[ Bagian 2 : Operasi Gang Merah ]

22 1 0
                                        

Semerbak aroma jamur dinding dan debu menggelitik hidungku bersamaan dengan kembalinya kesadaran. Setelah berusaha memahami keadaan dan mengingat-ingat kejadian beberapa menit yang lalu, aku mendapati diri terikat kuat pada kursi lipat dengan tambang kuat yang membuatku kesulitan bergerak dan bernapas. Aku berada di ruangan gelap dengan satu lampu besar temaram terpasang diatas sana dan dinding-dinding beton yang kusam dan bercorak rembesan air.

 Aku menyisir terus ruangan ini dan menemukan hanya pintu besi berkunci putar yang jadi pembeda disini, semuanya tertutup dan dinding kusam yang berhiaskan lubang udara kecil di dekat atapnya. Ku berusaha memahami ini semua dan aku teringat beberapa menit yang lalu, Karanto menyuntikan cairan bius kepadaku dan membawaku kesini, ia bahkan tahu nama asliku. Sial! Kedokku telah terbuka, untuk pertama kalinya dalam pengintaian. Semua peralatan rahasiaku tak lagi ada ditempatnya, yang tersisa adalah pakaian yang melekat ditubuhku dan dibanjiri oleh keringat.

Pintu besi itu berderit mengusik telinga, seseorang dengan pakaian necis dan berjas menghampiri kursiku, ia nampak seperti seorang akuntan atau notaris tanah, namun kenyataannya dia bukanlah itu. Beberapa detik kemudian, suara mesin hidrolik terdengar. Sebuah meja dadakan keluar begitu saja diantara aku dan si pria necis, terangkat dari lantai secara otomatis. Dengan mata yang awas, pria itu mengambil benda yang seperti alat pijat, dan satu chip kecil yang merupakan alat komunikasi rahasiaku dengan Baron, kesemuanya adalah milikku!

Ia menaruhnya didepanku, diatas meja lantai tersebut dan menghadapkannya paadaku, seakan-akan meminta penjelasan atas semua itu. Ia lalu mengeluarkan sebentuk benda kotak dengan dua antena baja kecil diatasnya, masih dengan tatapan intimidasi yang mengerikan, suara hidrolik kembali terdengar. Kini, lantai dibawah bokong si pria necis tersebut terangkat dan terciptalah kursi. Ohh!...terpujlah perancang gedung ini atas segala kepraktisan yang ia rancang.

Lelaki itu lalu berdehem, membenarkan kemeja putih berjas hitamnya yang sebenarnya sudah nampak pas dan cocok. Lalu kami memulai percakapan hangat dengan seperangkat senjata mematikan dan kejut listrik yang bisa diatur ke voltase mematikan.

"Baiklah! Kau tahu kenapa kau ada disini, tuan Arga, atau Salasar lebih tepatnya?" Lelaki tersebut masih melihatku dengan tatapan sinis, akupun menatapnya dengan tatapan sinis juga.

"Kau bertanya pada orang yang baru saja diculik dan dibawa kesini dalam keadaan dibius, kau salah bertanya kawan." Aku masih memandangi matanya yang mulai gugup.

Ekor matanya bergerak ke kanan dan kekiri, ia nampak mencari-cari sebuah jawaban, lalu kembali menatapku dengan tajam, meski agak gemetaran. Apa ia takut padaku?.

"Baiklah, pertanyaan yang lain. dengan siapa kau bekerja?" Ia mengencangkan genggamannya pada kejut listrik.

"Pentingkah aku menjawab pertanyaan itu?" aku menatapnya jenaka. Hanya untuk menguji apakah benda kotak itu benar-benar asli atau hanya mainan.

Beberapa detik kemudian, aku merasakan kebas nyaris diseluruh tubuh dan tersentak kebelakang, tubuhku bergetar dan kepala serasa dipukul dari samping kanan dan kiri. Nafasku jadi berat dan terasa lelah. Benda itu benar-benar asli. Ia baru saja mneyentakku dengan tegangan listrik yang membuatku linglung sekejap.

Aku terjungkal ke lantai dengan kursi yang masih melekat, pria necis tersebut mendekat dengan segera dan menarik rambutku agar bisa menatapku. Wajah orang tersebut kini nampak beringas, dengan moncong kejut listrik yang didekatkan ke leher, kulit pria itu menjadi merah dan urat-urat nadinya nampak mengeras,. Aku bisa merasakan hembusan nafas pria itu di pipi kananku. Aku yang mengalami paralisis sesaat hanya bisa menatapnya dengan dongkol, menyesal aku menguji senjata itu. Mataku berusaha tersadar saat pria itu mengembalikan kursi ke posisi semula, matanya masih menatapku dengan seringai yang membuat merinding. Lalu, dengan agak condong kedepan ia melanjutkan pernyataan.

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang