Mei turun dari motornya dan berjalan memasuki halaman rumah gadis yang notabennya kini adalah pacarnya itu. Dia menekan bel rumah tiga kali, tak lama pintu rumah itu terbuka. Bukan seorang gadis yang dia tunggu, justru pria paruh baya yang keluar dari rumah itu. Mei tersenyum kikuk sambil menyalami tangan Dani.
"April di rumah om?" Tanyanya basa basi, ah suasananya sedikit canggung. Sebenarnya Mei merasa kurang nyaman mengingat pertemuan terakhir mereka yang begitu buruk.
Namun berbeda dengan Dani yang sepertinya sudah lupa, ayah dari pacarnya itu menjawab pertanyaan Mei dengan hangat. "Iya, dia di rumah, kalian mau jalan?" Tanyanya.
Mei mengangguk, "iya om, " timpalnya."April... Sudah ada Mei disini, gak baik cowok nunggu kelamaan, cepat gih," panggil Dani setengah berteriak kedalam rumah. "Iyaa bentar ayah," timpal April.
"Kamu mau nunggu disini atau didalam?" Tanyanya lagi."Eh, disini aja om," jawab Mei seadanya. Melihat Dani yang sudah bersikap biasa membuatnya merasa sedikit tenang. Mungkin hubungan ayah dan anak yang sempat mengkhawatirkan itu sudah membaik. Mei menghembuskan nafasnya lega.
"Oh iya duduk aja dulu," ucap Dani seraya menunjuk pada bangku didepan rumahnya. Mei mengangguk seraya mengikuti langkah Dani dan duduk di bangku berhadapan dengannya. "Kalian udah jadian?" Tanya Dani akhirnya.
Mei mengangguk pelan, "iyaa om," jawab Mei sedikit gugup.
"Ya baguslah, om percaya sama kamu, kemarin om ngerasa gagal dalam menjaga April, dan sekarang om mau minta sama kamu, tolong bantu om buat jagain April.. " ucap Dani dengan nada memohon.
" om bahkan salah kira selama ini, om pikir April akan menjadi wanita kuat dengan ketegasan yang om lakukan, tapi ternyata dia juga sama kaya perempuan pada umumnya, sekuat apapun terlihat, mereka tetap lemah, terutama hatinya, kamu taukan maksud saya?"Mei tersenyum kecil menyiratkan maksud ucapan Dani. "Saya mengerti om, selagi saya mampu saya gak akan nyakitin dia om, " tutur Mei tulus.
"Saya pegang ucapanmu " tukas Dani seraya menepuk bahu Mei.
Detik setelahnya, April keluar dari dalam rumah. "Nah yang ditunggu akhirnya keluar juga," ujar Dani seraya beranjak dari duduknya lalu menghampiri tempat April berdiri.
Gadis itu hanya terkekeh pelan seraya menyalami tangan Dani meminta pamit. "April berangkat ya ayah,""Hati hati,"
April dan Mei mengangguk, kemudian menaiki motor yang dibawa Mei dan pergi dari rumah gadis itu. April mengaitkan kedua tangannya melingkar di pinggang Mei membuat cowok itu tersenyum tipis.
"Pril, sekarang pakene aku kamu aja ya?"April menaikan alisnya mencoba memastikan ucapan Mei tadi," aku kamu?"
"Iya, biar ada spesialnya gitu," timpal Mei membuat gadis dibelakangnya terkekeh pelan.
"Kamu.. Tadi ngapain aja lama banget?" Ucap Mei seraya melajukan motornya dengan santai.
Berbeda dengan April, dipastikan cewek itu sedang menahan sensasi debaran dalam hatinya. Ah lebay. Tapi begitulah, sambil mengontrol diri, April mendekatkan mulutnya pada helm Mei.
"Eh lama banget ya? Maaf, tadi sempet dan- ""Dandan?" Potong Mei seraya menoleh sedikit ke arah spion, gadis dibelakangnya terlihat mengangguk. "Udah cantik kenapa dandan? "
"Eh?"
