Selamat membaca 💕💕
|
|
|
Warning typo bertebaran ⚠⚠⚠
•••
Hari perpisahan.
Jantung Kaiya seakan berpacu cepat. Ada apa dengannya hari ini? Bukankah, seharusnya dia biasa saja?
Baju yang sedang dipakainya beberapa kali dibetulkan, ditepuk perlahan takut-takut ada yang mengotorinya. Duduk pun Kaiya tidak bisa seperti biasanya, takut kusut.
Kaiya baru saja tiba di gerbang utama sekolahnya. Pagi ini, dirinya harus berdandan serapi mungkin untuk menerima tanda kelulusan dari sekolahnya. Bersama keluarga kecilnya, ayah, ibu, mas Alli, mbak Alya, dan juga Mila ikut hadir bersamaan denganya.
Jika dilihat, sedikit terlihat berlebihan sekali sekolahnya ini. Hanya perpisahan sekolah menengah saja, seperti telah lulus dari kuliah.
Tapi, jika di pikir-pikir, bagus juga, setidaknya sekolahnya ini berbeda dengan sekolah lainnya.
Kaiya menarik napas dan membuangnya dengan kasar.
Mbak Alya yang disampingnya sedikit menyenggol lengannya. "Ada apa?"
Kaiya menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa, mbak. Hanya sedikit gugup, aku ditunjuk menjadi perwakilan murid lulusan tahun ini untuk berbicara diatas panggung nanti."
"Santai, Ai. Nanti kalo kamu tegang gini malah jadi lupa nanti mau ngomong apa. Anggep aja semua orang yang ada disana nanti orang-orang yang kamu suka." Alya mengusap pelan lengan Kaiya, mencoba menenangkan.
Kaiya sedikit tenang saat mendengar saran dari Alya, kakak iparnya ini memang yang terbaik. Selalu bisa menenangkan Kaiya kapanpun itu.
Mereka mulai masuk dan duduk di dalam ruangan yang telah disediakan. Mereka duduk terpisah, antara keluarga dan murid Dream.
Dapat dilihat Kiana sudah datang lebih awal dan melambaikan tangan kearahnya, membuat dirinya bergegas menghampiri Kiana.
Baru saja duduk, Kiana langsung menyemprot dirinya dengan kata-kata. Sedikit jengah awalnya, tapi, selanjutnya biasa saja. Memegang seperti itu bukan si Kiana?
"Kamu kemana aja sih? Aku chat daritadi nggak dibales. Berasa artis deh, sok sibuk gitu."
Kaiya diam saja, jika dibalas Kiana pasti akan mengoceh lebih lama.
"Aku kira kamu lama karena dandan, eh, setelah diliat kamu nggak ada yang berubah, cuma gini-gini aja."
Kurang ajar bukan si Kiana? Bukannya memuji penampilannya yang berbeda hari ini malah mencemoohnya. Perasaan tadi kata mbak Alya porsi makeup yang harus dipakainya memang seharusnya seperti ini saja, yang simpel tapi sedikit terlihat elegan.
"Aah.. sekarang kamu dalam mode bisu ya? Oke, aku nggak bakal ngasih tau kamu soal Dean."
Mendengar itu Kaiya langsung menatap Kiana dengan tatapan membutuhkan jawaban.
"apa? Diem aja terus, nggak usah peduliin aku. Toh, beritanya nggak penting-penting banget untuk kamu denger." Ujar Kiana acuh. Biarkan saja Kaiya yang merengek padanya nanti.
Kaiya menggoyangkan tangan Kiana pelan, berpikir cara itu bisa meluluhkan Kiana. "Kiana.. kok hari ini kamu cantik banget ya. Hampir pangling loh aku liatnya tadi."
"Berarti selama kita temenan, kamu pikir aku jelek?! Gitu?!" Balas Kiana tak terima, dahinya sudah berkerut dalam.
Kaiya menggaruk dahinya, salah bicara lagi mulutnya ini. Dipukulnya pelan bibirnya yang tadi asal bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
IDOL [TAMAT]
Genç Kurgu[Selesai] Menggapai hal yang sejak dulu ia perjuangkan dengan bantahan, larangan dari sang ayah tak membuat seorang Dean menyerah akan mimpinya menjadi penari yang disukai banyak orang. Jalan yang tak mulus karena tak ada restu dari sang ayah, tetap...
![IDOL [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/174006623-64-k858434.jpg)