Masa skorsing tiga hariku sudah selesai, luka di dahi juga tidak lagi menciptakan jaringan parut yang mengerikan. Hanya menciptakan bekas keloid memanjang yang perlahan akan tersamarkan dalam beberapa waktu. Tubuh rasanya lebih enteng, obat-obatan yang dibelikan Belma kemarin—yah dia tidak berhenti begitu saja setelah membantuku memasang plester—adalah penyebabnya. Aku menyempatkan waktu untuk merapikan diri di depan cermin, melihat bagaimana perubahan dari diriku setelah lama tidak melihat potret diriku sendiri lewat cermin. Benda itu sedikit berdebu, namun masih bisa menampakkan wajahku dengan sangat baik. Wajah yang kusam, dengan keloid yang menggangu di pelipis serta bekas-bekas bopeng lain di beberapa bagian wajah. Titik kecil tahi lalat itu masih bertengger di dekat cuping hidung. Seakan mneyapau setelah sekian lama aku tidak bisa melihatnya.
Waktu berlalu begitu cepat sejak beberapa hari terakhir. Selama masa hukuman, aku habiskan kebosanan dengan berlarian di sepanjang jalur aspal baru distrik, terkadang pergi ke area perkebunan di distrik 5, serta melakukan wajib lapor selama tiga kali dua puluh empat jam sekali di perbatasan antar distrik dua dan tiga. Pengawasanku mulai diperketat karena pelanggaran kemarin. Selama itu pula, Baron seakan menghilang, namun janji sisa uang itu benar-benar ia kirimkan. Rasanya agak tenang, namun aku tidak bisa begitu tenang. Bagaimana jika Baron sudah tidak lagi memakai diriku? Bagaimana jika tidak ada lagi kerjasama? Bagaimana jika selama tiga hari terakhir ini, dia memutuskan sepihak untuk tidak lagi melanjutkan kontrak? Semua kekhawatiran itulah yang ikut mewarnai tiga hari kosong dalam hidupku.
Namun, terkadang kesepian dan kekosongan, serta kekhawatiran itu sirna sekejap saat Belma datang berkunjung. Dia akan menceritakan banyak hal-hal yang menyenangkan setiap sore, terkadang membantuku untuk merawat lukaku lalu kita menghabiskan waktu malam di Holo cafe. Menonton film-film picisan murahan dari saluran TV pemerintah yang sengaja mereka berikan untuk masyarakat Urban, bermain beberapa video game baru, atau versi remake dari video game lama—yang sampai sekarang, aku tidak tahu berasal dari tahun berapa—dan siapapun yang kalah, harus membelikan satu gelas ukuran besar minuman yang disebut Spuild, singkatan dari Spark's Liquid.
Satu-satunya produk dari Holo Cafe yang rasanya paling aneh seantero Agni. Meminum cairan ini adalah hukuman, bukan sebuah hadiah. Ia meletup-letup saat berada di gelas, dan seakan merusak interior mulutmu saat diminum. Itu seakan ribuan ikan rebon mengigiti lidahmu dalam serentak satu komando. Sehingga banyak juga yang menyebut minuman ini, bir ikan. Akan tetapi, tidak penting dengan minuman atau apapun itu yang selalu kami lakukan, hal yang paling mendasar adalah, hubungan kami selama ini menjadi lebih akrab dari hari biasanya.
Aku menganggap ini sebagai ganti atas tiga bulan Terakhir diriku hanya berfokus pada tugas rahasia, meski secara kuantitas itu tidak berimbang. Pun, Belma tidak terlihat keberatan, mungkin saja dia belum menyadarinya atau bisa saja dia sudah menyadari namun pura-pura tidak peduli. Entahlah, perempuan ini sangat sulit untuk ditebak.
Saat kami mulai kelelahan meminum Spluid dan memakan kentang goreng sintetis, kami berhenti bermain game holo. Apa yang diteriakan orang-orang di cafe ini menjadi lebih menarik, mereka bilang ada pemutaran film terbaru dari Rumah Produksi Agma, atau Agni Cinema. Satu-satunya perusahaan dibawah naungan milik pemerintah yang memproduksi jenis-jenis film yang menjadi santapan bagi seluruh masyarakat di distrik.
Itu adalah film-film kisah romansa dan terkadang juga aksi yang plotnya sederhana dan tidak terlalu memusingkan, akan tetapi tidak terlalu menarik dan menurutku cenderung membosankan. Karena kesemua serinya hampir mirip, nyaris tidak ada yang membedakan, yang membedakan di tiap serinya hanya tokoh dan latar sosialnya. Bagiku ini membosankan, kecuali latar musik dan wajah para tokohnya yang sering berubah.
Pegawai Holo Cafe meredupkan lampu-lampu dan mengubah ilusi dinding menjadi lebih gelap dan dipenuhi tititk-titik bintang yang indah. Lalu, layar holo tv di proyeksikan ke dinding sehingga nampak lebih besar. Selanjutnya, saat musik latar dan logo Agma muncul, Belma mendekatkan arah duduknya kepadaku, aku agak merasa risih namun mulai terbiasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]
Fiksi IlmiahKisah-kisah lama telah hilang, dunia berganti pada lembaran baru. Tanah-tanah hijau itu jadi saksi dari tumbuhnya Tirani baru yang merongrong di era kebangkitan umat manusia. Jauh setelah gempa besar dan perang nuklir, segelintir umat manusia mulai...
![Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/176657590-64-k236586.jpg)