"Jujur, mencintaimu adalah suatu hal yang sangat aku sukai sebelumnya. Namun sekarang aku membenci itu. Yang membuatku merasakan sakitnya harapan yang kamu patahkan"
🍁🍁🍁 Adhya Sinta 🍁🍁🍁
🍁
Hati mana yang tak tersakiti, jika yang kamu nanti tak kembali untukmu. Dan penantianmu itu terasa sia-sia. Pasti rasanya sangat menyakitan, dan air mata. Air mata terus mengalir tanpa izin dari sang pemilik luka.
Keadaan hati yang kacau, membuatnya meminta izin pada atasannya untuk kembali ke Jakarta. Dan meminta untuk tidak ditugaskan ke London dulu untuk sementara waktu.
Pilihan pulang ke Bandung pun ia ambil setelah ia shalat zuhur. Rima butuh kembali ke rumah untuk menenangkan hatinya. Dan disinilah Rima sekarang berada.
Pukul satu dini hari, Rima sudah sampai di Bandung. Kepulangannya kali ini, Rima tidak memberi tau orang taunya dan Abangnya. Karena pikiranya sekarang sedang kacau.
Sekarang Rima tengah berdiri di depan pintu Rumah. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumah. Namun, tak kunjung dibuka oleh pemilik rumah. Untunglah tadi pak satpam rumah ini tadi langsung membukakan pintu gerbang untuknya.
Jleek. Akhirnya setelah menuggu cukup lama pintu pun dibuka.
"Loh! Rima!" Luqman yang muncul dari dalam rumah itu terkejut bukan main melihat adiknya berdiri di hadapannya.
Rima tersenyum. "Assalamualaikum Bang" ujarnya lesu. Ia lelah setelah menempuh perjalanan udara yang cukup lama. Juga lelah karena perasaannya yang kini tengah carut marut.
"Waalaikumsalam. Kok kamu balik sekarang?" tanya Luqman sambil menarik tangan adiknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kerjaan Rima udah selesai bang" jawab Rima singkat.
"Kalo mau pulang kenapa nggak ngabarin dulu? Terus kenapa nggak nelpon abang? Kamu pulang naik taksi malem-malem gini?" tanya Luqman beruntun setelah mengunci pintu. Mereka berdua pun duduk di sofa.
"Maaf bang" Rima menunduk menatap karpet. Luqman menatap adiknya itu. Dan Luqman pun bisa mengerti, dari wajah adiknya yang sendu. Terlihat dari mata Luqman, sembab yang ada di mata Rima. Pasti adiknya ini terus menangis semenjak Rima membaca surat itu.
Luqman memaklumi itu. Memang ini adalah hal yang sulit untuk Rima. Wajar jika Rima bersedih.
"Kalo kamu nggak kuat nahan semuanya sendiri. Inget ada Abang, Abi, Umi bahkan mbak Syifa yang selalu ada. Kita nggak akan ninggalin kamu. Luapin semua sekarang, kalo emang itu bisa buat kamu lebih tenang" ujar Luqman
Seketika Rima yang masih mengenakan tas punggung langsung memeluk Luqman. Saat itu juga isak tangis Rima pecah. Dibalasnya pelukan adiknya itu sambil mengelus pundak Rima.
"Hikss, kenapa saat rasa cinta Rima terbalas bukannya kebahagiaan yang Rima dapet malah kepedihan ini yang Rima rasain Bang" rengek Rima di pelukan Abangya.
"Selama ini, Rima menanti lama banget empat tahun lebih tanpa sedikit pun Rima berniat berpaling. Rima selalu mendoakan Irsyad untuk jadi pendamping penyempurna agamaku. Hikss, kenapa rasanya sesesak ini". Tangisnya semakin histeris. Bayangan isi surat itu terus muncul di pikirannya.
Luqman merasa kasihan pada Rima. Untuk pertama kalinya Rima patah hati. Dan itu begitu membuat Rima rapuh seketika. Pertama kalinya Luqman melihat Rima serapuh ini.
"Kamu yang sabar. Mungkin Irsyad bukan yang terbaik. Akan ada seseorang di sana yang lebih baik darinya untuk kamu" ujar Luqman.
Rima tak menjawab dan masih sesengukkan menangis. Dari arah ruang keluarga datang Syifa dengan gamis polos dan kerudung senada ungu. Syifa memperhatikan Luqman yang tengah memeluk Rima dan menghampiri mereka.
Luqman yang menangkap kehadiran Syifa pun mengulum senyum. Lalu menggerakkan mulut menyebut nama Rima tanpa suara.
"Rima salah bang, Rima terlalu berharap ke dia. Perasaan suka itu mungkin bukan cinta. Seandainya Rima nggak suka ke dia dan langsung nolak lamarannya. Mungkin Rima nggak akan sesakit ini" Rima menyesal. Ucapannya terbata-bata karena tangisnnya itu.
