Selamat membaca 💕
|
|
|
"Kai, bentar lagi liburan nih. Nggak ada niatan untuk pergi kemana gitu?"
Kaiya yang sedang asik menggambar di buku sketsa nya berhenti. Berpikir sejenak dengan menaikkan pensil yang sedang dipegangnya.
"Aku sih liat nanti. Kamu tau kan, aku juga kerja sehabis pulang sekolah. Kalo hari libur gitu biasanya aku malah mulai dari pagi." Balasnya pada Kiana yang sedang menompang dagu.
Kiana yang mendengar jawaban Kaiya mendesah lelah. "Libur sebentar memangnya nggak bisa? Bosen aku tu di kota ini terus menerus."
Kaiya tersenyum kecil melihat Kiana yang merengek seperti ini. Kaiya melanjutkan kegiatan yang sempat ia hentikan beberapa saat lalu. "Liat nanti."
"Kamu nggak asik! Aku kan padahal mau ketemu secara langsung sama sahabat kamu, Alika."
"Masa sering chatan sama telponan nggak pernah ketemu?"
"Kai... Mau ya kamu izin untuk libur beberapa hari di tempat kerja kamu.. ya.. ya..."
Kiana rupanya tak kunjung puas dengan hanya mengoceh begitu panjang di telinga Kaiya. Saat ini tangan Kaiya menjadi sasarannya, Kiana menggoyangkan tangannya membuat Kaiya harus berhenti kembali.
"Iya nanti, kalo aku di izinin libur aku kabarin kamu. Jangan berisik lagi bisa? Aku mau ngelanjutin ngegambar soalnya."
"Lanjutin aja." Kaiya mendengkus mendengarnya, tidak tau kah Kiana sudah hampir membuat kesabaran Kaiya habis?
"Tapi inget, nanti langsung ditanya."
"Hm."
Keheningan yang terjadi membuat Kiana menjadi bosan sendiri. Kaiya terlihat sibuk dengan pekerjaan yang dilakukannya.
"Aku ke ruang balet aja ya? Daripada disini dijadiin obat nyamuk."
Tak ada jawaban.
Kiana menggeleng tak percaya saat melihat Kaiya malah mengacuhkannya.
"Kacang lagi murah ya? Bisa-bisanya ngacuhin temen cantiknya ini." Gerutu Kiana yang berlalu pergi meninggalkan Kaiya sendiri di ruang lukis.
Kaiya hanya tersenyum kecil saat melihat sahabatnya itu merajuk dan meninggalkan dirinya sendiri. Tapi, biarlah. Nanti juga baik sendiri.
Kaiya memasang earphone, mendengarkan musik yang sesuai dengan suasana hatinya yang saat ini sedang bahagia.
Tangannya terus bergerak dengan lincahnya. Kakinya diketukkan kecil ke lantai. Bibirnya mulai bersenandung kecil mengikuti lagu yang sedang terputar.
Disaat itu.
Dean datang. Setelah mendengar kalau Kaiya sedang berada di ruang lukis.
Dean terpana saat melihat Kaiya yang tersenyum dengan lepas dengan bergumam mengikuti lagu yang sedang diputarnya.
Dean berjalan mendekat ke arah Kaiya. Tepat dibelakang Kaiya, Dean hanya diam. Memperhatikan apa yang dilakukan Kaiya.
Kaiya yang merasa ada seseorang dibelakangnya mulai menoleh dengan gerakan pelan.
Kursi yang sedang Kaiya duduki mendecit, karena Kaiya yang dengan spontan mendorong pelan kursinya. Kaget akan kehadiran Dean yang telah berada dibelakangnya.
Dean yang melihat itu dengan cepat menahan kursi yang sedang di duduki Kaiya.
"Lo kenapa sih?" Ucap Dean dengan mengernyitkan dahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IDOL [TAMAT]
Teen Fiction[Selesai] Menggapai hal yang sejak dulu ia perjuangkan dengan bantahan, larangan dari sang ayah tak membuat seorang Dean menyerah akan mimpinya menjadi penari yang disukai banyak orang. Jalan yang tak mulus karena tak ada restu dari sang ayah, tetap...
![IDOL [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/174006623-64-k858434.jpg)