16- nyaman

209 11 0
                                    

"April!" Teriak Gisel mengagetkan sahabat yang tengah melamun di kelas. Lagi lagi kebiasaan.

"Gisel ih.."
"Ya lo sih jam segini udah ngalamun aja, kebiasan deh"

April hanya terkekeh tak lagi menggubris ucapan Gisel. Dia hanya teringat kejadian kemarin dengan Mei. Pipinya kembali terasa panas, entah harus seperti apa jika dia bertemu Mei nanti. Ya, dia juga sengaja menetap di kelas supaya tidak bertemu dengan Mei.

"Woy! Ngalamun lagi.. Kurang nutrisi kayaknya lo ni ah, ke kantin aja yok?"

April mengangguk mengiyakan, sepertinya jika dia mengalihkan perhatiannya sebentar dengan makan atau apapun akan menghentikannya memikirkan kejadian kemarin.

Kedua gadis itu sama sama melangkah keluar kelas menuju kantin. Dan saat berada ditengah jalan, siapa sangka jika mereka bertemu dengan Mei. April yang melihat cowok itu langsung membuang muka. Bukan karena tidak suka, tapi jantungnya yang rasanya seperti ingin keluar dari rongga.

"Hai Sel, Pril.." sapa Mei seperti biasa seolah tidak ada kejadian apa apa.

April diam, gadis itu mengunci kepalanya untuk menunduk. Sedang Gisel segera menyapa balik. "Mau ke kantin bareng?"

Mei yang mengamati sikap April merasa April sedikit berubah. "Kalo temen lo gak nyaman gue gak ikut gak papa"

April sedikit mendongak mendengar ucapan Mei tadi, Gisel ikut menatap kearah April seolah meminta penjelasan. "Kalian marahan?"
"Eh, e enggak kok" jawab April.
"Yaudah kalo engga gini, " Gisel menarik tangan April kearah Mei "kalian aja yang pergi ke kantin, gue titip Capcin gue anggap pajak jadian"
"Eh Sel?"
"Udah sana"

April diam, dia masih tidak tau bagaimana harus bersikap dengan Mei, dia hanya malu. April menatap Mei sebentar yang juga tengah menatapnya, segera dia mengalihkan tatapan mata nya. April segera melangkah lebih dulu, Mei menyusul di belakang. Cowok itu bingung kenapa April terasa aneh. Apa dia marah karena kejadian kemarin?

Setelah keduanya memesan makanan, mereka segera duduk di meja yang tadinya kosong. Mei masih tak mengatakan apapun sedari tadi. Dia ingin diam tapi mulutnya berasa gatal ketika harus mendiami cewek ini. Dia juga butuh penjelasan kenapa April berubah tiba tiba. Jika kalau April beneran tidak suka dengannya,  dia bisa mundur perlahan. Mundur dan memastikan mereka masih bisa bersama dan April masih nyaman di dekatnya.

"Maaf" ucap April akhirnya. Sontak mata Mei yang tadinya menatap makanan segera mencari wajah yang mendatangkan suara tapi justru tak melegakan perasaannya.

Sedang April tetap menunduk, dia bahkan masih malu untuk menatap Mei. Rasanya jantungnya ingin keluar, pipinya panas tak karuan.

"Buat apa?" Timpal Mei akhirnya.
"Karena udah diamin kamu dari tadi"
"Emang kenapa?"
"Apanya?" Kali ini tanpa sadar April menatap kearah mata Mei yang seolah menarik perhatian April dengan sangat hati hati.

"Kenapa lo harus diamin gue? Lo marah ke gue? Lo marah karena kemarin gue cium pipi lo?"

Blussssshhhh!
Pipi April kembali memanas, dia masih ingat jelas kejadian kemarin. Ketika mengingatnya dia merasa malu, bukan, bukan malu yang seperti itu, tapi malu karena gak tau lah gimana mau menjelaskannya. Dia tidak tau kenapa Mei bisa mengatakan hal ini dengan frontal, dia tidak tau kenapa Mei bisa bersikap biasa saja. Emang ini hal biasa?

Pieces Hurt [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang