Pagi yang indah. Induk burung pun mulai mengumpulkan makanan untuk anak-anaknya. Terbang ke sana ke mari untuk anaknya. Terkadang aku iri dengan anak-anak burung tersebut. Mereka mempunyai sebuah 'rumah' yang indah, sementara diriku? Mungkin terlihat melankolis namun itulah yang kurasakan. Kecemburuanku pada anak burung. Lucu tapi itulah kenyataan yang memiriskan.
Aku menghela nafas berat. Entah sudah sejauh mana jalan yang kulalui, begitu pun dengan pikiranku. Entah mengapa setiap langkahku terasa berat. Beban ini bagiku terasa sangat berat dan aku pun tak tahu sampai berapa lama lagi beban ini kupikul. Hahaha. Aku merasa frustrasi menghadapinya. Dan kali ini aku butuh sebuah tangan.
"Lo kemana?" aku menghentikan langkahku. Aku tersenyum kecut tanpa mau melihat pemilik suara itu.
Keheningan menyelimuti kami. "Gue tanya sekali lagi, lo kemana hah?!" tanyanya lagi dengan suara yang meninggi.
"Kakak gak perlu tahu," jawabku pada akhirnya. Aku tahu bahwa jawabanku akan menimbulkan suatu masalah yang bisa dikatakan besar tetapi saat ini aku terlalu malas meladeninya.
"Lo kenapa?" tanyanya, namun kini dengan suara yang lembut dan membuatku melihat padanya.
Aku terpana dengan pancaran kedua bola matanya. Aku seakan tertarik pada pusaran kehangatan. Entahlah aku bingung dengan semuanya. Aku merasa linglung. Tiba-tiba gravitasi menarikku pada kehangatan itu. "Gak perlu ditahan. Nangis aja sepuasnya," ujarnya lembut desertai dekapan yang menghangat di sekujur tubuhku.
Entah sudah sejak kapan bulir kesedihan pun mematuhi ucapannya. Semuanya terasa membingungkan sekaligus menenangkan. Aku pun mulai mengikuti di setiap alirannya hingga aku pun menyadari suatu hal. Aku tidak sendiri.
Selama beberapa menit hanyalah suara isak tangisku yang menemani. Dia hanya terdiam seakan tahu bahwa yang kubutuhkan adalah melampiaskan emosiku. Tak berapa lama aku pun mulai bisa mengendalikan emosiku. Aku memberi jarak diantara kita. "Terima kasih kak," ujarku tulus namun aku tak berani menatap kedua bolamatanya.
"Gue tahu dada bidang gue menggoda iman sampai lo aja gak mau ngalihin mata lo dari dada gue," ujarnya yang langsung membuatku menatapnya.
Jujur saja aku merasa gugup saat tatapan kita beradu. "Nah gitu dong, seharusnya lo natap orang yang ngajakin lo ngomong bukan dadanya. Gue tahu dada bidang gue menggoda iman lo tapi nanti aja pas sudah sah, lo bisa natapin dada bidang gue sepuas lo," ujarnya yang membuatku terbelalak kaget.
"Apaan sih kak." aku yakin saat ini pipiku memerah. Aku pun menunduk untuk menutupinya.
"Gak usah ditutupi, gue udah ngeliat kok," ujarnya yang semakin membuatku malu.
"Kak Ar kok bisa di sini?" tanyaku berusaha mengalihkan topik.
"Lo nanya ke dada bidang gue?" tanyanya balik yang mau tak mau membuatku menatapnya.
"Kok kak Ar bisa ada di sini?" aku mengulangi pertanyaanku tadi.
Dia pun tersenyum lembut. Aku merasa ada yang salah dengan otaknya. "Dimana ada lo berarti di situ pun gue berada," ujarnya telak membuatku bingung.
"Lo kemana?" dia mengulangi pertanyaan tadi saat pertama kita bertemu di tempat ini.
"Gue-" belum sempat aku menjawabnya, dia sudah terlebih dahulu memotongnya. "Lo kabur." Itu bukanlah sebuah pertanyaan namun sebuah pernyataan yang berhasil membuatku tercengang.
"Kok kakak bisa tahu?" tanyaku gugup.
Saat itulah tatapannya berubah tajam dan dingin. Tatapan khas Air Nakhla Rahaja saat memburu mangsanya. "Itu sebabnya gue di sini Aretha Nathania Reinaldy." aku menelan salivaku dengan susah payah.
***
"Jadi sekarang lo tinggal di apartement Afkar?" tanyanya dengan nada dingin.
Sekali lagi aku menelan salivaku dengan susah payah saat menyadari aura dingin yang memancar di sekitarku. "Hehehe iya kak," jawabku dengan senyuman kecil.
"Jadi ceritanya pacar gue selingkuh dengan sahabat gue. Wah itu judul novel yang sangat menarik," ujarnya sarkas.
Mati gue. Bantinku. "Eh bukan gitu kak, kan tadi saya sudah cerita kalau Kak Afkar nolongin saya terus dia juga nawarin bantuan gitu," jelasku.
