41. Tenggelam dan Terbit

72 7 4
                                        

"Setelah yang bersinar itu padam, akan ada yang kembali hadir menyinari gelap itu. Sama seperti saat matahari itu mulai tenggelam meninggalkan keceriaan siang, maka bulan akan menggantikan tugasnya menyinari malam memberikan kedamaian di tengah kesunyian malam"

🍁🍁 Adhya Sinta 🍁🍁🍁

🍁

Rima menggerakkan kakinya tak sabar. Sebentar lagi sekitar lima menit mereka sampai di rumah Rima. Ilham melihat dengan jelas dari spion depan. Ingin rasanya menenangkan Rima memeluknya untuk membiarkannya menangis di bahunya. Namun, mereka masih terlarang untuk menyatu. Ilham frustasi melihat Rima yang sejak dalam perjalanan menahan tangisnya.

Berkali-kali Ilham hanya bisa mengatakan untuk Rima mengikhlaskan semua yang terjadi. Sesampainya du rumah, siang itu Rima langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Kerudung yang ia kenakan terlihat lusuh.

Rima langsung memeluk Uminya yang masih tampak sekali sembab dimatanya. Terlambat untuk Rima bisa melihat Abinya untuk terakhir kalinya. Karena pagi tadi Abinya sudah di makamkan. Awalnya keluarga ingin menunggu Rima sampai baru melakukan proses pemakaman. Namun Rima merasa itu akan menyiksa Abinya, ia mengetahui kalau ada seseorang yang meninggal haruslah segera di makamkan. Apabila terlalu lama akan menyakiti mayat orang itu.

Ilham mengikuti Rima masuk sambil membawa koper Rima bersalaman pada orang-orang yang ada di dalam rumah itu.

"Bang, saya turut berdukacita. Abang sekeluarga harus ikhlas dan sabar. Ini mungkin yang terbaik dari Allah" ucap Ilham pada Luqman.

"Thanks Ham. InsyaAllah kami sekeluarga ikhlas. Makasih udah jagain Rima sampe rumah. Kalo nggak ada kamu. Saya nggak tau gimana Rima bakal jaga dirinya sendiri selama perjalanan pulang dalam keadaan kayak gini" ucap Luqman sambil memeluk Ilham beberapa saat.
"Sama-sama Bang. Walaupun nggak saya temenin. Saya rasa Rima perempuan yang kuat kok bang" ucap Ilham tersenyum tulus.

Rima yang masih syok pun terus menangis di pelukan Uminya. Tanpa suara. Hanya isakan tertahan yang terdengar oleh telinga Fatimah. Fatimah berusaha sebisa mungkin tetap tegar agar Rima ikut tegar dan mengikhlaskan Abinya.
"Umi. Kenapa Abi jahat sama Rima. Rima tau kalau Rima itu anak yang nggak baik. Kemaren Abi minta Rima pulang tapi Rima bilang nggak bisa. Padahal Rima itu kangen banget sama Abi. Kenapa Abi pergi. kenapa? Abi nggak tau apa kalo Rima itu lagi ada masalah disana. Seharusnya Abi ada buat semangatin Rima. Nasehatin Rima. Tapi Abi malah pergi" ujar Rima terisak hebat. Pertahan diri Rima pun hancur seketika.

Syifa yang melihat itu hanya bisa ikut menangis. Tak kuasa melihat adik iparnya seperti itu, Syifa pun pergi.

Luqman mencoba menasihati Rima untuk iikhla. Tali Rima masih kekeh menginginkan Abinya untuk kembali. Sakit terenyuh hati Ilham melihat Rima seperti itu. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu dan menenangkannya.

Luqman menghampiri Rima. Sebagai satu-satunya pria di keluarga itu. Ia berusaha kuat. "Rima. Kamu nggak boleh ngomong gitu. Abi udah tenang. Sekarang Abi mau kita ikhlasin kepergian Abi. Abi bakal marah kalo liat kamu kayak gini" Luqman mengusap kepala Rima yang masih dalam pelukan Umi Fatimah.

"Hiksss. Abang nggak tau kan kalo Abi pengen banget Rima pulang. Dan Rima udah kurang ajar sama Abi, karena nggak mau pulang. Rima jadi pembangkang sekarang" Tangisan terus mengikuti ucapan Rima.

Luqman tak menjawab. Hanya terus mengusap kepala Rima dengan lembut.

🍁

Hampir setengah jam Rima terisak dalam pelukam Uminya sampai kepalanya pusing. Berkali-kali semua orang menyuruhnya untuk tenang, namun ia tetap tak bisa tenang. Tiba-tiba Rima melepas pelukan Uminya, lalu bangkit dan langsung berlari keluar.

Naungan CintamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang