*play the song
Naya's Pov
Banyak pasang mata menatap Kiara yang sedang berjalan di samping gue menuju parkiran. Sedangkan yang ditatap sejak tadi hanya menundukkan kepalanya sambil memegang botol air mineral pemberian gue.
Ketika kami sampai di parkiran, tiba-tiba Aris berlari menghampiri.
"Lo gak apa-apa Nay?" tanyanya terlihat cemas.
Gue menatapnya bingung. "Lo kok balik lagi ke sekolah? Bukannya udah cabut ya daritadi?"
"Gue dikasih tahu Will tadi ada Bang Aldo dateng dan ribut sama lo dan Kiara. Kalian gak kenapa-kenapa?"
Gue tersenyum sedikit. "Khawatir?"
"Ye serius, lo gak apa-apa?"
"I'm totally fine, she's fine too," jawab gue sambil menatap ke Kiara.
Kiara tersenyum ke Aris.
"Gak apa-apa kok Ris, tadi Naya yang nolongin gue," sahutnya lembut.
Aris langsung berubah sikap dari yang khawatir jadi malu-malu.
"Oh, ya syukurlah kalo gak apa-apa, hehe," jawabnya salah tingkah ke Kiara.
Gue hanya menggelengkan kepala.
"Yaudah Ris, gue mau anterin Kiara dulu ya pulang."
"Naik apa Nay?"
"Naik mobilnya Kiara."
"Oh oke, kalo ada apa-apa lo telpon gue aja ya. Kiara juga hati-hati ya di jalan," ucap Aris sok manis.
"Iya Ris, terima kasih ya," sahut Kiara.
"Gue cabut dulu ya."
"Oke Nay."
Kami berdua langsung pergi meninggalkan sekolah. Sejak tadi Kiara hanya terdiam dan gue bisa merasakan kalau saat ini dia sedang menatap gue.
Gue pun menoleh. "Kenapa Ki?"
Dia terlihat sedikit kaget. "Gak apa-apa."
"Emm, ini rumah lo ke arah mana ya?"
"Oh iya, di pertigaan depan belok kanan aja Nay terus lurus sampe ketemu dokter umum ambil kiri."
"Okay."
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara radio yang tadi Kiara nyalakan di mobilnya.
"Nay..." panggilnya.
"Ya?"
Tiba-tiba Kiara mendekatkan tubuhnya ke arah gue. Lalu sebelah tangannya memegang kerah seragam gue. Dengan jarak sedekat ini, gue sampai bisa mencium harum rambut panjangnya.
"Kancing seragam lo lepas, nanti gue benerin ya," ucapnya.
Gue yang kesusahan gerak karena tubuhnya yang sangat dekat di bahu hanya bisa menganggukkan kepala.
Kemudian dia memundurkan sedikit wajahnya lalu menatap gue dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Maaf ya udah nyusahin, dan makasih udah nolongin," ucapnya.
"Oh, iya Ki sama-sama. Emmm, ini gue udah belok kiri ke mana lagi?" gue mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu 200 meter lagi belok kiri lagi. Nanti ada gerbang komplek, masuk aja."
"Okay."
Kami pun akhirnya sampai di depan gerbang rumah Kiara. Dia langsung turun lalu membukakannya dan mempersilakan gue untuk masuk ke dalam parkiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIRAETH
RomanceHiraeth: A longing for a home you can't return to, or one that was never yours. Menceritakan sebuah perjalanan menemukan kembali titik balik yang sudah lama Naya lupakan. Proses panjang pencarian sebuah makna dari kata 'rumah' yang sudah tidak bera...