"Hush, nggak boleh berkata 'seandainya'. Itu sama aja kamu nggak terima takdir Allah. Kamu nggak boleh kayak gitu. Jangan juga salahin diri kamu, bukannya Irsyad udah bilang untuk nggak nyalahin diri sendiri" tergur Luqman masih memeluk Rima.
"Rima. Kamu boleh luapin semua rasa sakitmu dengan nangis. Tapi jangan sampe lupa kalo semua ini sudah diatur oleh Allah. Seperti Abangmu bilang tadi ini mungkin yang terbaik buat kamu" ujar Syifa menatap sedih Rima.
Rima yang baru menyadari kehadiran Syifa pun melepas pelukan Abangnya. Dengan wajah yang terbasahi air mata, ia menatap sendu Syifa.
"Nih minum dulu, tenangin diri dulu" Syifa mengulurkan gelas ke Luqman yang kemudian Luqman berikan ke Rima. Setelah meminum air, tangisannya mulai mereda. Air matanya masih mengalir namun tangisannya tak lagi histeris.
Rima menaruh kepala di pundak Abangnya. Memang sejak kecil jika ia sedih. Luqmanlah yang menjadi sandarannya. Seperti dulu ketika Abinya memarahinya karena Rima tidak mau minum obat, saat itu Abi Ibnu baru pulang kerja. Rima menangis dan berlari mencari Abangnya.
"Abi sama Umi tau nggak kamu pulang?" tanya Luqman yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Rima.
"Terus..."
"Mas udah, jangan nanya-nanya Rima dulu. Dia itu masih capek" tegur Syifa memotong perkataan Luqman yang sudah siap mengintrogasi Rima.
"Iya iya" Luqman mengiyakan.
Rima yang sudah mulai tenang pun mengelap wajahnya yang basah.
"Bang, Mbak. Rima nginep sini beberapa hari boleh ya?".
"Kenapa mau nginep tumben" ujar Luqman agak ketus. Tak serius Luqman hanya bercanda saja.
"Ishh Abang mah. Rima tuh lagi sedih. Rima nggak mau pulang ke rumah. Nanti Abi, Umi sedih liat Rima sedih" rengek Rima.
Luqman tersenyum mendengar rengekkan Rima.
"Kamu itu ya nggak berubah dari kecil. Selalu kalo sedih selalu larinya ke Abang, terus Abang nggak boleh cerita ke Abi, Umi lagi. Terus jadi adek kecilnya abang ya" ujar Luqman sambil mencubit pipi tembem Rima.
"Abanggg!! Sakit tau" protes Rima. Hidungnya memerah karena menangis tadi jadi semaki merah setelah dicubit Abangnya.
Syifa yang sejak awal mengenal keluarga Luqman sudah tau tentang keakraban Luqman dan Rima. Ia senang jika melihat Luqman yang selalu peduli dan menyayangi Rima. Syifa tak merasa iri, karena ia juga mempunyai seorang kakak.
Memang seorang kakak itu harus menyayangi adiknya. Tak peduli bagaimana caranya seorang kakak menunjukkan kasih sayangnya. Kalau seorang kakak sering mengganggu adiknya, bukannya ia tidak sayang. Justru itu cara dia menunjukkan kasih sayangnya. Biarpun ia tidak menyadari itu.
Rima masih bersandar di bahu Abangnya. Sementara Syifa sudah meninggalkan mereka berdua untuk meyiapkan kamar tamu.
"Abang makasih udah kasih Rima pelukan hangat untuk Rima jadiin sadaran kesedihan Rima".
"Rima sayang Abang Luqman" ujar Rima kemudian kembali memeluk Luqman.
"Abang juga sayang sama Rima. Abang harap kamu bahagia selalu. Dan semoga nanti kamu akan dapet seseorang yang bisa menjadi sandarnmu saat sedih, selain Abang" ucap Luqman.
🍁🍁🍁
Assalamu'alaikum
Hai hai hai👋👋
Aku balik lagi nih. Maaf beberapa hari belakangan nggak update.
Maklum dunia nyata memang sangat sibuk.
Aku cuma mau ngingetin kalo aku bakal kasih jadwal update nih. Aku bakal update seminggu sekali itu dihari kamis atau sabtu. Jadi terua tungguin aja yah.
Semangat semua 💪💪
Jangan lupa shalat lima waktunya. Baca Al-Qur'an nya jangan ketinggalan ya. 😊😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Naungan Cintamu
SpiritualSpritual-Romance 🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 Ketika tiba saatnya untuk memilih. Pilihan yang sulit harus Rima ambil. Ia harus memilih yang bisa membawanya ke jalan Allah. Namun, pilihan itu ternyata salah. Kembali ia harus menelan kekecewaan. Dan membuatnya ha...