Mei tertawa kecil melihat raut wajah April yang lagi lagi tersipu. Masih saja, padahal bukan sekali dua kali dia menggoda April seperti ini. "Kamu cantik, kalo dandan begini nanti bidadarinya iri sama kamu, karena kamu tambah cantik, " godanya lagi."Dih? Gombal" tukas April seraya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Bahkan gombalan receh seperti itu mampu membuatnya tersipu malu. Mei tertawa setelah itu.
Tak lama akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Pantai Ancol. Mungkin terlalu biasa, tapi tidak akan biasa saja dengan perasaan bahagia sedalam ini. Dua sejoli itu duduk dipasir pantai tanpa alas. Menikmati senja yang mulai menampakkan langit jingganya.
Mei sesekali mencuri pandang wajah gadis itu. Dan saat April menoleh kearahnya cowok itu terperangkap basah. Sambil menahan senyum, Mei mengalihkan tatapannya kearah langit. April mengerutkan alisnya bingung. "Kenapa liatin aku kaya gitu?" Tanyanya.
Sambil terus menatap langit cowok itu berkata, "karena aku cinta sama kamu" jawabnya. Spontan April ikut mengalihkan tatapannya kearah langit. Pipinya pasti sudah bersemu merah.
Mei terkekeh kecil melihat tingkah gadis polos disampingnya itu.
"Mata gak pernah salah Pril, apa yang dia tatap adalah sebuah perasaan, sama kaya aku menatap langit sekarang karena aku menyukai senja, dan aku menatapmu karena cinta, " ucapnya membuat gadis itu juga tersenyum kecil kearahnya."Kenapa kamu cinta sama aku Me?" Satu pertanyaan itu yang keluar dari mulut April, entahlah, kenapa gadis itu sangat ingin mendengar jawaban pertanyaan itu dari Mei.
" takdir?"
April mengernyitkan dahinya mendengar jawaban yang tidak begitu memuaskan. "Aku serius Mei!" Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
"Aku juga lagi gak bercanda, " Mei menatap dalam dalam mata April.Tatapan Mei yang meneduhkan mampu menenangkan tatapan April yang gelisah karena penasaran.
"Kamu tau cinta gak butuh alasan?""Terus suatu saat nanti kamu juga akan pergi tanpa alasan?"
Mei menghembuskan nafasnya pelan, " kalo pergi tanpa alasan artinya udah gak cinta," jawabnya.
"Jadi? Kasih aku kepastian Me," suara April sedikit parau, gadis itu menahan sesak didadanya. April hampir menangis, tapi gadis itu berusaha kuat kuat menahannya.
"maaf kalo jawaban aku gak pasti, kamu tau sendiri manusia tidak bisa mengatur masa depan, manusia hanya bisa merencanakan masa depan, sama kaya aku. Dan rencanaku kedepannya itu jadi teman hidupmu "
April menyunggingkan senyumnya, gadis itu memeluk Mei dengan hangat. Mei membalas pelukan April, tidak perduli dengan beberapa orang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Hingga keduanya melepaskan pelukan, Mei menautkan jemarinya pada April. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Mei. Menatap matahari yang mulai tenggelam dari balik langit. Biarkan senja dan semesta kali ini yang menjadi saksi bisu diantara keduanya, menjadi saksi untuk bahagia mereka hari ini.
Aku tak bisa munafik,
perasaan juga gak bisa seutuhnya, selamanya.
Jikapun masamasa indah ini akan berhenti di kemudian hari, aku yakin itu adalah yang terbaik yang Tuhan tuliskan.Jangan ragu jika sekarang hanya sebatas masalalu untuk masadepan.
Sebuah masa yang hanya mampu dikenang, bukan di genggam.
Jangan ragu,
Kamu tau Tuhan mencintai ku, dan aku mencintaimu.~April dan Mei~
_______

KAMU SEDANG MEMBACA
Pieces Hurt [Tamat]
Dla nastolatkówRank=> 8-bertepuk sebelah tangan (140619) 9-bertepuk sebelah tangan (250619) Sebuah Kehidupan SMA yang sebenarnya. Ceritanya sedikit terdengar *klise* sama kehidupan asli. Bukan dalam cerita sastra. Bukan tentang badgirl atau badboy at...