[ Bagian 1 : Serangan Kedua ]

24 1 0
                                        

Pagi-pagi sekali, setelah kami selesai bersih-bersih, Tuan Takamura membawakan kami pakaian standar di komunitas ini. Dia tidak ingin kami membangkitkan masalah karena seragam yang kami miliki. Ia juga menemani kami untuk pergi ke ruang kantin untuk jatah sarapan pagi. Semuanya benar-benar diatur dan dijadwal. Kami segera menghampiri gerombolan orang-orang yang menuju ke unit ruangan yang besar dan memanjang, nampak seperti kafetaria di sekolah Arvin. Tidak seperti dugaanku, ruang makan ini ternyata sangat luas, memanjang ke dalam. Meskipun dari samping hanya nampak seperti jejeran dari lima unit rumah, namun sebenarnya merupakan gabungan dari puluhan unit rumah menjadi satu. Kami masuk secara beriringan, Belma berada di depanku. Tidak banyak yang dapat kami jadikan pilihan, hanya beberapa potong kentang, daging dan sesuatu yang mirip dengan butiran biji namun lembek. Aku sempat bingung namun penjaga kantin membantuku dengan menjawab jenis makanan apa yang aku makan. Dia menyebutnya itu Nasi.

Kami memutuskan duduk berjejer, Tuan Takamura ada disamping Belma, sedangkan aku berada disamping Tuan Takamura. Belma nampaknya familiar dengan benda tersebut, buktinya dia menyuapi makanan tersebut kemulut tidak kalah cepat seperti dia saat memakan roti. Maklum saja, aku baru sadar bahwa kami tidak pernah makan semenjak kabur dari markas DFA. Semua orang terlihat makan dengan lahap, orang-orang yang mungkin sudah kehilangan harapan. Beberapa nampak bercengkrama dengan kelompok mereka, ada juga yang membawa beberapa mesin-mesin aneh dan membuat sesuatu di atas meja. Ada yang tatapan matanya sangat kosong, makan dengan tanpa jiwa. Mereka nampak seperti makhluk zombie, pelan dan nampak tidak merasakan apapun. Belma menyikutku dan mengembalikanku ke kesadaran.

" Makanlah dan berhenti menatap orang-orang itu dengan iba." Ucap Belma.

" Bukan karena iba, tapi lihatlah. Kau lihat orang itu?" Aku menunjukk ke arah dimana laki-laki yang nampak seperti zombie itu makan.

Tiba-tiba, Tuan Takamura masuk ke pembicaraan kami. " Oh, namanya Zain. Seluruh keluarganya dibunuh pada malam penyerangan. Hanya dia yang tersisa dari keluarganya. Tak ada yang bisa membuatnya tersenyum, bahkan psikiatri super baik kita, nona Helen tidak mampu mengembalikan senyumannya. Tenang saja, dia aman. Dia berada di bawah pengawasan Tim Medis."

Aku mengangguk, aku paham bagaimana rasa kehilangan tersebut. Mekipun DFA telah menghapus hampir keseluruhan memori masa laluku, namun ada beberapa ingatan yang muncul. Tentang masa kecilku yang samar. Tentang rasa kehilangan yang mendalam. Aku sungguh beruntung, mungkin jika saja aku tidak ditangkap DFA dan dijadikan boneka oleh mereka, aku bisa sama buruknya dengan anak itu, bahkan lebih buruk. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan sarapan dan berdoa aagar ia dapat kuat menghadapi peristiwa ini. Akan tetapi, Belma berpikiran lain. dia menyeretku untuk duduk menghadap ke arah anak tersebut, bersamaan dengan Tuan Takamura yang ikut mengekor. Belma nampak antusias, dia memang suka menjadi tempat curhat siapapun.

" Hai, boleh aku tahu namamu?" Saat kami mendekat, ekspresi anak itu bingung dan ketakutan. dia menghentikan makan dan emnaruh kedua tangannya dibawah meja. Rambut hitam lepek dengan iris keabu-abuan itu merasa terintimidasi. Dia menatap kami satu persatu, tegang. Seakan-akan ada sesuatu yang dia lihat dari kami.

" Tenang Zain, orang-orang ini tidak berbahaya, mereka hanya ingin berkenalan denganmu." Tuan Takamura mendekat ke arah Zain dan mengusap bahunya. Dia nampak tenang berada dekat dengan Tuan Takamura. Belma masih menjulurkan tangannya.

Perlahan, tangan mungil Zain membalas uluran tangan Belma, lalu perlahan dia mulai tersenyum. Aku melakukan hal yang sama, dia juga membalas tanganku, namun tidak dengan senyuman yang sama dengan Belma. Merasa sudah satu frekuensi, Belma mulai menanyakan lagi pertanyaan sebelumnya.

" Na-namaku Za-in, aku berasal dari sini, kalian berasal darimana?" Ucapnya, ia mulai menunjukkan sifat kooperatif, kedua tanganya tidak lagi disembunyikan.

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang