14-Bermain Topeng

220 12 1
                                    

Semanis apapun senyum mu untuk menyembunyikan kesedihan, aku tetap tau. Karena aku merasakannya.
Mei.

//

"Sekali lagi maaf ya Me," ucap April yang lagi lagi merasa tidak enak.
Mei tersenyum, cowok itu mengacak rambut April gemas. "Gak harus di jawab sekarang kok Pril, lo pikirin aja dulu, "

April ikut tersenyum, gadis itu pamit pada Mei untuk masuk ke dalam rumah.
"Dadah.." ucapnya sambil melambaikan tangan. Mei tersenyum hangat, meluluhkan siapapun yang melihatnya.

Sesampainya dirumah, April mendapati ayahnya sudah di depan pintu. "Ayah udah pulang?" Tanya April.

"Jam pulang sekolah kamu sesore ini?" Suara yang terkesan dingin justru balik bertanya.

April menggeleng, dia melihat jam ditangan kanannya. Sudah pukul setengah enam lewat, wajar saja ayah bertanya seperti itu, karena setau Dani jam sekolahnya hanya sampai jam tiga seperempat.
"April habis makan bareng temen yah," jujur April.

"Pacaran?"

April tertegun, gadis itu kembali menggeleng. "Bukan kok yah, cuma teman, aku sama Mei ga ada apa apa"

"Kamu tau saya gak suka kebohongan?" Suara Dani terdengar semakin dingin. April menunduk, takut menatap mata ayahnya yang seolah akan menyayat setiap congkak matanya.

Dani menarik tangan April kasar, gadis itu tak memberontak sama sekali. Yang ada dalam pikirannya hanya ketakutan, takut yang benar benar takut.

"Kalo ada orang tua ngomong itu di jawab!" Nada suara Dani terdengar tajam, lebih meninggi dari sebelumnya. Tubuh April mulai bergetar ketakukan, tanpa sadar air matanya juga sudah menetes begitu saja.

"Kalo bukan pacar kamu siapa? Gak di Jogja gak disini sama aja! Dasar kelakuan!" Dani memijit alisnya pelan, sebelum meneruskan ucapannya. " Kamu pikir karena saya sibuk saya tidak tau kelakuan kamu disana sana? Saya susah susah cari uang buat kamu sekolah, tapi kamu justru belajar jadi orang tak bermoral kaya wanita jalangmu itu! gitu?! "

Suara hujatan tadi seperti belati yang terus menusuk ke relungnya. Apalagi dengan membawa istilah yang selalu Dani luncurkan untuk mamanya. Sosok yang sudah lama tidak dia jumpai itu. Kaki April bergetar hebat, namun gadis itu tak peduli, dia hanya ingin pergi meninggalkan suara yang seolah mematikannya dari dalam.

Baru saat dia akan melangkahkan kakinya, Dani menarik tangan April kasar dan Plak!

April meringis saat pipinya terasa perih akibat tamparan ayahnya. Air mata itu keluar begitu saja. Sambil memegangi pipinya dia menunduk.

Sedang disisi lain, Randa yang tadi sedang didapur bergegas menuju ruang tamu. Dadanya ikut sesak saat melihat April yang dianggapnya sebagai anak sendiri tak berdaya dihadapan tuannya. Ingin melerai namun tak berani, Randa hanya mendekat ke arah mereka tanpa bicara.

"Kalo ada orang tua ngomong itu didengarkan! Malah mau ditinggal?!" Bentaknya semakin membuat April meringkuk.

" Bukannya sekolah yang bener malah Maghrib baru pulang? saya sudah khawatir kenapa kamu belum pulang dari tadi! Ngeluyur kemana kamu ha?!!" Bentak ayahnya lagi.

Dani mencengkeram bahu April membuat April menatap kearah ayahnya. Gadis itu melepaskan tangan di pipinya. Saat melihat darah keluar dari sudut bibir gadis itu, urat yang tadi keluar dari leher jenjangnya melemas. Semua amarah yang tadinya naik ke ubun ubun menjadi rasa bersalah yang membuat batinnya terpukul. Lagi lagi dia kelewatan batas.

Pieces Hurt [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang