28 - Tungkus

143 6 0
                                    

Mei terus menggandeng tangan April seolah tidak akan pernah melepaskan. Ya, memang selalu seperti ini, masih ingat 'hak milik?' Cowok itu terus terusan menunjukan senyum pongah pada siswa siswi yang berdesis tak menyukai kemesraan mereka. Haha mereka itu sebenarnya cuma iri, mungkin gara gara gak laku, atau? Karena mereka sendiri tidak seberuntung April dan Mei yang bahkan membuat semesta takluk untuk mengabadikan kisah mereka. Mungkin terlalu indah, selalu indah walau entah nanti berakhir bahagia atau berujung luka.

Dengan cekatan Mei langsung mengambil helm bogo dan mengenakan nya pada kepala April. Cowok itu menoel hidung macung gadis itu membuat keduanya terkekeh girang. Ah, seandainya selalu seperti ini, seandainya perasaan bahagia ini abadi. Mungkin April dan Mei akan memilih selalu hidup di dunia walau mereka sudah di iming-imingi surga. Benar saja, tidak ada yang lebih indah dari perasaan yang selalu bermekaran ini, selalu berbunga dan memberikan aroma paling wangi se-semesta.

"Yuk pulang" Mei mengajak April yang masih tersenyum dengan sikap manis Mei. Gadis itu mengangguk semangat dan segera menaiki motor kekasihnya itu. Tangannya terulur begitu saja melingkari pinggang Mei, kepalanya bersandar pada punggung lebar cowok itu. Nyaman.

"Bumi baik ya Pril, buktinya aja dia udah ngasih kesempatan ke aku biar bisa kenal sama kamu" Mei mulai membuka obrolan, sesekali tatapannya mengarah ke spion menatap separuh wajah gadis itu yang tenggelam karena punggungnya.

April terlihat mengangguk setuju. "Baik banget, kabar baiknya lagi, dia bikin kita seerat ini, aku gak mau lepas, intinya gak akan" Mei berusaha menyembunyikan senyumnya dari tatapan mencuri nakal April lewat spion.

Saat berada di lampu merah cowok itu mengelus pelan tangan April yang masih erat melingkar di pinggang nya. "Aku sayang sama kamu.." Mei mengatakannya. Gadis di belakangnya menutup mata, menikmati desiran hangat itu lagi, sambil berharap;semoga perasaan ini tidak pernah selesai.

Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau, Mei berdecak sedikit kesal karena waktu terus saja berjalan begitu cepat, seolah sengaja supaya April dan Mei tidak lagi berbagi kasih sayang lama lama. Dasar tidak adil! Mei yakin diantara segala hal yang ada dalam semesta ini, yang paling iri dengan hubungan mereka adalah waktu. Kalau saja mereka bisa bertatap muka, pasti Mei sudah menghantam mukanya dan membuat dia mati saja. Biar tidak ada lagi malam dan siang, biar tidak ada lagi yang memisahkannya dengan April.

"Aku juga sayang Mei.." April menjawab pernyataan Mei saat di lampu lalu lintas tadi. Sejenak, Mei lupa kekesalannya dengan waktu.

Cowok itu sengaja memelankan laju motornya sambil mengingat lagi kabar baik hari ini, dia menoleh sedikit pada April untuk memberitahukannya. "Ohiya Pril, sempet mau lupa, nanti malem aku bakal ada latian band langsung di studio rekamannya"

April terperangah penuh haru, "seriusan?"

"Double, triple serius! Aku deg degan banget sumpah"

"Kamu pasti bisa kok!"

Mei mengangguk yakin, ya dia yakin dia pasti bisa selama April terus mendukungnya seperti ini. "Kamu harus datang nanti pokoknya!"

"Iya iyaa,, nanti aku pastikan bakal datang "

Tak terasa, walau sudah di pelankan laju motornya, tiba tiba saja mereka sudah sampai di depan rumah April. April segera turun dari motor dan Mei dengan sigap membantu April melepaskan helm yang dia kenakan. April pernah bilang 'tidak susah, tidak perlu segitunya', tapi Mei selalu menjawab 'perlu segitunya'. Dan setelah itu, Mei selalu melakukan hal yang sebenarnya April juga bisa melakukannya.
"Nanti aku jemput kamu ya jam tujuh"

April mengangguk. Dia segera membuka gerbang dan masuk kedalam rumah. April melambaikan tangannya saat Mei masih menatapnya dari jauh. Gadis itu berbalik dan melangkah masuk kedalam rumah. Dan Mei pun mulai melajukan motor nya lagi menjauh dari kediaman pacarnya.

Pieces Hurt [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang