[ Bagian 2 : Serangan Kedua ]

22 1 0
                                        


Rasanya dingin dan tidak nyaman, jauh dari ranjang tidur di ruang operasi khusus. Bunyi-bunyi mesin sangat mengganggu namun hanya itu satu-satunya cara agar kami bisa mengakses pikiran kami masing-masing. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat kami lakukan. Di balik ruangan dengan jendela besar, meskipun tidak sebesar di DFA, kusuma dan beberapa koleganya sedang duduk menunggu proses yang melelahkan ini berlangsung. Wajahnya terlihat tegang, tak pernah sekalipun tangan dan kakinya berhenti bergerak kecuali saat dia menggigit kukunya atau mondar-mandir ke kanan dan ke kiri. Aku bisa menyaksikan dia sangat tidak sabar, dan benar saja, dia lalu mencomot speaker.

" Tuan Takamura, apakah bisa dipercepat.?"

Pria setengah jepang yang masih mengencangkan sabuk mengikat kami itu merespon dengan sangat tenang dan santai. " Tiinggal sedikit lagi nyonya, sebentar lagi injeksi katalis akan dilakukan."

Sesuai yang dia katakan, jarum sepanjang satu jengkal itu ditusukkan dan melesak ke dalam pembuluh darahku, aku bergidik nyeri namun memilih menahannya dengan mengigit bibir. Kemudian giliran Arvin yang mengalami hal tersebut. Tuan Takamura mengatakan bahwa dosis yang diberikan Arvin dilebihkan dan bisa membawanya ke level Alpha, sedangkan aku akan tetap sadar. Menurut penjelasannya, katalis ini akan mensingkronkan kepala kami dalam frekuensi yang saling berinterferensi. Hanya saja dosis yang diberikan pada Arvin akan membuatnya tidak sadar, sedangkan aku mungkin hanya pusing-pusing dan sedikit mual.

Tuan Takamura menghadap ke arah kaca dan membungkuk pergi setelah semua sudah siap, aku merasa sedikit tegang. Arvin nampak sedikit tegang, dadanya kembang kempis dengan cepat, namun aku tahu itu tidak akan lama. " Semuanya akan berjalan begitu saja, santailah." Aku berusaha membuatnya nyaman.

Dia hanya mengangguk, lalu napasnya mulai teratur. Dari arah dimana Nyonya Kusuma berdiri, dia mengambil microfon kecil itu lagi. Lalu mulai berbincang dengan kami.

" Baiklah, Arvin dan Silas, semoga perjalanan kalian menemukan memori tersebut akan lancar, dalam satu putaran penuh pada tuas yang ada didepanku, zat katalis akan disuntikkan ke pembuluh darah kalian, dan mungkin akan membangkitkan beberapa memori-memori yang tidak menyenangkan, namun itu hanya sebentar, sampai kami akhirnya dapat emncapai memori tersembunyi tersebut. Kami akan selalu berada disini, jika kalian mengalami masalah dan tersadar, segera tekan tombol yang ada di samping kanan ranjang kalian. semoga beruntung, semoga Tuhan menjaga petualangan kalian. Proses injeksi dimulai.

Suara alarm mulai terdengar, lalu suara gadis komputer terdengar.

Proses injeksi dilaksanakan, 100 ml total dosis katalis memori sudah dipersiapkan, 25 ml dalam proses, 45 ml dalam proses, 60 ml dalam proses, 70 ml dalam proses...

Suara gadis itu terus terdengar hingga berhenti berucap, kesadaran Arvin sudah hilang sejak 75 ml cairan masuk ke dalam tubuhnya, sedangkan aku mulai merasa pusing ketika dosisku yang hanya 25 ml sudah masuk ke dalam tubuhku. Setelah semua selesai, disuntikkan, aku kehilangan berat badan, terasa seperti melayang diangkasa, orientasiku akan arah seperti hilang dan rasanya seperti melayang-layang tapi bukan melayang. Sulit diidentifikasikan. Dalam samar pandangan yang buram, aku bisa melihat layar-layar komputer akrilik di depan Tuan Takamura nampak menyala kebiruan, begitupun dengan layar-layar hologram di ruangan dibalik dinding kaca. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat, ada sedikit suara dan lambat laun aku tidak mendegar suara apapun, rasanya sunyi selama beberapa detik. Kemudian, kilaan-kilasan memori yang lain muncul dalam kepalaku. Aku tidak bisa mengindentifikasikan dengan jelas, itu terlihat seperti ruangan sempit, memiliki celah-celah disepanjang pintunya. Aku mendapati diriku tengah mengintip dan menemukan banyak kaki berjajar, lalu saat aku melihat sesuatu dengan bentuk memanjang, lebar dan mengkilap hendak di julurkan ke arah depan, aku membuka pintu. Bayangan-bayangan berikutnya membawaku pada pandangan buram lain dimana aku melihat seseorang telah melakukan sesuatu dengan benda panjang itu, ia seperti menghujamkannya pada seseorang, dan rasa aneh namun familiar mengusik pikiranku. Menciptakan suatu kesan yang amat pilu dan amarah dalam waktu bersamaan.

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang