[ Bagian 4 : Misi Terakhir ]

27 0 0
                                        

"Selamat datang di toko buku tua kami, silakan lihat-lihat dulu." Ia memancarkan senyum seakan-akan ia tak pernah melihat seseorang datang sebelumnya. Tampak kemeja rapi yang berwarna biru menempel ditubuhnya, lengkap dengan celana panjang berwarna coklat krim. Dari bentuk wajah serta warna kulitnya yang kecolat-coklatan, ia tidak memiliki darah orang asing seperti kebanyakan penduduk Agni.

Aku melepas kacamata dan sekarang berubah menjadi mode kamera tersembunyi, aku mengaitkannya di kerah baju agar Baron juga bisa mengamati dari sana, aku balas salam hangat pria tersebut dengan anggukan sopan, lalu beralih fokus ke buku-buku yang ditata rapi di rak-rak kayu ini. kebanyakan buku disini adalah bekas, karena aku tidak mellihat satupun buku yang masih bersampul plastik.

Suasana menjadi semakin suram ketika orang yang menyapaku tadi meminta ijin untuk membenarkan beberapa lampu dibelakang. Rasa sepi mendadak menyergap, apalagi ditambah dengan pencahayaan yang minim dan kaca yang tidak bisa diandalkan untuk memberi cahaya matahari masuk ke dalam toko. Saat aku mengambil dan membaca sebentar sebuah buku tentang fauna, pria tersebut ternyata sudah kembali dan berdiri disampingku.

"Buku yang kau baca itu aku dapatkannya dari seorang pelancong yang sangat kelaparan, aku membeli buku tersebut dengan sepuluh Bit, jika kau mau, kau bisa mendapatkannya dengan dua belas bit." Ia mengambil buku tersebut dari tanganku dan mulai menjelaskan secara singkat bab-bab yang menurutnya bagus, sepertinya pria ini sudah membaca semua buku yang ia jual.

Ia menatapku sebentar, dan aku nyaris terlarut dalam perkataan orang tua tersebut." Ma-maaf, tapi bukan buku ini yang sedang aku cari."

"Oh! Untuk pemuda sepertimu mungkin kau mau beberapa novel, kami..."

" Sajak tentang dunia lama, kau punya buku itu tuan..." aku sengaja memanjangkan kata tuan agar aku tahu nama orang ini, tentunya untuk keperluan Baron dalam mencari informasi tentang orang ini.

"Revan, panggil saja saya seperti itu. Kami punya buku itu, tunggu sebentar..." Tuan Revan melenggang pergi ke belakang meja kasir berbentuk L tersebut dan mencari sesuatu yang kupikir buku yang sedang kucari.

"... dulu, buku itu pernah jadi best seller toko kami saat Gerakan Revolusianis lima tahun lalu ramai dibicarakan. Sekarang, orang-orang sudah tak seberani dulu melawan pemerintahan, sepertinya gerakan revolusianis sudah tidak lagi terjadi." Pria itu masih berbicara sedangkan kedua tangannya sibuk memindahkan dus-dus berisi buku-buku tua yang tidak sempat dipajang di rak. Aku mendekat ke arah kasir untuk mengintip, kemudian tuan Revan berdiri lagi sambil membawa sebuah dus karton yang berdebu dan penuh dengan buku-buku tebal.

Ia membongkarnya, ada banyak buku dengan berbagai ukuran ketebalan. Aku tidak pernah membaca buku cerita atau cerita-cerita non fiksi lainnya. Bukan karena tidak bisa membaca, namun karena aku memang orang yang tidak terlalu menyukai hal ini, sekolahku dulu juga lebih berfokus pada ketrampilan fisik daripada ketrampilan verbal atau kata. Sehingga, kemampuan membaca hanya dipakai untuk beberapa hal yang bersifat praktis dan bermanfaat dalam dunia kerja serta umum saja.

Tiba-tiba, Baron menghubungiku melalui Interkom." Nama lengkap orang ini adalah Revan Adiyuga, pernah dipenjara selama lima belas tahun karena keterlibatannya dalam anggota geng Kapak Hitam, geng berandalan yang suka merampok di wilayah pertambangan distrik tiga. Ia dicurigai sebagai salah satu simpatisan yang membantu Pena Revolusi bisa tinggal di kota ini secara diam-diam. Buku-buku yang ada di toko ini, bisa menjadi semuanya mengajarkan akan ideologi penyatuan. Berhati-hatilah Sal, aku mendeteksi ada senjata api dibalik bajunya, dan ia orang yang ahli menyamar sama seperti dirimu, jangan sampai kedokmu terlepas."

"Nah! Ini dia. Untuk buku ini kau bisa mendapatkannya percuma. Bersiaplah untuk mengetahui rahasia besar dari seluruh negeri kita." Ia menyodorkan buku tersebut dan aku menerimanya. Ia tersenyum menang seolah-olah ia menemukan seseorang yang sedang ia cari selama ini. Aku berusaha tersenyum unutk membalasnya dan memasang siasat pura-pura mengiyakan.

Aku membuka lembar-lembar pertama buku tersebut, warna sampulnya merah gelap bagai darah dengan tulisan yang diberi font mirip tetesan tinta. Terkesan buku ini memberi makna penuh misteri. Lembar-lembar pertamanya menggunakan diksi yang seakan-akan mata pancing, ia menggiring kita untuk terus membaca dan membaca bab-bab selanjutnya. Pantas saja jika buku ini pernah memancing gerakan revolusi karena kata-katanya yang begitu persuatif lalu menggambarkan sebuah perasaan penuh derita dan ambisi, setiap katanya membawaku ke sebuah titik pencerahan dan seakan-akan memberiku sebuah pengetahuan dari sesuatu yang selama ini ditutup-tutupi oleh pihak birokrat.

"Kau terlihat asing disini, dari mana asalmu?" Revan Bertanya padaku saat aku hampir menghabiskan bab pertama buku ini

"Oh! Namaku Arga, datang dari distrik tiga..." Dustaku, tentunnya untuk menyembunyikan jati diri. "...berbicara mengenai buku yang luar biasa ini, aku ingin bertemu dengan orang hebat ini. Apa kau pernah berjumpa dengannya?" Ku harap aku bisa bertemu dengan orang ini dan menyelesaikan misi ini.

Ia mendekat padaku." Aku ingin mengatakannya tapi ini rahasia, rahasia terbesar yang kami..."

"...Kami?" Baiklah, satu langkah lagi.

" Aku tidak bisa mengatakan kami ini siapa, kami tidak bisa mengatakannya padamu karena waktunya belum siap. Pemerintah terus menerus memperketat pencarian dan mereka mengirim banyak mata-mata. Maaf bukannya kami tidak percaya padamu, tapi ancaman bisa datang dari mana saja bukan?" Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat sedikit ketakutan. Lalu ia berjalan mundur dan mengambil sesuatu dibelakang tubuhnya sendiri.

"Salasar berhati-hatilah!" Baron terdengar panik di balik interkom, sedangkan aku kebingungan antara ambil tindakan defensif atau bertingkah sebagai orang kota yang awam.

Ia menaruh pistol itu diatas meja kasir, aku tidak tahu jenis pistol apa yang ia pakai. Namun melihat dari desainnya, aku yakin itu pelubang tengkorak yang efektif. "Kami sekarang memiliki sistem yang lebih ketat untuk menghindari hal-hal yang tidak kami inginkan. Kami punya lusinan daftar-daftar orang yang harus kami waspadai, tapi entah kenapa namamu tidak ada di daftar kami. Mungkin bisa jadi kau adalah pemain baru. Segala kemungkinan itu ada bukan?"

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang