Selamat membaca 💕
|
|
|
Warning!!!
Typo bertebaran ⚠⚠⚠
• • •
Kaiya yang sejak tadi hanya duduk menunggu penampilan dari Dean menjadi bosan sendiri.
Dean sudah berada dibelakang panggung sejak tadi. Dia mendapatkan giliran maju yang terakhir.
Kaiya menikmati pertunjukan yang berlangsung. Apalagi melihat beberapa orang yang sudah bergantian menampilkan pertunjukan mereka di atas panggung. Para juri yang dilihatnya pun menikmati pertunjukan walaupun ada beberapa juri yang belum menikmati pertunjukan yang disuguhkan.
Kaiya jadi menggigiti kukunya, dirinya terlalu gugup. Padahal bukan dirinya yang ikut lomba kenapa jadi dia yang gugup seperti ini?
Kaiya menoleh kesekitarnya. Mereka datang bersama rombongan, membuat keriuhan di dalam gedung ini semakin terasa. Sorak-sorai dukungan menggema tak mau mengalah diantara mereka.
Apa Dean hanya didukung oleh dirinya sendiri disini?
Bukankah seharusnya ada Lano dan Dion juga disini?
Kemana mereka? Kaiya harap mereka juga datang mendukung Dean, sahabat mereka.
Kaiya menatap kembali panggung di depannya. Walaupun dirinya tidak duduk di bagian depan setidaknya dari tempatnya ini masih terlihat dengan jelas siapa saja yang tampil.
Takut bosan sendiri disini, Kaiya mengambil ponsel genggamnya yang berada di tas kecil yang dia bawa.
Tangan Kaiya awalnya ingin menghubungi Kiana. Tapi baru saja tangannya hendak menekan kontak Kiana, tangannya berhenti. Kaiya jadi berpikir, jika hanya dia disini yang menemani Dean bukannya berarti Dean tidak ingin orang yang mengenalnya tahu jika dia sedang ikut lomba saat ini?
Kaiya langsung beralih untuk menghubungi Alika saja.
"Ada apa, Ai?"
Suara lembut sahabatnya itu membuat Kaiya malah jadi rindu. Mereka belum sempat bertemu. Apalagi dalam jarak yang cukup jauh sekarang ini.
"Nggak ada, aku cuma mau telpon kamu aja."
"Idih kok aku jadi geli sendiri kalo denger kamu yang ngomong gitu ya."
Cekikikan diseberang sana membuat Kaiya mengerucutkan bibirnya sebal. Alika selalu saja dapat membuat moodnya hancur seketika.
"Kita udah jauh gini dan belum bisa ketemu, kok, tambah ngeselin ya, Al?"
"Baperan banget sih kamu sekarang."
"Biarin."
"Eh tapi kok rame banget disana, Ai? Kamu lagi dimana sih??"
"Oh ini, aku lagi nemenin temen aku yang lagi lomba."
"Cowok apa cewek??"
"Ehmm itu.. aduh udah dulu ya, Al. Suara kamu putus-putus nih. Sinyalnya jelek."
Kaiya dengan cepat menutup panggilannya. Dia yakin Alika akan marah padanya nanti karena mematikan telepon seenaknya.
Ugh! Tapi Kaiya jadi bisa bernapas lega karena bisa langsung mengakhiri pembicaraan mereka jika tidak habis lah Kaiya diinterogasi oleh Alika.
Alika itu terlalu kepo. Dia nggak seperti kebanyakan orang yang akan menanyakan secara umum saja. Alika akan bertanya berbagai macam hingga dia puas.
Bahu Kaiya ditepuk dari arah belakang membuat Kaiya mau tidak mau melihat siapa yang melakukannya.
"Oh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
IDOL [TAMAT]
Teen Fiction[Selesai] Menggapai hal yang sejak dulu ia perjuangkan dengan bantahan, larangan dari sang ayah tak membuat seorang Dean menyerah akan mimpinya menjadi penari yang disukai banyak orang. Jalan yang tak mulus karena tak ada restu dari sang ayah, tetap...
![IDOL [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/174006623-64-k858434.jpg)