[RE-PUBLISH DAN REVISI]
Lalisa Amandine tidak berharap banyak ketika usianya memasuki dua puluh tiga tahun. Mahasiswa tingkat akhir itu hanya ingin menyelesaikan skripsinya dan lulus. Hanya itu yang dia inginkan.
Namun, siapa sangka jika di tahun it...
Absen dong, gaes. Pengin tahu berapa yang nungguin ini lapak naik ke permukaan 👉👈
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagi Sehun, perpustakaan adalah tempat yang paling tepat untuk berbicara empat mata dengan istrinya.
Setelah melihat foto yang tidak seharusnya mereka lihat, keduanya memutuskan untuk meluruskan semua kesalahpahaman, mencari jawaban atas semua pertanyaan dan memastikan perasaan masing-masing.
Keduanya duduk berhadapan, menatap dalam sorot mata penasaran yang menggebu, dengan sebelah tangan yang menggenggam selembar foto. Cukup lama mereka bertatapan untuk mencairkan suasana yang sangat tegang, hingga akhirnya Sehun meletakkan fotonya dan Clarise di atas meja, yang diikuti oleh Lisa.
Kini, terjawab sudah rasa penasarannya kenapa Sehun mengabaikan hari itu. Rupanya dia ketahuan berbohong.
"Dari mana kita harus memulainya?" Sehun memecah keheningan lebih dulu dan menatap dengan frustrasi. Laki-laki itu tidak tahu masalah jenis apa yang tengah menimpa rumah tangganya dan Lisa saat ini.
Dan Sehun tidak habis pikir dengan orang yang mengirimkan foto itu pada mereka, terlihat dengan jelas kalau orang itu ingin menghancurkan rumah tangganya.
Lisa yang semula menatap Sehun, kini mulai menurunkan pandangan dan memilin jari-jemarinya dengan gelisah. Gadis itu sendiri juga tidak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana.
Haruskah dia menceritakan tentang hubungannya dan Jinan atau haruskah dia bertanya apa yang Sehun lakukan bersama Clarise di foto itu?
Lisa benar-benar tidak tahu pertanyaan mana yang harus ditanyakan lebih dulu.
Sementara Sehun baru saja mengembuskan napas kasar, kemudian menjilat bibir yang terasa kering. sama seperti Lisa yang tidak tahu harus bertanya apa, Sehun juga benar-benar tidak memiliki ide untuk memulai pembicaraan.
Laki-laki itu terlalu gengsi untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Takut kalau satu keingintahuannya saat ini akan berdampak buruk untuk ke depannya nanti.
Situasi mereka seperti sebuah lingkaran yang tidak memiliki ujung atau pun celah yang bisa jadikan langkah pertama untuk meluruskan benang kusut yang tengah melilit keduanya.
"Maaf karena sudah berbohong padamu." Pada akhirnya, Lisa memberanikan diri untuk mengutarakan permintaan maaf. Gadis itu sadar betul kalau dia adalah pihak yang bersalah karena telah berbohong pada suaminya.
Lebih-lebih lagi, kebohongannya diketahui oleh Sehun, membuat Lisa benar-benar sangat malu dan merasa bersalah.
"Bagus kalau kau tahu apa kesalahanmu saat ini, Nyonya Muda Alexander." Sehun menekan tiga kalimat terakhirnya untuk mengingatkan status Lisa saat ini kalau-kalau gadis itu lupa.
Sementara yang diingatkan hanya bisa meringis saat merasakan letupan emosi yang menyengat kulit, serta atmosfer dingin yang melingkupinya saat ini.