"Sakitnya dari mencintai adalah ketika harus melupakan cinta itu. Dan, sakitnya dari melupakan adalah ketika hati masih mengharapkan cinta kembali"
🍁🍁 Adhya Sinta 🍁🍁🍁
🍁
Rima pulang ke apartemen. Tanpa Rima sadari sebelumnya. Ternyata Ilham tinggal di gedung yang sama. Hanya saja di lantai yang berbeda. Untung saja tadi Ilham ada pekerjaan mendadak. Sehingga Ilham tak jadi mengantarnya pulang. Rima sangat merasa bersalah menolak lamaran Ilham.
Tapi mau bagaimana lagi. Hati Rima masih belum bisa menerima hati lain yang masuk. Bayang-bayang luka dari Irsyad masih ada. Rima ingin semua membaik dulu. Rima rasa ia telah salah mencintai Irsyad terlalu berlebih. Seharusnya hanya Allah yang ia cintai seperti itu. Pada harapan yang nyata. Bukan harapan pada manusia yang semu.
Agnes sudah ada di apartemen dan sedang beristirahat di hari liburnya ini. Sesampainya di apartemen Rima langsung melaksanakan shalat dzuhur. Setelah itu ia mencoba menghubungi sahabatnya, Najwa.
"Assalamu'alaikum" ujar seorang wanita yang muncul di layar ponsel Rima lewat video call.
"Wa'alaikumsalam" sahut Rima dengan senyum yang mengembang.
"Tumben nelpon jam segini. Biasanya sibuk kerja".
"Yah, lagi libur nih. Makanya dapet waktu luang. Ow ya gimana kabarmu sama si calon ponakan akuhh" tanya Rima. Najwa terkekeh, sejak Najwa hamil Rima menyebut calon bayinya itu sebagai keponakannya.
"Alhamdulillah sehat" jawab Najwa. "Tante Rima sendiri gimana kabarnya?" tanya Najwa.
"Alhamdulillah. Eh jangan tante deh manggil nya Wa. Panggil aunty aja. Biar keren".
"Ihh gini nih kelamaan di London. Maunya pake bahasa Inggris" ejek Najwa.
"Hehe. Nggak papa loh. Dari pada tante. Agak gimana gitu. Cocokan aunty Rima".
"Iya deh aunty Rima" ujar Najwa sambil terkekeh diikuti Rima yang juga tertawa puas.
"Najwa aku mau nanya nih?".
"Tinggal tanya loh".
"Emm. Salah nggak aku nolak lamaran seorang pria dengan alasan belum bisa membuka hati untuk cinta yang baru?" tanya Rima.
Najwa diam sejenak. "Itu udah terjadi atau kamu baru mau nolak?".
"Udah"
"Kalo menolak lamaran pria atau khitbah dalam Islam adalah diperbolehkan. Namun, dalam penolakan tersebut harus dengan tata cara yang halus dan lembut tanpa menyinggung perasaan si pelamar tapi intinya tetaplah menolak lamaran, agar tidak menimbulkan fitnah dalam Islam dan tidak menyakiti hati orang lain".
"Tidak mengapa menolak khitbah/pinangan lelaki sholih, jika hatimu tidak ada keinginan menikah dengannya, dan bukan karena membenci kesholihannya"
"Karena itu adalah hak seorang wanita untuk menerima suatu pinangan ataupun menolaknya. Dan kamu menolaknya juga dengan alasan yang masih bisa dipikir olehnya" ucap Najwa.
"Tapi alangkah baiknya jika kamu menerima lamaran seorang pria yang sholih. Bukankah jika kamu menjadi istrinya dia bisa membimbingmu untuk melupakan rasa sakit hatimu Rim. Dengan adanya seseorang yang baru di hatimu. Kamu akan bisa melupakan Irsyad bukan. Tapi ingat semua tergantung padamu, keputusan ada ditanganmu. Selalu minta Allah untuk menunjukkan mana yang baik dan yang tidak untukmu" ujar Najwa. Rima tersentuh mendengar penjelasan Najwa. Ia pun menjadi semakin paham.
"Terimakasih Najwa. Kamu memang yang paling mengerti aku. InsyaAllah aku yakin dengan keputusaan yang aku buat. Untuk kedua kalinya" ujar Rima sambil tersenyum ragu dengan yang ia rasa ini.
🍁
"Alhamdulillah Bunda. Aku disini sehat-sehat kok. Bunda disana sehat kan?" tanya Ilham pada bundanya lewat panggilan suara.
"Alhamdulillah sehat" jawab Bunda Risa.
"Bun gimana Zafran udah bilang Bunda tentang perempuan yang Zafran suka?" tanya Ilham.
"Udah. Ayah juga udah tau kok. Ayah juga udah nelpon ayahnya Dina kemaren. InsyaAllah sabtu besok kita mau ke Jakarta buat khitbah Dina" jelas Bunda Risa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naungan Cintamu
EspiritualSpritual-Romance 🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Ketika tiba saatnya untuk memilih. Pilihan yang sulit harus Rima ambil. Ia harus memilih yang bisa membawanya ke jalan Allah. Namun, pilihan itu ternyata salah. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Dan membuatnya ha...
