Kiya, apa kalian penasaran dengan apa yang aku lakukan saat ini?
Seperti kata Acee, hanya aku yang tahu bagaimana perasaanku saat ini, maka dari itu aku menceritakannya pada kalian semua. Kuharap kalian tidak menatapku dengan iba saat ini karena itu sangat menyebalkan, Kiya.
Baiklah, yang sedang kulakukan sekarang adalah menenggelamkan wajahku di sofa dan mendengarkan permainan piano Uncle Chan dengan sangat khusuk. Aku yang memintanya untuk bermain dan tidam ada alasan untuk menolak permintaanku yang sangat sederhana ini.
Biasanya, aku akan tertidur saat alunan lembutnya memenuhi telingaku, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku bahkan untuk sedetik. Bayangan mom selalu ada di sana ketika aku menutup kedua kelopak mataku, melambaikan tangannya, kemudian tersenyum padaku dan itu membuatku kesal.
Kiya, kalian semua pasti sudah tahu kebenarannya sejak awal, begitu halnya denganku. Aku bahkan mengetahuinya lebih cepat dari yang kalian semua duga. Aku menyadari semua keanehan itu dengan cepat, Kiya.
Dan untuk pertama kalinya aku membenci diriku sendiri karena tingkat kepekaanku yang luar biasa tinggi. Terkadang sifat seperti ini hanya akan membunuh kalian di waktu yang jelas-jelas sangat salah. Seperti saat ini.
Apa ada hal lain yang ingin kalian tanyakan, Kiya? Bertanyalah, maka aku akan menjawabnya dengan senang hati.
Tenang saja, Kiya, aku sudah tidak menangis lagi saat ini. Kupikir air mataku telah habis sekarang karena aku menangis begitu banyak saat berada di mobil tadi. Dan ada beberapa memar di tanganku, tapi Uncle Chan sudah mengobatinya.
Saat aku memukul dashboard dengan begitu keras, aku tidak merasakan sakit sedikitpun, Kiya. Tapi saat Uncle Chan mengoleskan salep rasanya sangat menyakitkan, aku merasakan ngilu sampai ke seluruh tulangku.
Dan jika kalian bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak, jawabannya jelas tidak. Mana mungkin aku bisa baik-baik saja. Aku menyayangi mom seperti aku menyayangi dad.
Kiya, aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik bagaimana perasaanku saat ini, tapi aku akan berusaha untuk mempermudah kalian mengerti perasaanku. Kuharap kalian mengerti dengan penjelasan ringanku ini.
Apa kalian pernah memeras santan?
Pernah sekali aku melihat Nam imo memeras santan dengan sepenuh tenaga. Nam imo memerasnya hingga tidak tersisa setetes pun. Kelapa itu benar-benar-benar kering, Kiya. Dan aku merasa ada seseorang yang memeras hatiku dengan sangat kuat, hingga rasanya aku akan mati saat itu juga.
Rasanya benar-benar menyakitkan, Kiya. Dan setelahnya aku tidak bisa merasakan perasaanku dengan baik, rasanya begitu berantakan. Aku marah pada mereka, tapi aku menyayangi mereka.
Jika sudah begini siapa yang bisa aku salahkan?
Dad yang mencoba untuk terus berbohong padaku?
Mom yang mengatakan kebenaran yang sebenarnya tidak ingin aku dengar sampai kapanpun?
Atau Acee yang sudah menggariskan takdir yang begitu menyebalkan ini padaku?
Mungkin yang harus aku salahkan di sini adalah diriku sendiri. Aku yang bodoh karena menganggap orang asing sebagai ibuku. Saat ini aku menyadari betapa mirisnya hidupku, Kiya.
Rasanya aku ingin menangisi kemalangan hidupku ini. Tidak, Kiya, jangan menatapku dengan iba seperti itu, aku benci melihatnya. Rasanya aku seperti menjadi makhluk paling malang yang ada di dunia ini.
Kiya, kalian pasti sudah tahu kalau aku mendengar pembicaraan mom dan dad saat itu. Mom mengatakan kalau dia tidak ingin membohongiku lagi, tapi dad memaksa mom, untuk terus berbohong padaku sampai dad menemukan keberadaan ibuku yang sesungguhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's [Not] Fall In Love
Fanfiction[RE-PUBLISH DAN REVISI] Lalisa Amandine tidak berharap banyak ketika usianya memasuki dua puluh tiga tahun. Mahasiswa tingkat akhir itu hanya ingin menyelesaikan skripsinya dan lulus. Hanya itu yang dia inginkan. Namun, siapa sangka jika di tahun it...
![Let's [Not] Fall In Love](https://img.wattpad.com/cover/166044703-64-k95802.jpg)