Dia memicingkan matanya. Menatapku menyelidik. "Tumben banget lo pakai kata 'saya'," ujarnya yang membuatku kesal. Sopan salah, gak sopan tambah salah. Batinku.
"Ishh dasar, gue mah serba salah dimata lo kak," ujarku pelan sembari mengalihkan tatapanku darinya
"Lo memang salah," ujarnya tiba-tiba yang membuatku seketika menatapnya.
Aku mengerutkan dahiku. "Lo memang salah telah membuat gue jatuh ke dalam pesona lo, maka dari itu lo harus tanggung jawab," jelasnya yang langsung membuatku jantungan.
Aku merasa udara di sekitarku menipis hingga aku merasa tak sanggup lagi untuk menghirupnya. Ada apa ini? Aku sendiri tak mengerti dengan yang kurasakan. Mengapa jantung berdetak sekencang ini? Padahal aku tak mempunyai riwayat penyakit jantung.
"Ck gak usah dipikirin, otak lo gak akan sampai. Mendingan lo ikut gue," ujarnya sembari mengacak-ngacak rambutku dan membuatku langsung memanyunkan bibir karena kesal.
"Ishh jangan diacak-acak kak. Emangnya mau kemana?" tanyaku. Dia hanya tersenyum misterius lalu menarikku untuk mengikutinya.
"Liat aja nanti," ujarnya dengan senyuman misteriusnya.
Aku mengerutkan dahi. "Oh iya kakak bolos yah?" tanyaku. "Lo sendiri?" tanyanya balik yang langsung membuatku kicep.
Dan selanjutnya dalam perjalanan kami hanya hening yang menyelimuti. Kurasa kita sibuk dengan pemikiran sendiri tanpa ada yang mau mengawali sebuah perbincangan dan jujur saja suasana ini membuatku canggung. Jantungku pun tak henti-hentinya berdegub kencang apalagi dengan tanganku yang digenggamnya dengan lembut, padahal biasanya dia akan menarik tanganku dengan kencang hingga meninggalkan bekas merah. Namun lihatlah sekarang, dia menggenggam tanganku dengan lembut seakan-akan tanganku adalah barang berharga yang mudah pecah sehingga dia menjaganya dengan sangat hati-hati. Ishh apasih yang kupikirkan. Batinku
"Kita sudah sampai," ujarnya tiba-tiba yang membuatku tersadar dari lamunanku. Aku melihat keadaan di sekitarku. Aku tersenyum saat melihat anak-anak yang bermain dengan ceria tanpa beban yang memikul diri mereka. Sesekali aku tertawa geli saat melihat tingkah konyol mereka.
"Ayo masuk," ajaknya yang kurespon dengan anggukan serta senyuman yang terpatri di bibirku. Kita pun masuk ke dalam sana, yang di depan halamannya terdapat papan yang bertuliskan 'Panti Asuhan Harapan'. Jujur aku senang saat melihat ekspresi mereka yang terkejut dengan kehadiran kami. Bahkan tak butuh waktu untukku jatuh cinta pada mereka.
"Hei gadis manis siapa namamu?" tanyaku saat melihat seorang gadis kecil di hadapan kami.
"Aku pika kak," jawabnya dengan malu-malu. "Pika?" tanyaku memastikan. Dia menggeleng dengan wajah lucunya. "Bukan kak, api Pika." aku tersenyum saat mengetahui maksudnya. "Fika?" tanyaku lagi. Dia mengangguk senang dan aku pun ikut senang melihatnya.
"Fika, Bunda ada di dalam?" tanya Kak Ar sembari mensejajarkan badannya dengan Fika.
"Wah Kak Ar," teriak Fika sembari memeluk Kak Ar dengan erat. "Kak Ar kok lama gak kecini, pika angen tahu," ujarnya dengan wajah cemberutnya. "Kan sekarang kakak di sini. Oh iya Bunda ada di dalam?"
"Ada kok kak, ayo cini," ujarnya sembari menarik kami masuk ke dalam. Diam-diam aku tersenyum saat melihat interaksi mereka yang seperti kakak adik dan pikiranku pun berkelana. Aku berpikir jika itu adalah Kak Antha dan juga aku, sungguh senang rasanya jika semua itu nyata. Tetapi pada nyatanya tak akan pernah seperti itu.
####
Ehem ehem ada apa dengan mereka? Tim AfkarAretha atau Tim ArAretha ?
Wah sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Maaf dan terima kasih untuk kalian yang setia menunggu ceritaku.
Jangan lupa Vote + comment
See u next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Bad Boy#Wattys2018
Teen Fiction"Mulai hari ini lu harus jadi pacar gue dan jangan sekali-kali ngebantah gue!" - Air Nakhla Rahaja "Hidup gue berubah sejak hari itu." - Aretha Nathania Reinaldy "Apa gue harus ikhlasin dia?" - Afkar Reymon Fidelyo ---------------------- Bagaimana j...
