Sudah lebih dari 150 tahun sejak gelombang besar manusia menggempur kekuasaan lama, membakar panji-panji mereka yang terpancang di seluruh wilayah kolonial lalu memulai segalanya dari awal.
Sang Pahlawan telah membawa kedamaian dan kemerdekaan untuk jutaan warga yang tertindas, menghancurkan tali pengekang berupa hukum diskriminitas rasis yang memperbudak orang-orang pendatang dalam topeng wilayah suaka. Sudah sangat lama sejak perang kolonial baru pasca bencana gempa besar, negeri ini telah mencapai kedamaian, keteraturan dan kesejahteraan.
Hari ini, pertengahan bulan Agustus, tinggal beberapa hari lagi kami akan merayakan hari dimana pemerintahan baru bangkit, hari dimana para budak dibebaskan dan mendapat suaka yang sebenarnya.
Satu hari dimana aku menanyakan makna kehidupan ini di atas ranjang, sambil mendengarkan pekikan nyaring dari speaker-speaker besar yang terpajang di tiang-tiang listrik. Menusuk ke telinga setiap orang dan menjadi pemantik jiwa dan raga mereka segera bersiap.
Mungkin, sudah tidak ada lagi orang yang berharap pada masa yang mungkin, hanya sekedar utopis. Harapan itu yang memberi semangat, harapan itu yang dahulu mampu membangkitkanku dari tidur, harapan itu yang aku sari dari hymne yang tidak pernah absen mengalun tiap pagi, mengingatkan siapapun akan janji kesejahteraan, akan rasa syukur pada dunia yang damai. Tanpa lagi perang, tanpa lagi bencana besar.
Mungkin, kami sedang ada di era kejayaan dan kesejahteraan itu. Kami mungkin sedang membangun seluruh tanah ini guna mencapai keadaan yang lebih baik. Setiap pagi, yah setiap pagi dalam lima kali seminggu, aku menyakinkan diri akan pemikiran ini. Bahwa apa yang sedang terjadi hari ini, adalah jalan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan tersebut. Meski mungkin, akan dibutuhkan waktu hingga 150 tahun lagi untuk mencapainya, ini lebih baik daripada mengutuk keadaan dan mencoba melawan, atau akan membuat semuanya menjadi runyam dan terjadilah kekacauan. Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu di negeri seberang, hanya akan menyisahkan kekacauan dan anarki tak berkesudahan.
Melawan hanya akan menciptakan kekacauan yang lain, maka menjalani apa yang ada sesuai dengan peran adalah jalan terbaik. Itu adalah kalimat dari seorang kawan lama yang selalu aku patrikan dalam ingatan sejak ia mengatakannya beberapa minggu lalu, yang memupuk rasa percayaku lagi pada pemerintah, Dewan Distrik, dan Dunia yang selalu melawan kehendakku.
Karenanya, berkat kalimat itu, perlahan-lahan arah pikiranku mulai berubah. Harapan akan masa yang dijanjikan itu semakin besar dan membesar. Itu akhirnya merubah pemikiranku akan dunia, akan masa depan negeri ini. Harapan itu pula yang membawaku ke sini, meninggalkan kehidupan lamaku di wilayah pemukiman tenggara. Kehidupan yang dulu selalu aku sesalkan. Bahkan sekarang aku tak lagi ingat dengan jelas bagaimana suasana disana meski baru beberapa bulan yang lalu kami pergi.
Dengan sedikit senyuman yang selalu aku paksa melengkung di bibir, aku akan siap menghadapai hari.
Pagi ini, satu hari di pertengahan Agustus, aku segera bersiap untuk menjalankan peranku. Buruh Pabrik Protein Padat di kawasan Industri Distrik 2 di negeri yang dibebaskan, Agni
***
Setiap pagi dalam lima hari setiap minggunya, ada siklus rutin yang jarang kami lewatkan. Akan ada pemandangan kumpulan laki-laki berseragam biru tua yang mengerumuni sebuah kedai kecil yang sekali pandang mata melihat, jelas sekali hanya menopang tak lebih sepuluh orang. Lagi pula kursi-kursi besi itu selalu dingin, jarang terlihat orang yang duduk untuk menghabiskan kopi mereka atau mengobrol hangat. Para pengunjung kebanyakan adalah Buruh pabrik protein padat yang mampir untuk membeli satu cangkir kopi, lalu bergegas pergi menuju peron trem terdekat sambil membawa kopi sintetis mereka.
Meskipun secara rasa nyaris hambar dan aroma kopinya seakan-akan hanya pelengkap. Namun orang-orang di distrik 2, terutama para pekerja buruh selalu menyisihkan waktu untuk mampir ke kedai ini dan membeli kopi. Ini bukan ketidaksengajaan, agaknya semua orang setuju jika makan seonggok protein padat di pagi hari adalah permulaan yang buruk. Karena dipastikan lambungmu akan menolak makanan aneh itu. Mereka yang sering mengalami masalah karena protein padat, lebih memilik kopi ini sebagai alternatif. Sehingga munculah jargon yang cukup populer, Hal terbaik untuk memulai waktu pagimu adalah secangkir kopi pojok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]
Science FictionKisah-kisah lama telah hilang, dunia berganti pada lembaran baru. Tanah-tanah hijau itu jadi saksi dari tumbuhnya Tirani baru yang merongrong di era kebangkitan umat manusia. Jauh setelah gempa besar dan perang nuklir, segelintir umat manusia mulai...
![Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/176657590-64-k236586.jpg)