"Saat aku mulai menaruh rasa padamu, alam ikut bahagia bersamaku. Langit malamku begitu cerah oleh bayangan keteduhanmu. Bintang kini tak lagi bersembunyi di balik awan gelap itu. Tapi, semua itu hanya sesaat saja. Karena aku telah salah menaruh rasa padamu yang terlarang untuk kucinta"
🍁🍁🍁Adhya Sinta 🍁🍁🍁
🍁
Menghabiskan waktu sehari lagi. Adalah nikmat yang selalu harus disyukuri oleh setiap manusia. Karena Allah telah memberi kita waktu untuk menikmati kehidupan yang sementara ini.
Menjadi seseorang yang diharuskan berwibawa adalah hal yang Ilham lakukan ketika ia di kantor dan bertemu para karyawannya. Namun, tidak semua yang orang lihat itu adalah sifat asli darinya. Ilham yang sebenarnya adalah sosok yang mengasikkan, ramah, humoris dan yang paling jelek adalah sifat malas mandinya Ilham.
Tunggu. Bukannya Ilham nggak suka mandi. Tapi Ilham kalau sore malas untuk mandi jika ia sibuk atau memang sedang mager. Tidak setiap hari memang. Kalau ia malas mandi sore. Ilham memilih mandi setelah shalat magrib atau mendekati Isya. Tapi kalau sudah kumat malasnya. Bisa-bisa Ilham mandinya besok pagi sekalian.
"Nggak lah Za. Gua masih mau sendiri dulu" tolak Ilham saat sahabatnya, Reza menelpon dan menyarankannya untuk berta'aruf dengan seorang perempuan anak dari seorang ustadz tempat Reza sering belajar tentang agama.
"Serius nggak mau?".
"Nggak Za. Kalo emang jodoh nggak kemana kok. Tapi gua masih bener-bener pengen sendiri dulu untuk sekarang" jelas Ilham. Terdengar Reza pun berguman tak jelas.
"Lo masih nunggu dia ya?" tanya Reza. Yang sukses membuat Ilham diam seribu bahasa.
Ilham ingin menyanggah ucapan Reza. Tapi apa yang harus disanggah, jika memang apa yang Reza katakan itu benar adanya.
"Ham?" seru Reza.
"Iya" sahut Ilham.
"Diem aja lo. Kira gua lo pingsan" Reza terkekeh. Pasalnya diamnya Ilham cukup lama dan benar-benar Reza tak memdengar apapun.
"Nggak gua masih nafas kok" ujar Ilham ikut terkekeh tak bersemangat.
"Ham. Dia itu...".
"Udah Za nggak usah ngomongin dia. Gua nggak mau kepikiran terus sama dia. Dosa gua nanti banyak kalo mikirin dia" sergah Ilham memotong ucapan Reza.
Terdengar Reza berdecak kesal. "Yah lo mah kalo mikirin dia aneh-aneh pasti? Maka nya lo takut dosa. Hahah" ledek Reza.
"Enak aja lo. Nggak gitu juga lah" protes Ilham.
"Hahaha ya udah. Gua mau tidurlah. Ngantuk. Capek ngelembur gua" ucap Reza terdengar tak bersemangat.
"Enak aja lo tidur. Kerja woi gua mau berangkat kerja. Lo malah mau tidur" ucap Ilham sambil tertawa.
"Somplak ya otak lo. Kan kita beda benua kutu" kesal Reza.
Ilham tertawa bahagia mengerjai sahabatnya itu. "Enak aja lo ngatain gua kutu. Ganteng-ganteng gini dikatain kutu" protes dari Ilham.
"Percuma ganteng tapi umur 26 masih jomblo. Hahaha. Gua aja udah mau jadi bapak. Kalah lo" Reza tertawa keras menertawakan Ilham. Sangat senang sekali tampaknya Reza bisa membuat Ilham bungkam.
"Ya udah gua mau tidur. Assalamu'alaikum Blo. Jomblo" ujar Reza masih tertawa. Sampai panggilan itu terputus setelah Ilham menjawab salam dengan ketus.
"Untung temen. Kalo nggak gua lempar nih sepatu" kesal Ilham lalu melemparkan ponselnya ke atas sofa.
Bukankah sahabat memang seperti itu. Seorang yang jujur meledek temannya dan menertawakan di depan. Tidak meledek di belakang dengan menertawakan kejelekan dan kesalahan kita. Karena jujurnya seorang teman walaupun itu menyakitkan adalah cara kita memperbaiki diri. Dari penilaian mereka.
🍁
Hari ini ada rapat dengan seorang investor yang harus Ilham hadiri di sebuah restoran saat makan siang nanti. Namun, hari ini Ilham kelabakkan. Pasalnya sekertarisnya harus izin karena istrinya akan melahirkan. Ilham dengan senang hati memberi izin. Namun ia lupa kalau hari ini ada rapat.
