BAB 20

4.3K 193 0
                                        

Aku berjalan dengan hati-hati saat menuruni tangga dan tak lupa aku menoleh kanan kiri untuk memastikan kondisi saat ini aman. Bahkan dari sampai hati-hatinya aku berjinjin agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan singa tidur eh maksudku Kak Antha.

Aku bernafas lega saat berada di halaman. Sejauh ini keadaanku aman tetapi aku tak yakin nanti. Yaudahlah aku pun memutuskan untuk berjalan ke lapangan yang berada di kompleks perumahan ini.

Saat aku telah sampai di sana aku melihat sudah banyak orang. Mataku mencari sesosok orang yang ku cari dan yang membuatku harus berada di tempat ini.

"Hey lu pasti nyari cowok lu itu kan." Ujar seseorang di belakangku sambil menepuk pundakku tiba-tiba yang membuatku terkaget.

Aku menoleh pada orang itu. Kak Afkar menatapku dengan senyuman manisnya. "Emm Kak Ar mana?" Tanyaku.

"Sini gue tunjukin. Lagian gue emang dikasih tugas sama cowok lu itu untuk nganterin lu dengan selamat ke dia nih. Cowok lu bossy amat yeh padahal kan dia pacar lu kenapa gak dia aja yang nyusul lu." Ujar Kak Afkar dan aku mendengar nada jengkel yang terselip.

Aku terkekeh saat mendengar ucapannya itu. Dia menuntunku menuju tempat Kak Ar berada. Dan sampailah kami di tempat itu. Aku melihat Kak Ar di sana sedang duduk santai dan jangan lupa teman-temannya juga berada di sana.

Sebagian besar aku tak mengenali mereka tetapi yang jelas mereka semua tuh kakak kelasku. Dan benar saja aku cewek sendiri di sana dan inilah yang kutakuti. Tak ada yang bisa ku ajak bicara selama pertandingan berlangsung karena aku tak mengenal mereka yaudahlah pasrah saja.

"Ar pacar lu nih. Udah gue anterin sampe selamat kan." Ujar Kak Afkar.

Kak Ar kini menatapku. Dia menarik tanganku agar lebih dekat dengannya.

"Ehem kayaknya ada yang disamperin ceweknya nih. Nyamuk dah kita." Celutuk salah satu temannya.

"Iya tuh nyamuk di sini kok banyak yeh." Akhirnya mereka semua pun ikut-ikutan meledek.

Entah itu dengan 'cieee' yang di tambahi dengan siulan bahkan ada diantara mereka yang sengaja menepuk tangannya seolah-seolah sedang menangkap nyamuk.

Sementara aku hanya menunduk malu saat mendengar reaksi mereka semua.

"Bacot lu pada!" Ujar Kak Ar dingin dan jangan lupa tatapan tajamnya yang mampu membuat teman-temannya itu jadi bungkam.

"Eh gue ngelawatin apaan nih." Ujar seseorang yang tiba-tiba saja ikut nimbrung.

"Yaelah lu Ad darimana aja lu? Bentar lagi mulai noh." Tanya Kak Afkar pada cowok itu.

Sementara itu Kak Adry hanya cengengesan saat mendengar pertanyaan dari sohibnya itu. "Sorry tadi gue kejebak macet. Gue bingung dah napa Jakarta makin lama makin padet aja macet dimana-mana palingan juga pas lebaran doang nih kota sepi ck ck ck prihatin dah gue." Ujar Kak Adry mendramatisir.

Aku melihat semua temannya itu menatap malas padanya. "Lebay amat lu kalau mau ngutarain pendapat tuh ke DPRD." Timpal Kak Afkar.

"Yaelah percuma gue ngoceh gaje di depan DPRD dijamin gak bakal di denger dah." Jawab Kak Adry dengan menunjukkan tampang sok lesunya.

"Elah bacot lu Ad. Sono lu siap-siap bentar lagi dimulai noh." Ujar Kak Afkar menghentikan drama yang diciptain sohibnya itu.

"Tuh anak udah dateng." Ujar Kak Ar tiba-tiba yang membuat semuanya terdiam dan mengikuti arah tatapannya.

Aku pun ikut mengikuti arah tatapannya itu. Aku terkejut saat melihat sesosok cowok di sana. Tubuhku seketika menegang. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.

Aku melihat dia menatapku dengan tajam. Seketika aku menunduk untuk menghidari tatapannya itu.

Aku merasakan ada yang menggenggam tanganku dengan erat seolah memberiku kekuatan untuk menghadapi situasi ini.

Aku mendongak untuk melihat wajah orang itu. Aku tersenyum tipis saat mengetahui Kak Ar sedang menatapku dengan lembut entah apa yang ada dipikirannya saat ini hingga dia menatpku begitu.

Kak Ar memutuskan kontak mata kami lalu tatapannya mengarah pada orang itu.

"Akhirnya lu datang juga Anthariksa Reinaldy."  Ujar Kak Ar tak lupa dengan seringai di bibirnya.

Kak Antha pun menyeringai kemudian tatapannya menajam saat melihat tangan kami yang bertautan.

"Ck ck ck ternyata lu kagak punya aturan. Anak orang seenaknya aja lu ajak ke sini cih." Ujar Kak Antha dan aku mengetahui maksud ucapannya itu.

"Bacot lu! Gimana kalau kita buat kesepakatan?" Tawar Kak Ar.

Dia berjalan mendekati Kak Antha dan otomatis aku juga ikut dengannya.

Kini kita berada sangat dekat dan posisiku saat ini berada di samping Kak Ar dengan Kak Antha yang berada di hadapan kami.

"Kesepakatan apa?" Tanya Kak Antha menanggapi ucapan Kak Ar tadi.

Aku melihat Kak Ar menyeringai. "Kalau gue menang dalam pertandingan ini gue punya hak sepenuhnya atas cewek yang ada di samping gue."

Bumm aku menegang saat mendengar ucapan Kak Ar. Aku menatapnya dengan raut tak percaya.

Kenapa dia melakukan ini. Aku pun menunduk saat merasakan dentuman yang sangat menyakitkan. Aku menghela nafas berat untuk meredakan dentuman menyakitkan itu.

"Ok deal gue setuju dan kalau gue yang menang lu yang harus ngelerain tuh cewek." Ujar Kak Antha menyetujui kesepakatan gila itu.

Apa apan ini mengapa aku dijadikan barang taruhan. Apa mereka pikir aku barang yang seenaknya saja bisa diapain.

Aku berusuha menahan air mataku yang sudah mulai penuh di pelupuk mataku. Aku berusaha menahannya agar tidak jatuh.

Mengapa sesakit ini jika aku ikut dalam permainan yang mereka ciptakan. Sampai kapan mereka akan membuatku seperti ini.

###

Tbc

Minal Aidzin Wal Faidzin

Mohon maaf lahir dan batin

Sorry kalau telat up yeh wkwkwwk

Jangan lupa vote and comment

Satu lagi saya sebagai author minta maaf jika ada salah

Jangan bosen bosen yah baca cerita saya walaupun saya akui cerita saya gaje bgt hehehehehe

My Perfect Bad Boy#Wattys2018 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang