Hari ini memang melelahkan, namun aku tidak akan kalah dari perasaan ini karena malam ini saatnya Arvin untuk pulang. Aku sudah berada di rumah sakit sejak 2 jam lalu dan kami akan bersiap membawa Arvin pulang ke rumah kami. Setelah menyelesaikan beberapa pembayaran dan urusan andministrasi kami kembali ke Apartemen dengan trem antar distrik, satu satunya kendaraan bermesin yang memobilisasi penduduk secara cepat, berhubung Apartemen kami dekat dengan peron trem, tidak butuh waktu lama untuk bisa kembali ke rumah kami sendiri.
"Home Sweet Home, Selamat datang kerumah baru kita Ar." Ucapku sambil membawa beberapa perlengkapan ke dalam kamar Arvin.
"Kau berkata kita akan pindah ke distrik satu, tapi ini tidak ada bedanya dengan rumah lama kita, dan jauh lebih buruk, terutama baunya. Kau berbohong padaku." Arvin merebahkan tubuhnya diatas kasur tua di kamar yang aku tatakan untuknya. Wajahnya yang masih pucat tampak kesal dengan rambut kecoklatan yang sudah agak rapi.
"Bersabarlah, jika pekerjaanku sudah selesai. Kita akan pindah kembali." Aku memasukan beberapa pakaian bersih yang sempat kami bawa ke rumah sakit dulu, lalu memasukkan yang kotor untuk aku bersihkan di londri.
"Kau tidak pernah mengatakan pekerjaan apa yang kau lakukan kak, aku curiga kau mencuri sesuatu atau menjual barang haram."
Aku bimbang ingin menjawab apa, mana mungkin aku mengatakan aku bekerja sebagai mata-mata Amatir yang sedang mencari tokoh radikal paling di cari diseluruh Ursulanda?.
"Kak? Haloo? Ada orang di sana? Jawablah pertanyaanku!" Arvin bangkit dari posisi berbaring. Menatapku agak kesal. Anak ini memang suka memaksakan perintah.
" Aku bekerja sambilan sebagai teknisi Trem kota, hanya mengencangkan dan mengganti oli atau baut. Bukan hal yang sulit untuk dikerjakan namun menghasilkan uang sesungguhnya, bukan protein padat." Jawabku dusta, aku benci berdusta namun mau bagaimana lagi. Aku tidak ingin dia merasa aku membahayakan nyawaku sendiri demi dirinya.
"Berbicara mengenai protein padat, kenapa aku merindukan rasa agak asin dan gurih jeli kehitaman itu. Aku mulai merasa lapar, hehehe..." Begitulah Arvin, lambung karetnya tak pernah kenal sakit, meskipun ia sepenuhnya sedang sakit.
"Dasar rakus, tunggulah sebentar."Setelah selesai mengatur lemari dan isinya, aku bergegas menuju dapur dan membawa benda berbentuk jeli padat itu ke kamar. Beberapa saat sebelum sampai ke dapur, seseorang mengetuk pintu dan membuatku penasaran, siapa yang mau bertamu semalam ini?
Aku melihatnya melalui lubang intip, aku segera menyadari siapa orang tersebut setelah rambut kepirangan yang kucir dua khas itu nampak tergantung di kepalanya. Gadis itu nampak tidak asing, Aku memutar kenop dan gadis itu tersenyum ramah padaku.
"Belma! Hai." Aku mengatakan dirinya dalam-dalam.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, bolehkah aku masuk? Disini dingin." Lalu, kami berdua bercakap di ruang keluarga, aku sebisa mungkin menahan rasa kantuk dan kesal karena sepertinya orang ini ingin memberiku suatu informasi penting.
"Apa yang kau lakukan diperbatasan distrik 1?" Belum sempat aku duduk di sofa, ia sudah mengatakan sesuatu.
" Bukan apa apa, hanya semacam bisnis." Aku membenarkan posisi duduk dan menatapnya dalam.
"Apa kau tahu kondisi negeri akhir-akhir ini, terduga teroris mengerikan telah menyusup ke dalam kota dan melakukan perekrutan secara diam-diam, beberapa orang sudah ditangkap karena mengaku-aku sebagai anggota Pena Revolusi. Aku takut kau terlibat didalamnya." Mata hazel gadis Irlandia itu menatapku dengan cemas. Ia nampak baru saja pulang dari acara yang resmi, terlihat dari Blazer serta sarung tangan yang dia pakai. Itu pakaian yang terlihat cukup mahal.
"Tenanglah, ini hanya bisnis jual beli barang antik dan kuno, bukan hal yang mencurigakan lainnya. Kau berlebihan Belma." Jawabku.
"Bukan begitu maksudku, banyak kekerasan dan ketegangan diantara masyarakat dan itu mulai semakin buruk. Ujaran-ujaran kebencian dan banyak hal buruk sedang terjadi, mereka sudah mulai merubah pemikiran masyarakat di seluruh distrik. Upaya-upaya untuk menggulingkan pemerintahan mulai menguat. Aku takut jika kau terlibat Sal, aku takut." Ucapnya dan setelahnya nampak ia menggigit bibir bawahnya.
"Tenanglah, aku masih bisa menjaga diri. Aku tidak akan terlibat hal-hal buruk semacam itu, aku akan menjaga diri. Kau tahukan jenis film yang pernah aku lihat? Ku rasa pelatihan beladiri ku lengkap." Aku menunjukkan gerakan tangan yang aku pikir itu semacam gerakan muang-thai, karate atau mungkin silat.
"Baiklah, aku hanya akan memberitahukanmu hal ini, berhati-hatilah. Aku akan pulang." Ucapnya sambil berdiri dan menjabat tanganku. Tiba-tiba, ada sensasi geli yang menjalar dari tangan ke arah kepala.
Ini bukan hal yang biasa, Belma tidak pernah datang langsung hanya untuk menyampaikan kekawatiran. Ia memang peduli, namun tidak pernah secemas ini. atau jangan-jangan ia sudah tahu apa yang selama ini aku lakukan? Aku harap tidak. Aku tidak ingin menyeret wanita baik itu dalam masalah besar.
Aku menengok kembali ke kamar Arvin, dia masih menikmati protein padatnya sambil membaca sebuah buku yang entah dia ambil dari mana, mungkin dari rak buku diatas sana?
Aku menyenderkan tubuh di mulut pintu, " Hei, jangan lupa gosok gigimu sebelum tidur."
" Aku bukan anak kecil lagi, hal seperti tentu aku tahu." ucapnya sambil fokus ke buku yang dia baca.
Aku rasa Arvin telah membaik, oleh karena itu rasa-rasanya aku ingin segera tidur dan mengistirahatkan tubuhku, namun baru beberapa saat menjauh dari pintu, Silas tiba-tiba bertanya sesuatu yang sulit.
" Kak, kau menyukai wanita itu ya?"
" Wanita yang mana?"
" Jangan berbohong, tadi yang barusan mampir. Kurasa dia cocok untukmu." Dia tersenyum ramah seolah-olah hal yang baru saja dia sampaikan itu tidak bermaksud lain. seolah-olah yang dia katakan itu tidak ingin membuatku menghajarnya karena sembarangan mengatakan orang lain cocok denganku.
Jika saja, dia tidak sedang sakit. Sudah aku buat daging kepalanya bertambah. Jadi, sambil menahan kesal, aku tersenyum sambil menjawab pertanyaan tersebut. " Eh tidak kok, tidak ada apa-apa diantara kami, lekaslah tidur sekarang, sudah jam berapa, aku tidak ingin kesehatanmu memburuk karena kebiasaan begadangmu."
" Baiklah, tapi kak..." Akus egera menutup pintu kamarnya. Lalu, bernapas dengan lega.
Framecall yang terdiam mulai berdering dan mengubah suasana setelah nama penelepon yang muncul di Gawaiku. Layar framecall itu aku berdirikan dia atas meja, dan wajah pria paruh baya itu muncul disana.
"Oke Salasar, saatnya melapor. Kau sulit dihubungi. Aku khawatir terjadi apa-apa." Baron masih menatap beberapa data yang aku kirimkan beberapa waktu lalu sebelum menjemput Arvin.
"Aku menjemput adikku. Maaf sengaja aku matikan karena aku sedang tidak ingin diganggu." Jawabku.
"Terlalu berbahaya jika kau dalam mode luring, terlalu berbahaya jika mereka tahu apa yang sebenarnya. Sedang kami tidak bisa mengirimkan bala bantuan kepadamu." Seperti biasa, pria itu selalu khawatir.
"Cukup, aku sudah terlatih untuk masalah ini Baron. Santailah!" Jawabku agak membentak, ya aku lelah terus dianggap sebagai anaknya. Hei! Aku orang yang bebas!.
" Baiklah, kembali ke topik. Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Baron di depan layar komputernya.
"Urusan administrasi pabrik, aku harus punya alasan bagus untuk mengambil cuti baru setelah itu akan beraksi." Jawabku sepontan.
Beberapa jam dari waktu itu, seperti pada awal misi aku dan Baron akan jatuh dalam perdebatan untuk kelancaran misi kami besok. Misi yang akan merubah semua yang aku percayai, semua yang aku ketahui.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]
Science FictionKisah-kisah lama telah hilang, dunia berganti pada lembaran baru. Tanah-tanah hijau itu jadi saksi dari tumbuhnya Tirani baru yang merongrong di era kebangkitan umat manusia. Jauh setelah gempa besar dan perang nuklir, segelintir umat manusia mulai...
![Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/176657590-64-k236586.jpg)