya.
"Panaskan saja supnya.
Makan yang banyak supaya keadaanmu segera membaik.
Pihak sekolah tau kau masih sakit, istirahat saja sampai kau merasa lebih baik.
Jangan lupa ganti perbanmu.
Jangan menangis lagi, sisakan untuk lain hari.
Semoga cepat sembuh."
Sejak kapan Ana suka hal romantis seperti ini?
Kakak Ipar mungkin sudah memberitahunya tentang keadaan sakitku ini, membicarakan banyak hal ketika aku masih tidur dan saling tertawa satu sama lain. Aku bahkan bisa membayangkan betapa bahagia dan indahnya sesi sarapan mereka sebagai pengantin baru, tanpa diriku. Menyedihkan.
Aku benar-benar melakukan pesan yang tertera di sana. Memanaskan sup itu sebab aku sendiri merasa sangat lapar. Menikmatinya dalam diam seraya membiarkan kepalaku melayang-layang pada apa saja yang ingin ia pindai. Rasanya sangat sulit. Terkadang masih ada sesak yang hinggap jika aku memikirkan kembali masa masa lampau yang membuat diriku bisa menangis dan tertawa secara bersamaan.
Bukankah ini yang kumau? Hidup bebas dan tidak lagi tersiksa di bawah kungkungan pria yang kusebut Kakak Ipar itu. Tetapi mengapa justru rasa sakit, hampa dan sulit yang lebih dominan?
Kuputuskan untuk berhenti setelah isi mangkukku benar-benar kosong. Segera membersihkannya dan membereskan sisa makananku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
PUNISHMENT✔
Fanfiction[COMPLETED] "Aku tidak akan menggugat, kau tak perlu kembali pada kehidupan lamamu yang melarat. Satu syaratnya, gantikan peran kakakmu." - Kim Taehyung ©️msvante • 2019