Jadilah, baru sampai kantor Ilham sudah kebingungan. Ia meminta Glen untuk menggantikan peran sekertarisnya. Namun, Glen tidak mengerti sama sekali tentang topik yang akan dirapatkan nanti.
"Bagaimana jika Rima saja yang menggantikan. Rima sangat pintar dan ia pandai dalam merepresentasikan banyak hal. Mungkin dia dapat dengan cepat memahami ini dari pada saya" saran Glen.
"Maksudmu Mihrima?" tanya Ilham yang masih tak terbiasa dengan panggilan nama Rima
"Iya. Dia itu sangat diandalkan di sini. Dia bisa meng-handle semua pekerjaan bahkan yang bukan bidangnya pun ia masih sedikit bisa membantu semua karyawan di sini. Bahkan ia pernah menggantikan Mr.Hendra untuk rapat saat Mr.Hendra batal datang ke London karena masalah keluarga" jelas Glen dengan kagum.
"Ayah saya?".
"Yes. Saat itu ada rapat besar dan ayah anda berhalangan datang".
Ilham berfikir sejenak di tengah kebingungannya.
"Baiklah. Panggil dia" titah Ilham.
Glen pun dengan semangat segera memanggil Rima.
🍁
"Assalamu'alaikum. Permisi pak" ujar Rima yang memasuki ruangan.
"Wa'alaikumsalam" sahut Ilham.
Rima pun berjalan mendekat meja Ilham.
"Bapak memanggil saya?" tanya Rima dengan hormat.
Ilham hanya terseyum tipis. Saat ini ia tengah dikejar waktu. Ia berharap semoga Rima bisa melakukan pekerjaan yang seharusnya sekertarisnya lakukan. Karena Ilham tak tau seluk beluk dari bahan materi yang sekertarisnya siapkan. Ia hanya tau intinya. Sementara itu harus disajikan secara mendetail.
"Ya. Saya ingin kamu menggantikan sekertaris saya yang izin untuk rapat siang ini. Dan saya ingin kamu memahami detail dari materi ini dan bisa mempresentasikannya saat rapat" ucap Ilham tegas.
"Kenapa bapak memilih saya?" tanya Rima.
"Karena kamu adalah orang yang aku cintai" ujar Ilham dalam hatinya. Seketika fokus Ilham teralihkan.
"Karena saya mendengar dari Glen bahwa kamu bisa menangani ini. Dan saya tidak punya pilihan lain selain memilihmu" ujar Ilham mencoba kembali serius.
"Bisa saya lihat dulu materinya?" tanya Rima. Ilham pun menyodorkan laptopnya yang telah terpasang flashdisk berisi bahan untuk rapat.
"Silakan duduk" ujar Ilham yang diikuti Rima duduk dihadapannya setelahnya.
Rima fokus menggeser kursor di laptop itu. Sementara Ilham memperhatikan Rima yang tampak serius. Jilbab birunya begitu serasi di kkulitputih Rima. Sorot mata yang teduh itu kembali membuat Ilham mengingat saat pertana kali mereka bertemu.
Karena saat itu Ilham pertama kali melihat mata Rima yang teduh dan penuh dengan kabahagiaan.
Tanpa sadar Ilham telah menatap Rima lama. Dan ketika ia sadar ia pun mengalihkan pandangannya. Banyak-banyak Ilham mengucap Istighfar dalam hati.
Ia tau itu salah. Apalagi Rima sudah terikat oleh orang lain.
"Pak. Saya butuh waktu untuk memahami ini. Kapan rapatnya dimulai?" tanya Rima yang menyadarkan Ilham dari pikirannya.
"Saat makan siang nanti" jawab Ilham.
"Baiklah Pak, saya akan menemui bapak setengah jam sebelum makan siang. Dan saya izin membawa flashdisknya ke meja saya untuk saya pelajari lagi" ucap Rima dengan senyuman kecilnya.
"Silakan kamu bawa" ucap Ilham. Kemudian Rima pun pamit keluar. Sampai Rima keluar dari ruangannya Ilham masih memandangi pintu di sebrang.
"Menyakitkan bukan. Mencintai sesuatu yang dilarang untuk dicintai" ucap Ilham pada dirinya sendiri.
🍁🍁🍁
Assalamu'alaikum 😁
Maaf aku baru bisa update lagi nih, beberapa hari belakangan ini aku abis pulkam, dan kampung aku itu ada daerah susah sinyal buat kartu 3 hehehe
Maaf banget ya nggak sesuai jadwal lagi
InsyaAllah aku bakal sesuai jadwal lagi 2 kali seminggu
Tapi mohon vote ⭐ dulu cerita ini yah
Biar aku tambah semangat ngetiknya
Okehhh 😁☺☺
KAMU SEDANG MEMBACA
Naungan Cintamu
SpiritualSpritual-Romance 🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Ketika tiba saatnya untuk memilih. Pilihan yang sulit harus Rima ambil. Ia harus memilih yang bisa membawanya ke jalan Allah. Namun, pilihan itu ternyata salah. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Dan membuatnya ha...
