5 - Antagonis

347 21 4
                                    

Setelah bel tanda istirahat berbunyi, seperti sekolah pada umumnya. Siswa siswi pasti langsung menghambur keluar. Berbeda dengan gadis satu ini, dia masih diam sembari menatap tangannya, hanya menunjukan lengkungan sabit yang tidak lepas dari wajahnya. Gadis itu teringat bahwa telapak tangan ini sudah menjadi saksi dan bukti bahwa Galih menggenggamnya kemarin. Dengan perasaan yang lagi lagi menghangat, gadis itu tak bisa menyembunyikan senyuman yang terus tersungging di wajahnya.

Sedang teman sebangkunya menatap April bingung. Gisel menyipitkan matanya melihat sikap aneh April. Tangannya terangkat begitu saja menyentuh dahi April lalu berganti menyentuh dahinya.

"Normal kok, gak anget anget amat"
Gadis yang kembali sadar dengan akal sehatnya menatap kearah teman sebangkunya dengan mengerutkan kening.

"Emang kenapa?"
"lo dari tadi senyam senyum sendiri. Ga jelas. Ya gue pikir lo sakit, emang sakit?"
April spontan menggelengkan kepala.
"Lo mulai stres ya gara gara mapelnya Pak Damar tadi? "
"Ha?,bukannya gitu"
"Terus?"
"Ga papa,"
"Dih? " Gisel melotot sebentar pada April, gadis itu kemudian berdecak tak mengerti.

"Kekantin aja yuk?"
"Ha? E, enggak deh, lo aja,"
"Lo kenapa sih kalo gue ajak ke kantin pasti gak mau? "
"Gak papa"
"Cewek banget jawabannya, ya udah gue duluan. Lo gak mau nitip?"

April lagi lagi menggelengkan kepala. Gisel mengangguk sebentar lalu beranjak dan pergi dari kelas menuju kantin.

Melihat Gisel yang sudah pergi, tak berlama lama duduk di kelas, gadis itu langsung beranjak dari bangku. Pasalnya kelas semakin sepi, sedang teman sekelas April hanya tertinggal beberapa dan gadis itu tidak bisa mengakrabkan diri dengan mereka. April memutuskan untuk keluar kelas dan berdiri menyandar pada tembok sambil menatap ke lantai bawah. Tepatnya lapangan basket. Kalian pasti bisa menebak, bahwasannya tak lain, dan tak bukan, gadis itu tanpa sadar sedang mencari Galih.

Melihat Galih disana, gadis itu tersenyum. Tak lama, dia memutuskan untuk turun dan melihat Galih lebih dekat. Entah keputusan yang tepat atau bukan. Hingga sampai di salah satu kursi panjang. Dia duduk disana, menikmati suasana. Matanya tak melepas pandangan, dan bibirnya tak henti tersenyum, menatap dari jauh Galih yang sedang memainkan bola basketnya. Lagi lagi jantungnya berdetak tak karuan, seperti kata orang mungkin dia sedang jatuh cinta.

"Rasanya senang bisa liat Galih gini, gak papa kan Tuhan, kalo April liatin Galih dari kejauhan?" Gumam gadis itu dalam hati.

Entah keberuntungan apa tiba tiba saja mata mereka bertemu, Galih melambaikan tangannya kearah April. April menengok kearah sekitar, tak ada orang. Dia memastikan Galih melambaikan tangan kearahnya, dan ternyata iya. Cowok itu menghampiri April yang sedang menatap Galih bingung.

"Lagi ngapain disini? Suka basket?" Tanyanya seraya duduk disebelah April. Namun matanya masih menatap kearah lapangan.

"Nggak juga, em maksudnya gak suka olahraga," jawab April membuat Galih menatap kearahnya seraya menautkan alisnya bingung.

"Sukanya gue ya?" Canda Galih yang langsung membuat April mendelik. Pipinya langsung merah tiba tiba. Rasanya pipinya panas sedang telapak tangan nya berasa beku. April menatap Galih tanpa berkedip, hingga lambaian tangan Galih didepan wajahnya langsung membuatnya sadar.

"Lo gak papa?" Tanyanya membuat April salah tingkah.
"Gak kok,"
"Gue bercanda, jangan serius nanggepinnya, nanti lo baper gue repot, gimana?"

"Um, a ng.. Gak, bukannya gitu," April tergagap, lagi lagi dia tak bisa berbicara lancar karena gugup.

"Haha, lo polos banget jadi lucu"

"Ha?" Hanya itu yang berhasil dia ucapkan. Perkataan "lucu" yang diucapkan Galih bermakna ambigu untuknya. Maksudnya lucu bagaimana? Lucu yang seperti itu, yang seperti imut dan suka? Atau.. Lucu yang memalukan?. April sepertinya terlalu berharap besar.

Pieces Hurt [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang