[Bagian 7 : Pelarian ]

21 0 0
                                        

" Oh tidak jangan tokoku..." Pria ini menuju ke layar komputer sentuh kuno yang terpasang diatas meja selain meja perkakas, melalui kamera cctv nampak satu unit pencari khusus sudah menjebol satu sisi toko dan menewaskan semua pria berotot dengan pistol plasma.

"Mereka akan menemukan kita, ayo ikut aku" Pria itu lalu membalik meja perkakas dan menyikap karpet lusuh yang penuh dengan debu, dia menyentuh beberapa ttik dan tiba-tiba muncul sebuah pintu yang nampaknya seperti lorong evakuasi, cerdas sekali orang ini memakai reflektor ilusi untuk mengelabuhi. Dia menyuruh kami untuk turun, bersamaan denga itu pula pistol-pistol mulai terdengar saling memuntahkan energi.

Kami terus menerus menuju lorong tak berdasar ini, sampai akhirnya kami menyentuh lapisan sedikit berair dengan bau jamur dan sesuatu yang menjijikan bercampur dan menusuk hidung kami, dalam kondisi gelap total ini kami tidak menemukan apapun kecuali bebauan aneh ini, aku berharap ada cahaya yang muncul dan benar saja itu terkabul. Pria ini ternyata menemukan tuas saklar lampu dan lorong panjang berlumut di depan kami mulai disinari oleh cahaya lampu halogen.

" Aku sudah lama tidak memakai jalur ini, ini jalur rahasia untuk menyeludupkan beberapa benda-benda ilegal serta gudang persenjataan." Ucapnya sambil memandu kami melewati lorong panjang ini.

"Gudang persenjataan?" ucap Belma dengan terkejut, aku juga agak terkejut dengan hal ini.

" Lima tahun lalu, aku merupakan anggota dari Markas komando utama gerakan pemberontak. Sebelum DFA menyerang kami, kamu melakukan antisipasi dengan menyimpan beberapa senjata ke lokasi-lokasi rahasia kami, untuk memulai kembali Revolusi jika seandainya ada serangan kembali, ada juga perangkat penyadap komunikasi serta beberapa Spio-Drone yang kami tempelkan di tubuh lalat bionik. Beberapa perangkat itu sudah tidak pernah dipakai, namun sangat efisien. Sisa-sisa dari perang teluk utara dan pasifik."

Aku dan Belma masih belum mampu menerima ini, markas rahasia mereka sudah dihancurkan dan aku baru saja tahu jika masih ada yang selamat. Dia menundukkan kepala dan mulai bercerita kembali.

" ...Aku pikir, hanya aku yang selamat saat penyerangan lima tahun lalu, berada dalam kesendirian membuatku nyaris melupakan agenda Revolusi. Membuatku berhenti dan hidup penuh kepura-puraan dengan membangun ulang tokoku yang hancur. Ternyata, masih ada yang lain, aku pikir kalian datang dari pos yang lain, kalian kesini karena suatu tujuan bukan?" Pria itu menatap kami berdua.

" Tujuan kami sebenarnya hanya untuk mencari baterai cadangan untuk mikrokomputer, tempat ini tak ada dalam agenda kami." Ucap Belma jujur.

" Mungkin, Tuhan memberkati kita, Revolusi akan terjadi, dan kita bisa mengkudeta seluruh Librium tanpa terkecuali." Dia menjawab kalimat Belma dengan sedikit semangat.

" Oh ya, siapa namamu kawan?" Tanyaku.

" Vale, tapi orang biasa memanggilku Hamie, aku tidak suka panggilan itu, itu panggilan margaku, nama asliku Vale. Dan kau?" tanyanya.

" Aku Silas, dan itu nama panggilanku juga." Jawabku.

" Aku Belma, itu juga nama panggilanku, salam kenal." Kami saling bersalaman seperti segerombolan anak yang baru saja berkenalan saat masuk sekolah menengah atas. Berbicara tentang anak sekolah Tiba-tiba sekilas aku teringat dengan Arvin, dimana dia sekarang? Mengapa tidak ada kabar apapun tentangnya?

" Arvin, Belma bagaimana dengan Arvin?"

" Dia akan dijemput sore ini, akan ada drama peledakkan ruangan kamarmu, sebagai penghapusan bukti, oh tidak! kita bisa kehilangan dia dan potongan terakhir dari data terenkripsi, jika Gardy mendapatkannya duluan semua rencana kita bisa gagal." Belma baru menyadari hal ini.

Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang