"Hal yang aku takuti saat menaruh rasa padamu adalah, ketika aku rindu, aku hanya bisa mendoakanmu. Aku tidak bisa mengatakan rindu ini padamu. Dan membiarkan Tuhan yang menyampaikannya padamu"
🍁🍁🍁Adhya Sinta🍁🍁🍁
🍁
Tiga belas jam lebih perjalanan telah Rima tempuh menuju London. Akhirnya pada pukul sebelas malam lebih Rima menginjakkan kakinya di London. Sebelumnya Rima sudah menelfon Agnes untuk menjemputnya.
Sesuai kata abangnya ia tidak boleh keluar malam sendiri. Karena itu ia minta Agnes menyusulnya. Selain itu masih ada rasa takut dalam diri Rima jika ia naik taksi atau angkutan umum lainnya di malam hari di negeri orang. Apalagi sendiri dan di tengah malam begini.
Tinttt. Suara klakson mobil memyadarkan Rima dari lamunannya.
"Hey Rima. Ayo masuk" ucap Agnes dari dalam mobil dengan jendela yang dibuka.
"Ya ampun Agnes kamu ngagetin aku tau" kesal Rima.
"Hehe I'm sorry" Agnes menyengir tak berdosa. Sementara Rima masuk ke dalam kursi penumpang.
Disuruh untuk menjemput Rima, Agnes tidak keberatan. Ia tau kalau Rima adalah seorang muslim yang taat pada aturan agamanya. Rima selalu menjaga diri dari pria yang bukan keluarganya atau Rima sering bilang pada Agnes, yang bukan Mahramnya.
Agnes sendiri adalah seorang penganut agama khatolik. Selama berkerja bersama Rima dan tinggal bersama di satu apartemen di London selama setengah tahun belakangan ini. Agnes tak mempermasalahkan perbedaan agama dia antara mereka. Begitu pun dengan Rima. Walaupun tidak setiap hari Rima di London.
Sesampainya di apartemen. Rima yang hanya membawa satu tas ransel langsung menjatuhkan diri di sofa.
"Alhamdulillah nyampe juga" guman Rima lega.
Agnes tertawa melihat Rima yang tengkurap di sofa panjang dengan tas masih menyantol di punggungnya macam kura-kura.
"Ya udah sana istirahat, udah malem"
Rima langsung duduk lagi. Ia mengambil sesuatu dari tasnya.
"Nih Flashdisknya, bahan presentasinya udah aku selesain. Kamu tinggal cek ulang aja, sama benerin kata-kata kalo aku salah ketik. Maklumin ya kan ngerjainnya di pesawat hehe" ucap Rima menyodorkan flashdisk pada Agnes yang duduk di sofa sebelahnya.
Agnes mengangguk paham.
"Ow ya nih aku bawain keripik pisang" Rima mengeluarkan dua bungkus plastik keripik pisang yang ia bawa dari indonesia.
Mata Agnes berbinar. "Wahh enak nih malem-malem makan keripik. Lama banget nggak makan kripik"
Agnes jarang ke Indonesia. Ia dan keluarganya sudah menetap di London sejak ia kecil. Karena ayah Agnes adalah warga negara Inggris.
"Ya udah deh, makan-makan sana aku mau tidur. Ow ya besok meetingnya jam berapa?" tanya Rima.
"Besok kaya biasa jam sembilan" jawab Agnes sambil berusaha membuka bungkus keripik.
"Oke" Rima beranjak menuju kamarnya. Di apartemen ini ada dua kamar yang ukurannya tidak begitu luas. Tapi cukup jika digunakan untuk sekedar istirahat.
Rima melepaskan jaket tebalnya. Ya di London memang sedang musim gugur dan sebentar lagi musim dingin akan tiba. Kemudian ia melepas jilbabnya. Kali ini Rima memakai celana kulot dan sweter longgar yang panjangnya sampai paha.
Lelah karena menempuh perjalanan yang jauh. Rima langsung tidur tanpa ganti baju. Sebelum tidur ia mengirim pesan pada kakaknya kalau ia telah sampai.
🍁
Pukul setengah tiga pagi, Rima terbangun. Seperti biasanya, Rima akan menunaikan shalat tahajud. Setiap di sepertiga malam, selalu saja Allah membangunkan Rima. Ia bersyukur karena Allah sayang padanya dan Allah ingin Rima mencurahkan setiap doa dan curahan hati Rima pada Allah dengan shalat tahajud.
Setelah mengambil air wudhu Rima menunaikan shalat dua rakaat itu dengan khusyuk. Sesuai shalat tak lupa selalu ia panjatkan doa. Setiap doanya ia selalu meminta ampunan.
"Ya Allah, Engkaulah zat yang Maha Pengampun. Ampuni segala dosa-dosaku. Maafkan hamba yang tanpa sengaja telah berbuat dosa Ya Allah.
"Ya Alah, tuntunlah hamba selalu dalam jalan-Mu. Tegur hamba jika hamba salah melangkah.
"Ya Allah Engkau yang Maha Pelindungi. Lindungilah hamba, kedua orang tua hamba, kakak hamba. Lindungi kami dari ancaman marabahaya dan godaan setan yang terkutuk. Lindungilah mereka yang selama ini melindungiku dalam naungan kasih sayang mereka. Satukanlah kami lagi nanti di akhirat seperti saat ini.
"Ya Allah, untuk dia yang disana. Jagalah dia disana selalu dalam menjalankan kehidupannya. Agar dia kelak bisa menjagaku. Tuntunlah dia selalu di jalan-Mu yang penuh keberkahan dan rahmat-Mu. Agar kelak dia bisa menuntunku, berjalan bersamanya menapaki jalan-Mu. Jika memang dia yang Engkau takdirkan untukku, maka aku akan menunggunya. Dan semoga penantianku ini tidaklah sia-sia
Aamiin" Rima mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Doa yang selalu ia panjatkan di tiap malam dan disetiap selesai shalat.
Ia tersenyum mengingat ada seseorang disana yang sedang ia tunggu kembalinya. Dan saat orang itu kembali, ia akan menjawab permintaan orang itu. Semoga itu yang terbaik.
Rima melanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur'an sembari menunggu waktu subuh. Dipilihnya surat Ar-Rahman untuk ia baca.
🍁🍁🍁
Halo kalian, para pembaca yang budiman. Terimakasih ya masih baca terus 😘. Seneng deh akunya.
Ow ya gimana nih ceritanya sejauh ini. Agak kurang ya?? Tolong di maklum ya. Bukan penulis handal.
Hayooo ada yang penasaran nggak 'dia' yang di sematkan Rima itu siapa? 😁😁.
Satu lagi nih, cerita ku sebenernya genre Romance-Spiritual ya. Mohon di mengerti ya para pembaca yang bijak.☺
Jangan lupa ya, terus semangat dalam beribadah. Semangat juga baca Al- Qur'an nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naungan Cintamu
SpiritualSpritual-Romance 🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Ketika tiba saatnya untuk memilih. Pilihan yang sulit harus Rima ambil. Ia harus memilih yang bisa membawanya ke jalan Allah. Namun, pilihan itu ternyata salah. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Dan membuatnya ha...
