10 - Perasaan dan Kenyataan

254 12 0
                                    

Perasaan itu sama,
Kenyataannya tak bisa bersama.
.
.

Galih mengikut kearah Mei pergi, mereka berhenti di salah satu trotoar yang lumayan sepi. Mei turun dari motornya namun masih berdiri disamping motor itu, sedang Galih, dia masih duduk di motor miliknya.

"Baru tadi pagi gue ngomong ke lo, jangan bikin April sakit hati lagi." ucap Mei.

"Gue gak pernah mengiyakan" timpal Galih datar seolah tanpa beban, berbeda dengan raut muka Mei yang sudah memerah seperti menahan amarah.

Mei segera berjalan menuju Galih, dia sengaja menarik kerah baju Galih membuat Galih turun dari motornya. "Gue gak bercanda! Gue gak suka liat dia nangis hanya karena cowok kaya lo!"

Sambil tersenyum kecut Galih membuang mukanya. " Lo suka sama April?"

"Bukan urusan lo anjing!" Mei segera memukul rahang cowok sok itu dengan beringas. Terlihat darah mulai keluar dari mulut Galih sekali tonjokan, dia tersungkur ketanah. Mei lagi lagi mengambil kerah seragam Galih hingga menariknya semakin tinggi, hampir pukulan kedua, namun Mei segera menghentikan tangannya dan menjatuhkan Galih ketanah.

Cowok itu segera menyingkir dari Galih, sedang Galih dia segera bangun dengan susah payah. Lalu tersenyum tipis, sudut bibirnya pecah membuatnya tak bisa melebarkan senyumnya. Sambil memegangi pipi dia meludah.

"Kenapa gak lanjut? Gue masih siap buat di hajar lebih dari lima kali" ucapnya dengan angkuh.

Mei tersenyum miring seolah meremehkan ucapan Galih. Dia berhenti karena Galih tak melawannya, cowok angkuh itu bahkan tidak menghindari pukulannya. Dia sendiri tidak yakin bahwa Galih sebodoh itu dalam berkelahi, seperti ada rahasia yang sedang Galih sembunyikan kali ini.
"Gue gak bisa mukul pengecut"

Galih terkekeh hambar mendengar ucapan Mei yang menyebutkan bahwa dia pengecut.
"Gue emang pengecut Me, itu alasan kenapa gue semudah itu bikin April sakit hati. Gue gak berharap lo paham, tapi gue berharap lo bisa bikin April lebih baik dari yang sekarang, dia butuh teman" ucap Galih yang kemudian menaiki motornya dan pergi meninggalkan Mei sendirian.

Galih mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Entah akan kemana dia pergi, namun tatapan sesal dalam mata Galih, terus membuat perasaan cowok itu benar benar tidak biasa saja. Ada nyeri yang entah datang dari mana.

Hingga tiba dia di depan rumah seseorang. Galih mengambil handphone dan mencoba menelphon seorang. Dia ingin menyelesaikan masalah yang belum selesai dengan benar. Namun sudah panggilan ketiga  telephon mereka belum tersambung. Cowok itu menghela nafasnya kasar. Rasa sesal itu terus saja terngiang dalam pikirananya membuat dia harus menyugar rambut frustasi.

Dan tak lama, ada sebuah motor berhenti didepannya, si pengendara turun dan melangkah kearah Galih, orang itu adalah sipemilik rumah dan orang yang ditelphon Galih. Kanza.

"Galih? Ngapain disini?" Tanyanya saat melihat seorang didepannya adalah Galih. Dia sedikit terkejut saat ternyata Galih berada didepan rumahnya, terlebih dengan kondisi wajah seperti ini.

"kamu kenapa?" Kanza mengambil wajah Galih yang babak belur. Dia memerhatikan sudut bibir Galih yang pecah.

Galih mengelakkan tangan Kanza. Ah sepertinya Kanza lupa bahwa Galih bukan miliknya lagi, dia reflek saat melihat luka di wajah Galih.

"Gue cuma mau ngomong sebentar, " ucap Galih akhirnya.

Kanza tak menghiraukan ucapan Galih, dia khawatir dengan kondisi mantan pacarnya ini. Dia menarik tangan Galih memasuki rumahnya. Saat berada diruang tamu Galih duduk, sedang Kanza masuk ke dapur. Dia mengambil sebaskom air hangat dan kain.

Pieces Hurt [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang