Part 7

171 36 10
                                        

Selamat membaca 💕



"Mengganggumu, kini menjadi prioritas."

Dean Stya Lintang

• • •

Pagi ini, Dean terlihat sangat bersemangat.

Tidak seperti biasanya.

Dia datang sebelum bel berbunyi. Bahkan, kali ini Dean datang bersama Lano yang notabene murid yang memang selalu datang pagi.

"Tumben banget Lo jam segini mau dateng ke sekolah? Pake segala jemput gue? Lagi sakit?"

Lano yang baru saja turun dari mobil memperhatikan Dean dari atas sampai bawah.

Lano yakin pasti Dean sedang merencanakan sesuatu. Tapi entah itu apa dan untuk siapa.

"Sehat wal afiat gue. Jangan curigaan sama gue kenapa? Udah untung gue mau jemput Lo." Ucap Dean santai sambil bersiul.

Dean tak mempedulikan tatapan curiga dari sahabatnya.

Bodo amat.

"Gue juga nggak ada minta di jemput sama lo. Gue bisa berangkat sendiri." Jawaban sewot dari Lano membuat Dean tertawa.

Lano langsung pergi dari hadapan Dean. Meninggalkan sahabatnya yang saat ini masih tertawa diparkiran sekolah.

• • •

Bibir Dean terangkat saat dilihat dari kejauhan, targetnya yang bernama Kaiya, anak baru di sekolahnya,  kini tengah asik bercengkrama dengan sahabatnya.

Saat melihat sahabat dari Kaiya pergi, dengan cepat kakinya melangkah menuju kelas dimana dia dipindahkan.

Mengingat kelas pindahan, sebenarnya nama Dean tak tercantum dalam daftar murid yang pindah kelas di Mading.

Tapi, saat Dion memberitahunya bahwa anak baru itu tak menjadi siswa pindahan kelas semester ini. Membuat Dean dengan cepat mengajukan diri atau lebih tepatnya memaksa para guru untuk mengiyakan permintaan dirinya, jika dia juga harus masuk dalam daftar siswa pindahan kelas semester ini yang tentunya kelas mana yang akan Dean masuki harus sesuai dengan keinginannya.

Dean dengan terburu-buru memasuki ruang guru. Karena kegaduhan yang diciptakannya saat memasuki ruang guru membuat seluruh mata yang ada di ruangan itu sepersekian detik menoleh melihat siapa gerangan yang masuk ke ruang guru dengan hebohnya.

Saat melihat Dean lah yang membuat keributan, para guru itu tak perduli dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.

Dengan napas yang tak beraturan Dean menghampiri Bu Sekar.

"Bu... Saya... Mau jadi murid yang dipindah kelas semester ini."

Bu Sekar hanya memperhatikan Dean dari atas sampai bawah, Bu Sekar terlihat mengernyitkan dahinya.

Tentu saja tak semudah itu, jika Dean ingin pindah kelas, walaupun itu hanya untuk sementara. Yang dihadapi Dean bukan pak Usman, guru yang baru mengabdi di sekolah ini masih bisa dihitung jari. Bahkan pak Usman mengajar disini bersamaan dengan Dean yang masuk di sekolah ini. Akan terasa mudah saja bagi Dean kalau berhadapan dengan pak Usman.

Tapi ini bu Sekar, guru yang telah mengabdi di sekolah Dream dalam kurun waktu yang lumayan lama.

Membuat perjanjian tertulis dengan Bu Sekar adalah jalan terakhir agar Dean bisa pindah kelas.

IDOL [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang