"Katakan saja jika kamu tidak suka dengan pekatnya malam. Seberapa besar kamu menghindarinya, pekat itu akan datang juga. Sama dengan ini, kamu tidak bisa menghindar dari takdir cinta yang Tuhan berikan. Maka cukup jalani saja. Jangan takut"
🍁🍁🍁 Adhya Sinta 🍁🍁🍁
🍁
Ilham memijat pelipisnya pelan. Hari yang melelahkan karena banyak sekalu pekerjaan yang harus ia kerjakan. Belum esok hari ia harus ke Birmingham untuk meeting dengan calon investor selama dua hari. Dan enam hari mendatang adalah hari pernikahan adiknya Zafran yang mengharuskannya pulang ke Indonesia. Jadi ia harus mengebut beberapa pekerjaan.
Telepon di atas mejanya berdering. Membuat fokus Ilham pun beralih. Dari telepon itu, Hans mengatakan kalau Rima ingin menemuinya. Yang langsung saja Ilham beri izin.
Selang beberapa saat, tak lama Rima pun masuk ke ruangannya.
"Assalamu'alaikum" seru Rima.
"Wa'alaikumsalam" ujar Ilham lalu menyuruh Rima duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
"Ada hal apa yang membuatmu kemari?" tanya Ilham.
Rima tampak agak ragu saat ingin berbicara. "Saya ingin tanya sesuatu ke kamu" ucap Rima.
"Apa?" ujar Ilham.
"Maaf sebelumnya, atas semua perlakuan saya selama ini yang membuatmu tersakiti atas keputusan-keputusan saya. Dan sekarang saya ingin menanyakan padamu, apakah kamu masih memiliki rasa kepada saya?" tanya Rima dengan mantap.
Ilham membenarkan posisi duduknya. "Kamu tidak perlu maaf, sudah menjadi resiko untukku karena sudah berani menaruh rasa untukmu. Dan sampai sekarang rasa itu masih tetap sama seperti dulu. Bahkan mungkin itu bertambah" jawab Ilham jujur. Memang, selama ini Ilham tidak membenci bahkan marah pada Rima walaupun penolakannya saat itu. Karena ia baru tau jika Rima masih belum kembali menata hati.
Rima sedikit tersenyum. "Sungguh, dengan kamu berbicara kayak gitu. Semakin membuatku merasa menjadi orang jahat karena menyakiti perasaanmu. Maafkan saya Ilham" ujar Rima menyesal.
Ilham tak tega melihat Rima yang merasa bersalah itu. Ingin rasanya ia memeluk Rima dan menghilangkan rasa bersalahnya itu. Namun, kata haram masih tercetak tebal di antara mereka berdua. Sehingga hanya kata-kata saja yang bisa Ilham ucapkan. "Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi di dunia Rima. Semua sudah takdir Allah. Cukup kamu terima dan ambil hikmahnya".
"Saya kagum padamu yang tak lelah menaruh rasa padaku tanpa balasan" ujar Rima. "Kamu tau kan Ilham kenapa saya menolakmu saat itu?" tanya Rima. Yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Ilham.
"Saya hanya butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku yang terluka. Lebay memang kata-kataku ini" ujar Rima sambil tertawa renyah menertawakan perkataannya. "Namun, memang itulah yang saya butuhkan".
"Saya bisa membantumu menyembuhkan luka hatimu. Kamu hanya perlu menerimaku masuk dalam hidupmu dan mengacaukan perasaanmu itu. Agar saya bisa mengisi hatimu" ujar Ilham dengan senyum.
Rima terkekeh mendengar Ilham mengatakan kata 'mengacaukan'. "Kamu sudah mengacaukan hatiku sejak kamu melamarku. Apa kamu belum puas?" tanya Rima.
Ilham tertawa renyah. "Belum. Saya belum memiliki hatimu, jadi saya belum puas mengacaukan persaanmu".
"Saya takut Ilham, jika bukannya kamu mengisi hatiku justru hatiku kembali tersakiti. Saya rasa, saya belum siap tersakiti untuk kedua kalinya" ucap Rima.
"Saya tidak akan menyakitimu, saya janji" ujar Ilham yakin.
Rima menggeleng. "Jangan menjanjikan sesuatu padaku. Karena sekarang saya tidak lagi bisa percaya pada janji seperti itu. Saya nggak minta kamu berjanji Ilham. Karena semua masalah ada di dalam diriku. Saya hanya sulit untuk membuka lembar baru hidupku, sehingga saya hanya berputar di dalam lembar lama itu".
"Saya tau, nggak seharusnya kita terjebak dalam masalah hati ini. Aku mencintaimu karena Allah Rima. Hanya kebaikan dan ridho Allah yang ingin saya dapatkan saat saya sadar kalau saya mencintaimu. Namun, itu belum bisa kudapatkan selama kita masih belum terikat dalam ikatan itu" ujar Ilham.
"Dengar, saya memperjuangkanmu karena memang kamu pantas kuperjuangkan. Akhlakmu membuatku yakin kalau saya tidak salah menaruh rasa untukmu" lanjut Ilham.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Ilham? Saya masih takut akan sakit itu, namun ada rasa tersendiri yang timbul saat saya bertemu denganmu" ucap Rima.
"Beri saya kesempatan untuk melamarmu lagi. Dan membuktikan jika saya benar-benar mencintaimu. Saya akan menemui orangtuamu, meminta izin mereka untuk memilikimu" ujar Ilham dengan mantap tanpa sedikitpun terdengar keraguan dari suara Ilham.
Rima melihat Ilham sebentar, ia tak percaya Ilham mengatakan itu. "Akan menjadi jahat diriku, jika saya tidak memberimu kesempatan itu".
🍁
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah aku masih bisa update lagi ya, terimakasih banyak buat kalian yang masih setia baca cerita ini. Aku seneng deh 😁 love yuuu deh buat kalian yang baca ini terus ❤❤
Maaf baru bisa update, dunia nyataku sedang dalam kesibukan tingkat tinggi.
Pasti kalian lagi bilang gini 'udah lama nggak update, pas update cuma dikit lagi'
Hehehehehe maaf banget deh kalo itu. Karena emg lagi stuck di tugas ini pas ngetiknya. Jadi halu ku lagi kurang 😆😆
Buat kalian yang baca cerita ku
Tetap semangat ya jalanin hidup kalian.
Semangat ibadahnya harus nomer satunya ya!!
Jangan lupa ya ☺
See you soon ☺🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Naungan Cintamu
EspiritualSpritual-Romance 🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Ketika tiba saatnya untuk memilih. Pilihan yang sulit harus Rima ambil. Ia harus memilih yang bisa membawanya ke jalan Allah. Namun, pilihan itu ternyata salah. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Dan membuatnya ha...
