[ Bagian 1 : Perjumpaan ]

21 1 0
                                        

Langit diatas kami melukis hal terindah. Ada semburat warna jingga yang dipadukan dengan beberapa garis awan yang nampak teriluminasi oleh cahaya matahari yang mulai surut. Belma memandanginya dengan takjub, bersamaan dengan deru air laut yang indah, suasana ini nampak syahdu. Ia nampak berbeda saat dalam keadaan seperti ini. Aku ikut memandang ke langit, mencoba merasakan deburan ombak dan kesiur angin yang membelai rambutku dan rambutnya. Rasanya seluruh jiwa ini seperti diguyur oleh se ember ketenangan dan kekaguman, apalagi ditambah fakta bahwa Arvin masih hidup membuat rasanya semakin mengharukan. Sempat aku bertanya, apa perjalanan kami ini akan berhasil? Apa revolusi yang pernah aku cita-citakan dengan Arvin nanti akan benar-benar terjadi? Apakah Ursulanda akan kembali mencapai era kedamaian seperti dalam kisah-kisah lama.

Entahlah, 150 tahun lalu dunia berbeda, banyak kisah sejarah yang hilang dan sengaja dihapuskan oleh pemerintahan Agni. Sehingga mereka menentukan apa yang seharusnya kita pelajari dan apa yang tidak boleh kita pelajari. Sekolah hanya menjadi media doktrinasi negara dan idelogi mereka, tidak ada esensi tentang pendidikan itu sendiri, miris melihatnya. Namun, bagaimanapun aku bukanlah apa-apa, aku produk dari doktrinasi itu. Kami telah kehilangan prinsip kebebasan berpendapat dan kebebasan berpikir, di era ini mereka yang punya uang akan mempunyai takdir yang baik, sedangkan mereka yang gagal akan terbuang di wilayah New Land, dihapuskan atau menjadi budak atau bahkan lebih parahnya tak terurus dan terluntang-lantung di jalanan. Kondisi seperti ini tidak boleh terus terjadi, Agni harus mengalami revolusi begitupun Ursulanda. Kedelapan negara harusnya bersatu untuk mencapai masa depan dunia yang lebih baik. Seharusnya kita adalah satu, bukan terpisah-pisah dan terkotak-kotakkan karena perbedaan paham, kepentingan dan politik yang seharusnya menjadi tali pengerat kebersamaan, bukan alat untuk menghancurkan dan saling memusnahkan.

Belma mengejutkanku, dia memanggilku dari tempatnya duduk. " Sil, kenapa kau begitu diam sekarang?"

" Aku tidak diam, hanya berpikir. Pemerintah Agni memang harus dihentikan. Mereka mencegah persatuan ke delapan negara dan menciptakan permusuhan abadi kita dengan semangat nasionalis. Kurasa kita berdua terlalu naif, mencoba merubah dunia dengan jalan revolusi, dengan kekuatan yang hanya kami miliki, ini seperti mencoba mengalahkan seekor gajah dengan semut." Aku mulai putus aasa, matahari senjaga sepertinya mengatakan hal yang sama.

" Apa kau pernah mendengar kisah tentang sekawanan semut yang melawan Sekawanan gajah?" Belma mencoba memberikanku stimulus sepertinya.

" Belum" jawabku singkat, rasanya sedang tidak bersemangat mendengar cerita dari siapapun apalagi menebak cerita konyol dimana gajah melawan semut.

" Diceritakan bahwa gajah telah mencuri ladang dari para semut..."

"...Untuk apa Gajah mencuri di kebun Semut?" potongku karena mulai terganggu, Belma nampak mulai kesal.

" Dengarkan ceritaku dulu bodoh, suatu waktu sekawanan gajah menghancurkan taman jagung dan kentang milik para semut, mereka memakan semua yang ada disana. para semua menyerang namun tidak ada efek apapun, sampai kemudian pada suatu malam ditempat rahasia, disaat para gajah terlelap, mereka membuat strategi balas dendam, kau tahu apa yang mereka strategikan?" Belma mulai bertingkah seolah-olah aku anak seolah dasar yang baru pertama kali mendengar cerita anak-anak.

" Ayolah, ini waktu yang tidak menyenangkan untuk mendongeng." Rengekku.

" Mereka melakukan strategi yng cukup matang, mereka akan masuk ke dalam sela-sela lubang di tubuh gajah seperti lubang belalai dan telinga mereka, lalu menggigit mereka dari dalam, secara bersamaan. Esok harinya mereka menantang para gajah untuk bertarung, lalu mereka menjalankan strategi ini. mereka mulai merayap ketubuh gajah-gajah tersebut dan mulai masuk ke dalam lubang-lubang telingan mereka dan hidung mereka secara bersamaan, lalu secara serentak mereka menggigit bagian dalam tubuh-tubuh tersebut yang lembut dan apa yang terjadi dengan para Gajah tersebut? Mereka menangis seharian karena kesakitan, keesokan harinya para gajah mengaku kalah dan mengganti seluruh ladang tersebut dengan jagung lain yang berlimpah, bisa kau ambil pelajaran penting dari dongeng anak-anak ini Sil?" Tanya Belma setelah bercerita panjang lebar.

" Semut-semut itu licik?" tebakku tidak yakin.

" Yup, tapi kurang tepat. Mereka bekerjasama, mereka punya massa, mereka punya orang-orang, dan mereka saling bekerja sama. Jika kita analogikan, kita ini sama seperti semut-semut itu, apa yang sedang kita lakukan sekarang adalah sebuah upaya sedang menghimpun massa, kita tidak melakukannya sendiri-sendiri, kita akan bersama-sama. Dengan data yang kalian miliki, kita bisa menggunakan itu untuk mengajak mereka bersama berperang, bersama menggigit belalai Libirum dan telinga mereka, dengan begitu mereka akan memberikan jagung-jagung mereka. Ingatlah, kau tidak sendiri Silas, kau ada kami, kau ada mereka yang tengah menunggu datamu diluar sana, dengan bekerjasama tak peduli betapa kecilnya kita, raksasa sebesar Agni dapat dengan mudah kita hancurkan. Percayalah. Percayalah pada kawanan semut dan strategi" Belma menatapku dengan penuh yakin.

Ada sepercik Ilham yang membuatku tersadar. Analogi Belma terdegar masuk akal sekarang. Kita tidak mampu melakukan apapun kecuali jika bekerja sama, maka semua akan bisa diselamatkan. Semua bisa diruntuhkan oleh kawanan Semut yang saling bekerjasama. Aku tidak tahu harus berekspresi apa, namun saat dia menyungging sedikit senyum keyakinan sebelum menghampiri Vale mencoba membantunya, aku tahu dia begitu menaruh kepercayaan kepadaku. Betapa kejamnya aku jika menyerah begitu saja, hanya karena sedikit tekanan dan kejar-kejaran ini. Kami sudah sejauh ini dan sangat pecundang jika aku memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ini dan menyerah. Memang rasanya menyenangkan hidup di dalam gedung fasilitas tersebut. Namun, itu bukan diriku. Hidup sebagai orang lain itu sama saja membunuh diriku sendiri. Jika saja Belma tidak muncul malam itu dan mengembalikan memoriku, mungkin aku akan terus menjadi boneka karakter demi menjalankan sistem zalim pemerintahan Agni. Mungkin, untuk inilah aku hidup. Untuk inilah Aku harus berjuang untuk mengembalikan dunia pada keadaan yang semestinya.

Aku kembali menatap Belma yang masih berkutat dengan kunci inggris ditangannya dari tempatku duduk. Jika seandainya dia bisa membaca hatiku sekarang, dia akan senang karena berhasil mengembalikanku dari jurang keputus asaan.

"Bravo! Saatnya memulai transisi." Mesin itu tiba-tiba berdengung cukup keras bersamaan pula dengan Vale yang berteriak bahagia, setelah seharian menunggu si ahli mesin itu mengotak-atik mesin, benda itu akhirnya menyala. Merasa tertarik aku lalu menghampiri mereka.

" Halo, Halo disini pos New Land, meminta konfirmasi jika terhubung ulang." Ujar Vale melalui microfon yang yang tertancap di sana

Hening sesaat, bersamaan pula dengan suara gemersak yang muncul. Hingga kemudian terdengar suara lain yang berinterferensi dengan gemersak radio tersebut. Suara itu semakin lama semakin jelas. Vale terus berusaha menyesuaikan transmisi agar komunikasi mereka lancar hingga kemudian dia berhenti memutar tombol frekuensi dan sebuah suara yang benar-benar bening muncul.

" Konfirmasi, disini sisa-sisa pos Librium telah terhubung"

Mata Vale membulat, dia kemudian menatap kami dengan sedikit senyuman.

Matahari di ujung barat sudah sepenuhnya terlelap, Agni yang di batasi dinding besar mulai menunjukkan rona keemasan dan kerlipan cahayanya. Saat negeri besar itu mulai menampakkan kemegahannya. Ada semangat lain yang terpercik di dalam hatiku, mungkin juga Belma dan Vale. Mulai malam itu, kerlipan bintang seakan memberitakan kabar dari langit, bahwa akan ada esok yang baru bagi Ursulanda.

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang