Catatan Penulis ( Anna H. )

44 3 0
                                        

Salam pembaca

Mungkin, ini adalah kalimat penutup sekaligus klarifikasi. Bahwa hak sepenuhnya dari karya ini adalah milik si penulis naskah asli buku ini, yang telah berpulang 2 tahun lalu di kampung asal tempat tinggalnya. Tanah tinggi di Eks Region Timur. Saya memakai seluruh hasil penjualan buku ini untuk membangun Museum Sejarah lama dan Revolusi Agni di Tanah Merdeka selatan.

Sedikit cerita, Si Penulis naskah yang asli tidak pernah menunjukkan ceritanya kepada siapapun. Semenjak aku hidup bersama beliau, tidak pernah ada yang menyangka - bahkan wanita paling dekat dengannya, yang merupakan ibu saya - tahu bahwa beliau menulis catatan perjalanan hidupnya selama ini. Orang-orang-termasuk saya sebagai anaknya-hanya mengenal beliau sebagai Petani kentang yang murah senyum dan baik sesama tetangga.

Dahulu, aku tidak menyadari penuh bahwa seseorang yang pernah datang memberi kejutan dengan kapal mewahnya saat umurku 6 tahun dulu itu adalah Tuan Vale Abraham, pemilik perusahaan multinasional Argarasa Refinery yang tersebar hampir di semenanjung Eropa baru dan seluruh kawasan Asia pasifik.

Orang paling kaya nomor 23 di dunia menurut majalah Forbes terbaru ini, punya hubungan yang erat dengan Ayahku, Silas. Saya berkesempatan untuk mengunjungi dan mewawancarai beliau sebelum menulis ulang naskah milik Ayah saya ini. Untuk melihat kejadian 20 tahun lalu dari perspektif lain. Perebutan Librium yang dalam buku-buku Sejarah disebut Pertempuran milisi Agni.

Sejarah mengatakan, bahwa Jenderal Herman yang kemudian jadi Presiden serikat Indonesia baru yang pertama. Adalah orang yang pertama kali menyatakan kemerdekaan atas keberhasilan Revolusi. Mereka menyebarkan berita itu ke seluruh dunia melalui berita-berita radio dan TV yang mereka bajak. Dunia menyambut keberhasilan milisi Agni sebagai ancaman dan ketakutan. Ini menimbulkan gerakan perang sipil yang hampir serentak terjadi di negara-negara yang bernasib sama seperti Agni dulu.

Satu tindakan kecil, lalu merambat semakin besar. Itu adalah masa-masa Revolusi politik yang kritis lagi masif. Kini dunia sudah kembali damai dan tenang. Perang sudah berakhir, dan Demokrasi baru ber reinkarnasi kembali.

Aku menemukan banyak sekali sumber data tambahan, namun dirasa tidak semuanya perlu diceritakan di naskah ini. Lagi pula, yang aku butuhkan adalah catatan-catatan mengenai Ayahku, yang dalam sejarah di ceritakan sebagai Si kurir dan sahabatnya. Tanpa pernah menceritakan siapa orang penting tersebut.

Aku bersyukur, setelah bertahun-tahun menyelesaikan studi. Buku yang awalnya ini merupakan skripsi studi undergraduate program ku di Jurusan Studi Sejarah pascabencana di almamater tercintaku Universitas Tanah Merdeka. Akhirnya ini berhasil menjadi sebuah karya memoar yang saya harap, bisa menambah pengetahuan akademik, atau untik mereka yang haus akan informasi sejarah.

Untuk semua pihak ysng telah menbantu penyusunan buku ini. Saya tidak bisa mengucapkan satu persatu, namun tidak bisa saya pungkiri bahwa saya sangat berterima kasih terhadap dedikasi dan waktu lusng kalian untuk membantu saya dalam riset sejarah ini. Saya yakin, Ayah saya di atas sana sedang tersenyum bahagia karena bantuan dan ulur tangan kalian.

Salam

Semoga kedamaian dan ketentraman selalu menemukan tempatnya di dunia ini.

Anna Hanzen
Tanah Tinggi, 12 Maret 2197 M

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang