43. Yang Tersembunyi

82 8 3
                                        

"Jika engkau mencoba mematahkan satu sayapku. Maka aku masih akan mencoba untuk terbang sampai luka itu sembuh. Namun jika suatu saat kau kembali mematahkan sayapku yang lain. Maka aku akan berkata padamu. Mengapa tidak dari dulu kau mematahkan kedua sayapku?. Agar aku tak bisa terbang dan tinggal dengan luka itu."
🍁🍁🍁 Adhya Sinta 🍁🍁🍁

🍁

"Halo" guman Ilham menunggu seseorang yang ia telfon berbicara namun sejak tadi tidak ada yang menjawab meski panggilan itu sudah terjawab.

Ilham berdecak kesal kemudian mematikan panggilan itu. Dengan kesal ia membanting tubuhnya ke atas kasur. Dingin malam ini tak membuat pikiran Ilham ikut dingin. Kepalanya seolah panas dengan apa yang terjadi padanya. Pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan banyak keputusan yang harus ia ambil.

Bisa saja saat ini ia langsung bertindak namun sulit baginya melakukannya sendiri.

"Rima" gumannya tanpa sadar saat ia memejamkan matanya. Sudut bibirnya perlahan tertarik menunjukkan sebuah senyum kecil di tengah kelelahannya.

🍁

Luqman kebingungan mencari kemana Rima pergi. Saat di rumah tadi ia seharusnya menghentikan Rima yang hendak keluar dengan mobil. Padahal jelas-jelas ia melihat Rima yang tampak sedih.

Luqman berdecak. "Harusnya tadi nggak aku biarin Rima pergi" kesalnya pada dirinya sendiri.

Luqman, Syifa dan Umi Fatimah benar-benar di buat dibuat terkejut saat Nalla mengatakan bahwa Rima pergi dalam keadaan yang kacau. Dan Nalla menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada mereka. Bahkan tentang kehamilannya.

Luqman mengelilingi kota mencari Rima. Ia terus berdo'a semoga tidak terjadi hal buruk pada adiknya.

🍁

Sementara itu, dengan langkah yang gontai Rima sampai di sebuah taman dekat masjid. Air matanya tak hentinya menetes, isak tangisnya pun semakin tak tertahan saat ia mengingat perkataan pria di telfon itu. Ia merasa terhianati. Rima duduk di sebuah kursi taman yang sedikit berada di sudut yang sepi.

Tak lama seseorang yang lewat mengenali Rima, ia pun berjalan menghampiri Rima. Irsyad, ia melihat Rima yg menangis. Ada ragu dalam dirinya untuk bertemu dengan Rima setelah sekian lama dan setelah meninggalkan Rima pada saat itu.

"Assalamu'alaikum Rima" sapa Irsyad yang kini berdiri satu meter di samping Rima.

Rima yang menyadari kedatangan seseorang langsung mengangkat kepalanya melihat Irsyad. Matanya yang memerah menatap tajam Irsyad. Air matanya kembali meluncur tanpa henti.

"Kenapa Irsyad? Kenapa kamu melakukan ini? Dan kenapa harus seperti itu caramu mengakhiri janjimu?" tanya Rima.

Irsyad tak mengerti. "Maksudmu apa Rim? Saya nggak ngerti?".

Rima menghela nafas kasar. "Kenapa harus Nalla. Dia sepupuku Syad" ucap Rima dengan marah.

Irsyad terperanjat kaget. "Nalla? Sepupumu?" tanyanya tak percaya.

"Iya. Kamu tau siapa yang menjawab telponmu tadi. Bukan Nalla tapi saya" ucap Rima dengan kesal melihat Irsyad. "Saya mendengar semua yang kamu katakan"

Irsyad merasa bersalah setelah memahami perkataan Rima. Ia menatap Rima sekilas.

"Itu kan alasanmu meninggalkanku, kenapa kamu nggak bilang Syad dari awal. Kayak gini kamu terus-menerus nyakitin saya, dengan semua fakta yang bakal terungkap satu persatu gini" ucap Rima.

Naungan CintamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang